Aliansi Kebangsaan menggelar syukuran HUT ke-15 dan meluncurkan buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia ?”, karya tokoh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia/Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif PhD, di Jakarta, pada Rabu (29/10/2025). Yudi Latif adalah mantan Wakil Rektor Universitas Paramadina dan mantan Kepala BPIP ( Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).
KONFRONTASI - Aliansi Kebangsaan menggelar syukuran HUT ke-15 dan meluncurkan buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia ?”, karya tokoh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia/Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif, di Jakarta, pada Rabu (29/10/2025).
Yudi Latif adalah mantan Wakil Rektor Universitas Paramadina dan mantan Kepala BPIP ( Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).
Buku tersebut mengupas bagaimana kekayaan alam, kebijaksanaan, serta peradaban yang terbangun di Indonesia tak hanya berperan di tengah kehidupan masyarakat tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap perkembangan dunia.
Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia ? merupakan buku kelima dengan tema Pancasila dan kebangsaan yang ditulis Yudi Latif selama lebih dari satu dekade Negara Paripurna. Yudi juga menulis pedoman transformasi sosial dalam buku. ”Setelah empat buku itu, saya berpikir apa yang belum saya lakukan? Ternyata yang belum adalah Pancasila untuk dunia,” kata Yudi.
Lebih lanjut Yudi menjelaskan bahwa penulisan sejarah yang bebas dari bias dan manipulasi untuk merekonstruksi jati diri bangsa sebagai bangsa yang punya signifikansi di setiap fase perjalanan dunia sangatlah penting.
Yudi menegaskan Pancasila sebagai ideologi negara yang mengandung nilai keadilan dan kemanusiaan. Dia mencontohkan telah menjadi inspirasi bersatunya bangsa-bangsa terjajah untuk berhimpun di Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 guna melawan penjajahan.
Menurutnya, semangat tersebut hingga kini masih ditawarkan oleh Pancasila terhadap segala bentuk neokolonialisme di balik wacana globalisasi. Di masa depan, Pancasila juga dinilai bakal berperan penting untuk menjembatani tradisi dan modernitas di tengah pusaran krisis multidimensi yang melanda peradaban kontemporer.
“Tidak hanya Pancasila, kekayaan alam dan berbagai teknologi yang diciptakan oleh masyarakat Indonesia menurut Yudi juga berperan signifikan dalam perjalanan sejarah perkembangan dunia. Misalnya saja, sejak era sebelum Masehi hingga abad ke-16, Indonesia dapat disebut sebagai episentrum perkembangan teknologi maritim dunia.
“Mengapa demikian? Sebab, ketika bangsa lain belum memiliki keberanian untuk mengarungi lautan, nenek moyang bangsa Indonesia di wilayah timur telah membuat jenis-jenis perahu untuk menyeberangi samudra serta menciptakan teknologi penangkapan ikan di laut dalam,” kata Yudi.
Lebih lanjut Yudi menjelaskan, di bidang arsitektur Indonesia juga menciptakan berbagai rumah tahan gempa dan juga candi-candi yang memuncak pada pembangunan Candi Borobudur. Pembangunan Borobudur yang menggunakan batu andesit dengan ukuran yang sangat presisi dinilai hanya mungkin dilakukan dengan sistem komputasional, tetapi saat itu masyarakat menciptakannya secara manual.
Akademisi Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad berharap buku ini dan buku-buku Yudi Latif lainnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca masyarakat internasional.
Buku “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia ?” ini merupakan karya kelima Yudi Latif dengan tema Pancasila dan kebangsaan, di mana ia secara khusus membahas peran Pancasila bagi dunia. Menurut Yudi, Pancasila sebagai ideologi negara yang berlandaskan nilai keadilan dan kemanusiaan telah menjadi inspirasi global, contohnya dalam menyatukan bangsa-bangsa terjajah di Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.
Semangat tersebut, lanjutnya, masih relevan untuk melawan neokolonialisme di balik wacana globalisasi saat ini. Di masa depan, Pancasila dinilai akan berperan penting sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas di tengah pusaran krisis multidimensi peradaban kontemporer.
Pengantar
Oleh: Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. (Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi / Kepala Badan Industri Mineral Republik Indonesia)
Indonesia bukan sekadar wilayah di peta dunia, tetapi simpul penting dalam jejaring peradaban umat manusia. Sejak masa purba, tanah, laut, dan langit Nusantara telah menjadi ruang pertemuan berbagai arus pengetahuan—dari geologi dan oseanografi, hingga seni, arsitektur, dan peradaban maritim. Dari kekayaan hayati dan mineralnya, dari falsafah Pancasila hingga semangat Konferensi Asia Afrika, Indonesia terus menegaskan satu pesan utama: dunia akan kehilangan banyak hal jika kehilangan Indonesia.
Buku ini, Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?, mengajak kita menelusuri kembali mosaik kontribusi bangsa ini bagi dunia—melalui sains, budaya, dan nilai kemanusiaan yang luhur. Yudi Latif menulis dengan ketelitian seorang peneliti dan keindahan seorang sastrawan, menampilkan bahwa setiap lapisan geologi, setiap naskah kuno, setiap rempah dan jamu, bahkan setiap bahasa yang kita ucapkan, adalah bagian dari kontribusi besar Nusantara terhadap peradaban global.
Sebagai bangsa yang tengah melangkah menuju Indonesia Emas 2045, kita perlu menatap masa depan dengan kesadaran historis yang kuat: bahwa signifikansi Indonesia di masa depan harus setara, bahkan melampaui, signifikansinya di masa lalu. Di sinilah pendidikan tinggi, sains, dan teknologi memainkan peran strategis. “Diktisaintek Berdampak” bukanlah sekadar semboyan, melainkan gerakan untuk menyalakan kembali obor kontribusi bangsa—agar ilmu pengetahuan yang tumbuh di tanah air tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi manfaat bagi kemanusiaan.
Saya berharap buku ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Indonesia bukan hanya relevan, tetapi diperlukan dunia. Dan tidak ada alasan sedikit pun bagi para ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan Indonesia untuk merasa kecil di tengah percaturan global. Sebaliknya, kita harus berdiri tegak—melanjutkan epos sumbangsih cerlang Nusantara sebagai pandu masa depan umat manusia.
Selamat menikmati karya gemilang ini—sebuah refleksi, sekaligus ajakan untuk percaya pada kebesaran bangsa kita sendiri.
COMMENTS