Search

Tentang Herdi Sahrasad dan sajak-sajaknya


 

HERDI   SAHRASAD adalah aktivis pergerakan, peneliti, konsultan, penyair, jurnalis dan dosen senior (associate professor) pada Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina, Jakarta. Sedikitnya Sembilan (9) tulisannya dimuat jurnal internasional berindeks SCOPUS. Aktivis INDEMO (Indonesian Democracy Monitor, NGO pimpinan dr. Hariman Siregar) yang ikut mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) ini masa mudanya menjadi visiting researcher di Russian and East European Institute, University, Bloomington, USA 1989 dan LEAD Institute New York 1994.

Mantan aktivis HMI dewasa ini  research associate LP3ES sejak era kepemimpinan Aswab Mahasin, Rustam Ibrahim dan M.Dawam Rahardjo serta Abdul Hamid  ini melakukan perjalanan jurnalistik sebagai wartawan perang ke Timur Tengah (Mesir, Jordania, Israel, Palestina, Saudi 1990) dan meliput kudeta militer di Manila 1989.  Ia memperoleh training postgraduate Asian Studies di United Nations University & University of Phillipines (Manila, 1991); ia menjadi visiting  fellow di  Centre  of  Southeast Asian  Studies,  dan Slavic/Russian   studies,   Monash   University   Australia   atas kebaikan Prof John Legge dan Prof Herbert Feith dan Pro Milicent Vladiv Glover (1992); ia melakukan perjalanan  jurnalistik  dan berdiskusi di  Charles University  of Praha (Ceko), Universitas Hamburg, Jerman dan London School of Economics  (a  Talk  with  Prof  Michael  Leifer,  LSE),  London (1993); dan juga menjadi visiting fellow pada “Southeast Asia Program” Cornell University, Ithaca, New York, USA atas kebaikan Prof Benedict Anderson (1994). Ia jadi anggota redaksi Bisnis Indonesia (1986-1989) dan Media Indonesia (1989-1998).

Pendekar ‘proletar’ Paramadina dan GP Ansor daerah ini  juga menempuh post graduate training and courses setingkat Master  untuk “Energy and Sustainable Develop- ment International Session, Universidad da Costa Rica, 1994; Trade and Sustainable Development Course, Chiang Mai University, Thailand, 1995; Harare Africa (1996), Leadership for Environment and Development Course, 1994-1996, LEAD based in New York funded by Rockefeller Foundation. Alumnus Universitas Padjadjaran ini meraih gelar Doktor dari UIN SUKA Yogyakarta. Selain itu, Herdi juga merupakan alumnus The International Academy for Leadership, Gummersbach, Bonn, Jerman 1995, funded by FNS; menjadi visiting PhD student ISEAS Singapore/Institute of China Studies University of Malaya (2007); menjadi peneliti tamu (research scholar) untuk postdoctoral research tahun 2012, di Southeast Asian Center, Henry M Jack- son School of International Studies, University of Washington Seattle atas kebaikan Prof Laurie Sears/Loren Ryter PhD/ Arlene Lev dan Department of Political Science, University of California Berkeley, USA, atas kebaikan Prof. M. Steven Fish. Ia sempat jadi visiting researcher di Leiden dan Marburg University 2018 dan seminar di Geneva 2018. Tulisannya dimuat pelbagai media, jurnal dan koran antara lain: harian Kompas, the Jakarta Post, Prisma, Koran Tempo/ Tempo Interaktif, Ulumul Quran, Basis, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Jawa Pos, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Bisnis Indonesia dan sebagainya. Sajak-sajaknya di- publikasikan harian Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Suara Merdeka, majalah Horison dan Pikiran Rakyat.

Agar tidak sia-sia dan hilang ditelan zaman, maka ratusan artikel, makalah dan tulisannya diterbitkan dalam bentuk buku, antara lain: LSM, Demokrasi & Keadilan: Catatan dari Arena Masyarakat dan Negara (Jakarta: LP3ES & Yapika, 1999), Negara Madinah: Refleksi tentang Agama dan Pluralisme (bersama Al Chaidar, Jakarta: Madani Press, 2000), Gerakan Mahasiswa, Rezim Tirani dan Ideologi Reformasi (bersama M Fadjroel Rachman & Al Chaidar, diterbitkan Madani Press, 2000), Rizal Ramli dan Blok Perubahan (Freedom Foundation dan PSIK Paramadina, 2009), Prabowo the Raising Star (Freedom Foundation dan PSIK Paramadina, 2009), Kallanomics (Balai Pustaka, 2009),  Islamism  and  Fundamentalism  (bersama  Al  Chaidar, diterbitkan Universitas Malikussaleh Press, 2012), Asia Tenggara: Kuasa dan Kepemimpinan (Media Institute dan CTSS-UI, 2013),  Teknokrasi Habibie dan Diaspora Teknolog IPTN di Amerika (LSAF, 2013), Arab Spring, Risalah Studi Wilayah Timur Tengah (Media Institute dan LSAF, 2013), Media, State and Society (Media Institute dan LSAF, 2014), Indonesia: Ketidakadilan, Korupsi dan Kekerasan (CSSUI, 2016), Aceh, Krisis dan Transisi sebelum Perjanjian Helsinki (CSS-UI dan 2016),  dll.

