KONFRONTASI- Hari ini (Kamis, 25/9/2025), kita diundang oleh Bang Andi Sahrandi dalam dialog dan bedah buku berjudul “Berbagi Senyum, Kisah Kisah Yang Menguatkan Dari Halaman Belakang Rumah Andi Sahrandi”. Saya hadir namun kok gak ketemu Bang Andi Sahrandi dkk, saya tersesat di keramaian Indonesia International Book Fair (IIBF) di JICC Senayan, Jakarta.
Buku ini berisi berbagai kisah Andi Sahrandi yang bisa untuk menyalakan harapan dan menguatkan pada saat Indonesia sedang tidak baik-baik saja, pada saat kita semakin susah tersenyum melihat polah para elite negeri ini.
Bang Andi Sahrandi dengan para sahabat di pemakaman almarhum Dr Rizal Ramli
Budayawan Erros Djarot menjadi pembicara di acara ini dan Lukas Luwarso menjadi moderatornya. Priyantono Oemar, dengan kontribusi Syafiril Erman, mengumpulkan kisah-kisah itu sejak tahun 2.000-an. Kisah-kisah itu terhimpun, semuanya bermula dari kebiasaan berkumpul di beranda belakang rumah Andi bersama para mahasiswa anggota Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) dan aktivis mahasiswa lainnya.
Bang Andi Sahrandi, Bang Hariman Siregar, S Indro Tjahyono, Taufik Rahman Ruki dan para sahabat
Ketika para sahabatnya masuk partai politik setelah reformasi, Andi memilih terjun ke kegiatan sosial di lingkungan Jabodetabek. Pasca tsunami Aceh aksi berlanjut setiap kali bencana terjadi di daerah-daerah lain. Bersama Arifin Panigoro, Hadi Basalamah, dan Barayani Muskita ia mendirikan Posko Jenggala. Andi juga melakukan kegiatan kemanusiaan bersama Bakrie Untuk Negeri.
Budayawan Erros Djarot menilai sosok Andi Sahrandi memang identik dengan bencana. Di mana suatu daerah terkena bencana, bisa dipastikan Andi akan hadir untuk melakukan aktivitas kemanusiaan. Dia pejuang kemanusiaan, bukan karena kaya tapi dianugerai kelebihan empati terhadap sesama sehingga selalu sigap untuk berbagi.
Pencipta lagu legendaris, 'Badai Pasti Berlalu' dan sutradara flm Tjut Nyak Dhien itu menilai seharusnya Presiden memberikan anugerah Bintang Mahaputra kepada Andi Sahrandi. Bukan justru memberikannya kepada para menteri yang baru beberapa bulan bekerja dan kepada orang-orang dekatnya. "Seharusnya pejuang kemanusiaan seperti dia yang dianugerahi Bintang," tegasnya.
Andai ada petisi masuk surga kepada Tuhan, Erros melanjutkan, dirinya akan ikut mendukung agar Andi menjadi salah satu yang masuk surga. "Dan saya ikut di belakang Andi saja," selorohnya disambut tawa hadirin.
Di halaman belakang rumah Andi itu, berkumpul untuk bertukar senyum, berjabat tangan, saling menepuk punggung, dan menikmati perbincangan santai yang menyenangkan. Tak hanya dengan komunitas PMB, tetapi juga dengan komunitas lain. Halaman belakang rumah Andi lantas menjadi “tempat ketiga” seperti yang didefinisikan Ray Oldenburg dalam buku The Great Good Place (1999): tempat berkumpul yang menu utamanya adalah perbincangan, tanpa sekat sosial di dalamnya.
Di beranda belakang rumah Andi, saat kumpul bersama, Andi berbagi kisah. Beranda belakang dengan halamannya yang luas merupakan tempat bercengkerama bagi semua kalangan sampai hari ini, dimulai sejak masa reformasi 1998. Selama perjuangan reformasi, rumahnya menjadi markas mahasiswa dan aktivis. Pada 1998 itu ia memilih menanggalkan posisi tinggi kerja profesionalnya untuk bergabung dalam gerakan reformasi bersama mahasiswa dan para aktivis reformasi.
Kisah-kisah dari halaman belakang rumah Andi yang dicatat Priyantono Oemar, antara lain kisah tentang kematian, usia tua, persahabatan, berbuat baik, berbagi, perlawanan, prinsip hidup, komitmen, kejujuran, dan semangat hidup dalam memperjuangkan Indonesia menjadi lebih baik. Juga tentang cara menjadi aktivis yang teguh pendirian.
Andi telah berbuat untuk negeri ini. Tidak harus lewat pemerintahan. Ketika para sahabatnya masuk partai politik setelah reformasi, Andi memilih terjun ke kegiatan sosial. Aceh menjadi tempat aksi kemanusiaan terbesar yang dikomandoi Andi. Aksi kemanusiaan di halaman belakang Indonesia itu hingga kini masih dilakoni Andi bersama Posko Jenggala, yayasan kemanusiaan yang didirikan bersama Arifin Panigoro, Hadi Basalamah, dan Barayani Muskita. Ia juga melakukan kegiatan kemanusiaan bersama Bakrie Untuk Negeri.
