Oleh Herdi Sahrasad
Saya beberapa kali bertemu Bang Salim
Said PhD, terkesan dia orang yang serius dan kadang marah. Kawan-kawan saya
juga mengaku padaku, pernah kena marah darinya. Tapi Prof Salim Said itu orang
yang serius dan doyan diskusi, dan tanpa disadari ''kurang apresiatif'' pada wartawan muda yang tampangnya gak brilian, gak berduit.
Sebagai seniman, wartawan, intelektual dan dosen serta terakhir sebagai diplomat, Dubes di Ceko, karakternya tak berubah sejak mudanya, setahu saya. Sebab saya sudah mengenal tulisan dan sepak terjangnya sejak 1980-an, dimana saya mengenalnya sebagai jurnalis senior dan intelektual yang ‘’ketus’, tapi sebetulnya baik-bajik.
Barangkali dia agak mirip karakter mendiang jurnalis senior DR Rosihan Anwar. Kedua sosok itu karakter dan gayanya nyaris ‘’serupa’’ walau tak sama: ketus.
Setelah bergelar Doktor dari AS itu, ternyata hidupnya malah banyak kecewa. Buktinya, ungkap eseis Hamid Basyaib, dia kurang diapresiasi oleh koleganya di Tempo, dan dia dibentur kekecewaan yang tak pernah ia duga. Di kantor yang lama ditinggalkannya, majalah Tempo, rupanya terjadi restrukturisasi manajemen dan personalia. Menurut Hamid Basyaib, konon Salim hampir tak percaya pada apa yang diberikan perusahaan sebagai “hadiah” kepada dirinya, seorang wartawan bergelar doktor ilmu politik yang menjadi bagian dari generasi pendiri majalah mingguan terkemuka itu: ditempatkan sebagai reporter, posisi terendah dalam kewartawanan. Yah, dia cuma dijadikan reporter Tempo, rendahan, dan dia terpukul, kecewalah.
Saya tahu, banyak kekecewaan
dialaminya, tapi kata para wartawan Tempo, hal itu juga tak lepas dari
karakternya dan nasib pribadinya. Sosok Salim memang terkesan keras perangai,
pengin dihargai, dihormati sebagai scholar, namun perilaku dan gayanya mungkin
membuat lingkungannya di Tempo
bertindak dan bersikap begitu kepadanya. Saya sudah dengar dari kalangan
jurnalis Tempo soal itu. Goenawan
Muhammad dkk termasuk yang kurang berkenan kalau dia diberi tempat
terhormat di Tempo sehingga
diposisikan sebagai Reporter belaka. Celaka bagi Salim Said, Doktor lulusan
Ohio State University, AS, murid Prof William Liddle, gitulah.
Tapi barangkali justru disitulah dia
kemudian bergerak, berbenah diri, bertolak maju, mematerikan dirinya sebagai
scholar dan penulis handal. Ketika sebagai wartawan, saya pernah meminta
wawancara padanya, tapi dia minta honor yang layak, dan saya bilang, gue gak
ada duit, wartawan proletar, dia bermuka kecut. Saya juga kecut. Haha. Saya
sampaikan hal itu pada redaksi dan Bang Surya Paloh waktu itu apa yang kualami,
lalu kami tertawa. Ah, bang Salim.
Namun kemudian Salim Said malah mengirimkan artikel/tulisannya ke kami, Media Indonesia, dan kami muat dengan senang hati. Dia memang pintar, scholar yang pintar dan banyak tulisannya.
Sudah lama sekali, saya terakhir
membaca artikelnya di jurnal Prisma
soal revolusi Arab Spring di Mesir dan jatuhnya Mohamad Moersi, Presiden Mesir
dari partai Islam di Cairo 2011- 2012, yang hendak menerapkan syariah Islam,
namun justru menuai perlawanan kaum nasionalis, liberal dan kelompok lainnya di
Mesir, yang kemudian mendorong tentara Mesir pimpinan Jenderal Al-Sisi ambil
alih, kudeta terhadap Moersi. Coup.
Sehingga Moersi akhirnya tumbang dan dipenjara. Musim semi demokrasi di Mesir, demikian analisis Salim Said, berakhir dengan tragedi, menyusul naiknya Jenderal Al-Sisi. Serem sekali.
Salim Said adalah ilmuwan dan juga manusia
biasa, kadang mengeluh kurang duitnya, pengin jadi Komisaris-lah, dan seterusnya,
seperti halnya kita: kadang marah, banyak diskusi dan dialog, kadang diam saja.
Bang Salim Said kini sudah pergi menuju keabadian, semoga husnul khotimah. Al
Fatihah.
=====
COMMENTS