Search

Memori Kolektif tentang Konflik Poso dan Ambon: Membaca Ulang Peran Jusuf Kalla


Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Pernyataan Jusuf Kalla tentang Ambon dan Poso adalah refleksi historis yang berbasis fakta tragedi kemanusiaan. Politisasi oleh Ade Armando dan Abu Janda tidak menemukan pijakan akademik maupun hukum yang kuat. Justru, pernyataan JK membuka ruang analisis penting tentang bagaimana konflik komunal menjadi pintu masuk radikalisasi dan terorisme di Indonesia.

Dengan korban ribuan jiwa di Ambon dan ratusan di Poso, narasi JK seharusnya dibaca sebagai peringatan agar bangsa tidak melupakan akar radikalisasi. Polemik ini memperlihatkan betapa pentingnya menjaga integritas memori kolektif dari manipulasi politik sesaat, demi memahami evolusi terorisme dan mencegah tragedi serupa di masa depan.

Konflik Ambon (1999–2002) dan Poso (1998–2001) merupakan tragedi komunal terbesar pasca-Reformasi. Pada tahun tersebut, di Ambon/Maluku ada sekitar 5.000 orang tewas, puluhan ribu mengungsi, ribuan rumah dan fasilitas umum hancur. Kota Ambon terbelah secara sektarian, dengan wilayah Islam dan Kristen yang saling menutup diri.

Di Poso, Sulawesi Tengah konflik serupa juga telah mengakibatkan 577 orang tewas, 384 luka-luka, 7.932 rumah hancur, dan 510 fasilitas umum terbakar. Konflik ini berawal dari ketidakadilan politik lokal, lalu berkembang menjadi pertikaian agama.

Kedua konflik ini menjadi lahan subur bagi radikalisasi, rekrutmen militan, dan lahirnya jaringan terorisme transnasional di Indonesia.
Dalam ceramah di Masjid Kampus UGM (Maret 2026), JK menegaskan: Konflik Ambon dan Poso berubah menjadi konflik agama karena kedua pihak menyelewengkan ajaran, menganggap pembunuhan sebagai “syahid” atau “martir.”

Tidak ada ajaran Islam maupun Kristen yang membenarkan kekerasan; yang terjadi adalah penyalahgunaan agama oleh pihak bertikai.
Ia menggunakan istilah “syahid” karena berbicara di masjid, tetapi menekankan bahwa baik Islam maupun Kristen sama-sama melanggar ajaran agama ketika membenarkan pembunuhan. Tujuan ceramahnya adalah mengingatkan agar agama tidak dijadikan alat konflik, dengan menekankan fakta bahwa ribuan orang tewas akibat penyelewengan tersebut.

Politisasi oleh Ade Armando dan Permadi Arya (Abu Janda)

Pernyataan JK kemudian dipelintir oleh dua figur publik. Ade Armando menuduh pernyataan JK menyinggung umat Kristen, seolah JK menyalahkan dogma agama. Permadi Arya (Abu Janda) ikut memperkuat framing bahwa JK telah melakukan “kesalahan fatal” dalam menyebut istilah syahid.

Namun, secara akademis dan historis, tuduhan ini tidak berdasar. JK tidak pernah menyatakan bahwa dogma agama membenarkan kekerasan. Ia justru menegaskan bahwa semua pihak melanggar ajaran agama.

Tidak ada delik hukum krusial yang bisa dijadikan dasar untuk menyerang JK. Serangan tersebut lebih bernuansa politik dan framing opini publik ketimbang substansi akademik.
Pernyataan JK memiliki nilai akademik yang tinggi dalam kajian terorisme. Konflik komunal sering kali berubah menjadi legitimasi agama untuk kekerasan. Narasi “syahid” atau “martir” menjadi pintu masuk radikalisasi.

Polemik atas pernyataan JK menunjukkan bagaimana memori kolektif bangsa dipelintir demi kepentingan politik sesaat, padahal data korban menunjukkan tragedi kemanusiaan yang nyata.

Ambon dan Poso adalah titik awal lahirnya generasi baru militan yang kemudian terhubung dengan Jamaah Islamiyah dan jaringan transnasional. Tanpa memahami akar konflik ini, sulit membaca perkembangan terorisme kontemporer.

Maurice Halbwachs (1992) dalam On Collective Memory menekankan bahwa ingatan kolektif dibentuk oleh kelompok sosial dan selalu dipengaruhi oleh kepentingan politik serta ideologi.

Polemik atas pernyataan JK menunjukkan bagaimana memori konflik Ambon dan Poso dipelintir oleh aktor politik, sehingga tragedi kemanusiaan yang nyata justru dikaburkan oleh framing sesaat.