Hingga kini, ketika Indonesia sedang tidak baik-baik saja, ia masih mendampingi mahasiswa dan terjun langsung ke lokasi-lokasi bencana alam. Tidak hanya untuk membantu orang lain (agar bisa tersenyum lagi), tetapi juga untuk menyalakan harapan dan mengubah keadaan. Lewat buku Berbagi Senyum, Andi meninggalkan legasinya untuk kita dan generasi yang memiliki harapan Indonesia menjadi lebih baik.
*****
ANDI SAHRANDI, SOSOK AKTIVIS YANG TAK PERNAH LEKANG OLEH WAKTU
Catatan Ahmad Khozinudin, S.H. (Advokat, Aktivis)
Namanya Andi Sahrandi. Sosok yang pertama penulis bertemu, sorot matanya yang tajam langsung memukau hati. Tanpa bicara, sorot tajam itu telah mendeskripsikan pemiliknya bukanlah ‘orang sembarangan’.
Nelayan Kholid, menyebutnya sebagai ‘Kakek Jabat’. Sosok imajiner penguasa hutan larangan dalam serial sandiwara radio dan televisi klasik Indonesia, Misteri dari Gunung Merapi, yang merupakan Guru dari Sembara.
Ya, tidak berlebihan. Analogi yang pas. Kakek jabat dikenal dengan kesaktian dan ilmunya. Andi Sahrandi dikenal dengan ‘kesaktian kiprahnya’ dalam dunia aktivis.
Hari ini (Kamis, 25/9), kita diundang oleh Pak Andi Sahrandi dalam dialog dan bedah buku berjudul “Berbagi Senyum, Kisah Kisah Yang Menguatkan Dari Halaman Belakang Rumah Andi Sahrandi”. Sejumlah tokoh lain dikabarkan hadir (diantaranya Mas Erros Djarot). Tapi sayang, penulis bersamaan ada agenda Workshop Hukum di SMA Al Azhar, sehingga tidak bisa ikut hadir membersamai. Ada rasa sesal, namun apa daya.
Tak lama setelah menyatakan udzur tak bisa hadir, Buku tersebut oleh Pak Andi langsung dikirim. Buku setebal 682 halaman sudah penulis terima.
Laki-laki yang nyaris berusia 81 tahun ini (nanti hingga 31 Desember 2025), memiliki kisah yang penuh dinamika, sosok yang lekat dengan dunia aktivis sejak era 1998 hingga hari ini. Sejumlah rezim telah dilalui, hingga rezim hari ini yang menggambarkan betapa banyaknya problem yang mendera negeri kita.
Kehidupannya, yang penuh dengan dinamika perjuangan dan dekat dengan gerakan mahasiswa, dapat dibaca sejak halaman depan rumah hingga halaman belakangnya. Andi bersama Arifin Panigoro, Hadi Baalamah dan Bayani Mustika mendirikan Yayasan Posko Jenggala.
“Nanti kalau gua meninggal, gua ingin dikuburkan diatas makam Ibu gua”
Begitulah, sejumput kutipan pernyataan Andi yang membangkitkan kenangan penulis pada Ibu, Ayah, dan kampung halaman penulis. Sejumlah dialog penuh nuansa emosi dan menggugah jiwa, ada diantara kutipan kalimat di halaman 15.
Selain cerita tentang kematian, dari menghadapi kematian, mengenang kematian ibu hingga bukan karena demi surga. Buku ini juga menuliskan kisah Abdi Sahrandi tentang Cerita Berbuat Baik, Fase Perkembangan dan Aktualisasi Diri, Cerita Persoalan Bangsa, Cerita Tentang Kebersamaan, Cerita Tentang Komitmen Dan Ungkapan Terima Kasih, hingga cerita tentang perjalanan menuju 80 tahun.
Buku ini, juga dilengkapi dengan sejumlah foto kenangan, perjalanan aktivisme Andi Sahrandi. Priyanto Oemar, selaku penulis buku sangat apik mengisahkan lika liku perjuangan seorang Andi Sahrandi. Dengan pendekatan ‘StoryTelling’, buku ini gurih dibaca dalam segala suasana.
Meski menyesal, baru bertemu dengan Pak Andi Sahrandi di usia 80 tahun, namun penulis sekaligus bersyukur. Tak ada kata terlambat, bertemu dan mendapatkan kebaikan. Dan pertemuan Penulis dengan Pak Abdi Sahrandi, penulis mendapatkan kebaikan, dan manfaat untuk perjuangan.
Terima kasih Pak Andi, sudah berkenan mengirimkan buku. Semoga, selalu menginspirasi perjuangan dan terus memberikan kebaikan dan manfaat pada banyak orang.
“Andi Sahrandi, kebaikan dan perjuangan yang tak lekang oleh waktu, tak termakan oleh usia. Terus bergerak, bersemangat, untuk bangsa, untuk masa depan generasi selanjutnya….”
[herdi sahrasad/berbagai sumber].
COMMENTS