WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan versi baru soal awal perang dengan Iran. Pernyataan itu muncul saat konflik memasuki pekan keempat dan memicu pertanyaan soal alasan keterlibatan militer AS.
Dalam forum diskusi di Tennessee pada Senin, Trump menyebut Menteri Pertahanan (Menhan) Pete Hegseth sebagai pihak pertama yang mendorong aksi militer terhadap Iran.
“Pete, saya kira Anda yang pertama kali berbicara dan mengatakan, ‘Mari kita lakukan karena kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir’,” ujar Trump, dengan Hegseth berada di sampingnya.
Pernyataan tersebut menambah beragam versi di internal pemerintahan AS mengenai alasan dimulainya perang. Sejumlah pejabat menyebut Israel akan tetap menyerang Iran sehingga keterlibatan AS tidak terhindarkan, sementara pihak lain menilai Iran berada di ambang penggunaan senjata nuklir.
Trump juga mengklaim dirinya berkonsultasi dengan sejumlah pejabat sebelum mengambil keputusan. “Saya menelepon Pete, saya menelepon Jenderal Kane, saya menelepon banyak orang hebat kita,” katanya. “Kita punya masalah di Timur Tengah, atau kita bisa mengambil langkah dan melakukan perjalanan kecil ke Timur Tengah untuk menghilangkan masalah besar.”
Namun, penjelasan mengenai awal konflik dinilai tidak konsisten. Beberapa jam sebelum menyinggung peran Hegseth, Trump menyebut serangan balasan Iran di kawasan Teluk sebagai sesuatu yang tidak terduga.
“Lihat bagaimana mereka menyerang, secara tak terduga, semua negara itu. Tidak ada yang memikirkannya,” kata Trump.
Pernyataan itu bertolak belakang dengan laporan yang menyebut adanya peringatan internal sebelumnya terkait potensi serangan balasan Iran yang tidak ditindaklanjuti.
Di sisi lain, Hegseth menjadi figur utama dalam penyampaian strategi militer AS dari Pentagon. Ia memaparkan target operasi yang mencakup penghancuran program rudal, produksi drone, serta kekuatan angkatan laut Iran.
Ia juga menanggapi kritik media terhadap operasi militer tersebut dan mendorong pemberitaan yang lebih positif. Konflik ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 13 personel militer AS dan meluas menjadi krisis regional.
Saat ditanya mengenai durasi operasi, Hegseth tidak memberikan kepastian. “Kami tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa operasi berjalan “sesuai rencana”.
Di internal pemerintahan, tidak semua pihak mendukung penuh langkah militer tersebut. Wakil Presiden JD Vance disebut kurang antusias, meski tidak menyampaikan kritik secara terbuka.
Sejumlah laporan juga menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta tokoh media Rupert Murdoch termasuk pihak yang mendorong aksi militer, sementara sebagian pejabat lain mengingatkan risiko eskalasi.
Perbedaan pandangan ini berdampak pada internal pemerintahan, termasuk mundurnya Joe Kent dari jabatan kepala Pusat Kontraterorisme Nasional AS.
Sementara itu, Trump membuka kemungkinan negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. “Kami ingin membuat kesepakatan. Jika berjalan baik, kami akan menyelesaikan ini. Jika tidak, kami akan terus melakukan serangan,” ujarnya.
Trump juga mengklaim adanya komunikasi dengan pejabat tinggi Iran melalui Jared Kushner dan utusan Steve Witkoff. Namun, pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan tersebut.
Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk memenuhi tuntutan AS, namun kini diperpanjang selama lima hari. Hingga kini, arah konflik masih belum jelas di tengah perbedaan narasi dan belum adanya kepastian terkait langkah selanjutnya. I akrt
COMMENTS