Erving Goffman (1974) dalam Frame Analysis dan Robert Entman (1993) dalam artikelnya Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm menjelaskan bahwa framing adalah proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas untuk membentuk persepsi publik.

Ade Armando dan Abu Janda membingkai pernyataan JK sebagai serangan terhadap umat Kristen, padahal substansi ceramahnya adalah kritik terhadap penyelewengan agama dalam konflik komunal.

McCauley & Moskalenko (2008) dalam 
Mechanisms of Political Radicalization serta Neumann (2013) dalam The Trouble with Radicalization menekankan bahwa radikalisasi terjadi melalui tahapan keluhan (grievance), mobilisasi, legitimasi ideologis, hingga kekerasan.

Konflik Ambon dan Poso memperlihatkan jalur radikalisasi yang jelas: dari ketidakadilan politik lokal, berkembang menjadi mobilisasi sektarian, lalu dilegitimasi dengan narasi “syahid/martir,” dan akhirnya melahirkan generasi baru militan.

Dengan mengaitkan pernyataan JK pada tiga kerangka teori di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Collective memory menjelaskan mengapa tragedi Ambon dan Poso sering dilupakan atau dipelintir, sehingga peringatan JK dianggap kontroversial.
Framing theory menunjukkan bagaimana aktor politik bisa mengubah narasi perdamaian menjadi narasi serangan.

Radicalization pathways menegaskan bahwa konflik komunal yang dilegitimasi dengan agama adalah pintu masuk radikalisasi dan terorisme.

Pernyataan Jusuf Kalla bukan sekadar refleksi pribadi, melainkan narasi akademik tentang bagaimana konflik komunal menjadi akar radikalisasi di Indonesia. Dengan mengaitkan kasus ini pada kerangka teori collective memory, framing theory, dan radicalization pathways, artikel ini menegaskan pentingnya menjaga integritas memori kolektif dari manipulasi politik sesaat. []
______________
Referensi:

Halbwachs, M. (1992). _On Collective Memory._ Chicago: University of Chicago Press.

Connerton, P. (1989). _How Societies Remember._ Cambridge: Cambridge University Press.

Goffman, E. (1974). _Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience._ New York: Harper & Row.

Entman, R. M. (1993). “Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm.” _Journal of Communication,_ 43(4), 51–58.

McCauley, C., & Moskalenko, S. (2008). “Mechanisms of Political Radicalization: Pathways Toward Terrorism.” _Terrorism and Political Violence,_ 20(3), 415–433.

Neumann, P. R. (2013). “The Trouble with Radicalization.” _International Affairs,_ 89(4), 873–893.

COMMENTS

 

Nama

EKBIS,9, ENGLISH,3, FEED,100, GLOBAL,15, HIBURAN,2, HUKUM,25, IPTEK,5, NASIONAL,22, OLAHRAGA,4, POLITIK,9, RAGAM,6, Z,121,EKBIS,5091,ENGLISH,2275,FEED,55028,FOKUS,5635,GLOBAL,13005,HIBURAN,2993,HUKUM,7084,IPTEK,5494,NASIONAL,17597,OLAHRAGA,3299,OPINI,1998,POLITIK,6391,PROMOTE,5,RAGAM,11046,RELIGI,1068,Z,48183,
ltr
item
Konfrontasi: Memori Kolektif tentang Konflik Poso dan Ambon: Membaca Ulang Peran Jusuf Kalla
Memori Kolektif tentang Konflik Poso dan Ambon: Membaca Ulang Peran Jusuf Kalla
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhvU2Ewz8LiaTJho0evlcS0pwfmZLzn5W53jZKdpQgTmGq8pWipXQMRoNIjUoqcZrdVA8ZMEUN1H7exvaZZg0Zm1fjm-SQ4RZILC3jNWFaEFfHFtDaOHXwJdk_Tx3_1AWciOh9CQjlhu7MeBbxZX1x8JE1ddg3BBeOQdpFwzYiclRb78aCHmFqbWoDH_6c
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhvU2Ewz8LiaTJho0evlcS0pwfmZLzn5W53jZKdpQgTmGq8pWipXQMRoNIjUoqcZrdVA8ZMEUN1H7exvaZZg0Zm1fjm-SQ4RZILC3jNWFaEFfHFtDaOHXwJdk_Tx3_1AWciOh9CQjlhu7MeBbxZX1x8JE1ddg3BBeOQdpFwzYiclRb78aCHmFqbWoDH_6c=s72-c
Konfrontasi
https://www.konfrontasi.com/2026/04/memori-kolektif-tentang-konflik-poso.html
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/2026/04/memori-kolektif-tentang-konflik-poso.html
true
7622946317735281371
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By HOME PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy