KONFRONTASI- Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) kembali menggelar diskusi publik bertajuk "Komitmen Keadilan, Demokrasi dan Pembangunan Berkelanjutan: Refleksi Akhir Tahun" di Hotel Ambhara, Melawai, Jakarta Selatan pada Rabu (10 Des.2025). Diskusi ini diwarnai keprihatinan mendalam atas bencana banjir longsor Sumatra dan minusnya etika-moral dalam kebijakan dan praktik pembangunan di Indonesia era reformasi.
Diskusi ini menghadirkan Guru
Besar Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, Dr Sunaryo dan
dimoderatori oleh Dr Taufik Hidayatullah. Diskusi dibuka Kepala PIEC Pipip A Rifai Hasan PhD dan dihadiri para aktivis muda serta Herdi Sahrasad, associate professor di Paramadina.
Prof. Didin S. Damanhuri mengingatkan pentingnya
melakukan koreksi dan kontrol atas kiprah Oligarki ekonomi dan politik yang
sudah bersatu padu menguasai demokrasi, negara dan kehidupan sosial-ekonomi di
Indonesia. ‘’Oligarkisme itu sangat mencekam dan membuat ekonomi rakyat tak
berdaya sebab ada dalam cengkeraman tangan mereka sehingga terjadi pola ekonomi
merembes ke atas, mengalir ke atas dimana rakyat mensubsidi para elite
oligarki, pengusaha dan penguasa yang berkolaborasi dengan modal asing,’’ kata
Damanhuri. ‘’Semua dikuasai oligarki,’’katanya.
Selain itu, kata Sunaryo, tak ada lagi etika
sosial dan kepedulian ekologis dalam kehidupan publik dan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, kerusakan lingkungan di Indonesia merupakan akibat dari lemahnya
penerapan etika sosial dalam kebijakan dan legislasi, lemahnya rule of law dan
penegakan hukum.
COMMENTS