 Sajak-sajaknya diterbitkan dalam Antologi puisi ‘Kompas-Gramedia’’  Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hijau Kelon & Puisi 2002 ( kedua buku itu editor-nya ''Presiden Penyair'' Sutardji Calzoum Bachri), Kaki Langit Kesumba dan Kaloka Tanah Pusaka (Kopisisa, Bagelen 2017,  editor Soekoso DM), Antologi Semarang Sajak III (1980) dan Musim Gugur di Haifa (2023) dan Palestina, Aku Memanggilmu (2016)

Sajak sajak Herdi Sahrasad

 

KEPADA UMBU LANDU

 

menyelami sungai kata kata

kata dalam sajakmu

merengkuh sukma dari sukmamu

mereguk ruh seribu kuda Sumba

cahya temaram bagiku

jejak hidup, luka-laku, batas waktu

gelombang resah  nasibmu

 

tiada pernah bersua

pun dalam rahsia

tapi kata kata

kata dari  pengembaraanmu

menembus jiwa dari jiwaku

membisikkan sajak kecil, siul

atau melodia

membingkai ombak kalbu,

suara belia yang ngilu

 

sayap bunga lalang, gelombang yang malang

melintasi samudera hidup yang tak pasti

kini ketika orang orang mati puisi

kita hidup dalam kematian itu sendiri

 

siapakah kita? hendak kemana?

selalu ada yang kita pertaruhkan

perburuan hitam putih kelabu hidup yang kuyu

tak selalu manja, kadang luput dari genggam waktu

 

duka bahagia menyayat nyayat

kembaramu,

Umbu Landu


luka perih menyayat-nyayat

hikayat kiamat kecilmu,

Herdi  Sahrasad

 

Menunggu waktu

 

Queen NY-Bagelen Kedu 1989/2023

---------

 

KARTUPOS 1998
                    kepada Nyonya Prof Dubozka

Kaukirimkan kartupos kepadaku

dari Praha sebelum musim gugur tiba
tapi tak kunjung sampai,

 

dahan dahan poplar
yang bergolak dalam cuaca liar

bergetar mengirimkan badai

lalu kau saksikan seribu puisi memintas
pada langit yang tak terbatas
pada sunyimu yang bergegas


di bumi khatulistiwa, di sini kau tahu
Tanah Air seakan keranda
sejak huruhara dan gejolak massa

 tak juga reda
Dan kausaksikan para mahasiswa, perempuan

dan buruh buruh turun ke jalan,

bersamaku mengolah kata kata protes,
melawan kekuasaan yang jahat sehitam asbes

sedingin puncak gunung es

 

mungkin dengan begitu
politik di negeriku mengubur otokrasi lama,

menjemput zaman baru

1998-2003

====

 

DI AMBANG  CENDELA

 

Seribu hujan yang kaurindu,

berguguran di haribaanku

Cemara pun ngungun,

terbantun

sesunyi resahMu

 

Sudah begitu lama matahari membara

sejak kepulanganku dari Beit Jala ,

dari pertaruhan hidup yang muram

Hingga batukku menghijau di pecahan gelas kaca

dan engkau merasa tertikam, luka luka

 

Kini di hadapanku, malaikat mengebatkan sayapnya

dari langit yang temaram

mengisyaratkan hamparan  bunga hujan bakal menyapu

padang padang kering yang terluka

dan burung burung pindahan bakal menemu

kembali hutan buruannya

 

Aku  pun tahu kesunyian kita semula

Menanti musim gugur yang hampir tiba

Berduka di putih waktu, bersedih di kelam senja

Hingga angin pun mendesah, seperti sepi suara

melepas detik mautmu yang sayu, berangkat dalam rahasia.

 

 

Amsterdam-Jakarta 2018

=====  

POTRET MALAM UNTUK DANIEL S. LEV

 

Tidakkah kau tahu

ribuan mahasiswa di malam bisu

turun ke jalan dan mengepalkan tangan

Melawan rezim yang korup dan  beku

 

Orang orang bermimpi buruk:

Otokrasi  yang banal

Membiakkan  politisi korup, konglomerat jahat

dan birokrat bebal. Memuja premanisme yang brutal

 

 

Tidakkah kau tahu

ribuan buruh yang putus asa

menyerbu  istana dan memuntahkan protes  massal

terhadap elite kuasa,  malam yang buta

 

tapi angin tahu: gerimis  mencium badai

menyeret malapetaka,

kerusuhan yang menyulut gelombang huru-hara

 

udara kekerasan melayapi lorong lorong kota

anjing anjing melolong, melampiaskan amuk serigala

 

Apakah yang salah dengan Tanah Airku,

rapat rapat umum dan kerumunan massa

menjadi rawa rawa hitam

yang menenggelamkan kota demi kota

 

Adakah yang salah dengan Tanah Airku,

orang orang  lenyap

menjadi nomor nomor gelap,

angka angka statistik yang senyap,

menjadi hujan asam di hutan yang lembab,

lorong yang pengap !

 

1998

 

SUARA PENARI DAYAK DAN PENARI BALI 13 MEI 1998

 

Meliuk ke kiri

         Hatiku berdarah

                 Meliuk ke kanan

                                     jantungku rebah*)

 

Malam kehilangan wajah

                    dan kabut dipaksa pergi

                                           oleh huruhara dari sunyi

 

serdadu serdadu dan massa mengamuk

                                angin menjarah perempuan resah

                                                                     dalam kilau pisau dari besi

                                                                                            dan kita dirajam api dari sepi

 

 

Meliuk ke kanan

         Hatiku berdarah

                          Meliuk ke kiri

                                     jantungku rebah*)

 

 

matahari, matahari

                 kemana kau berlari

                             langit runtuh

                                          dan orang orang jatuh

                                                      menghindari mati

                                                  tapi  kenapa Malaikat bergegas pergi?              

 

*)  ritme interpretative atas syair penari Bali dan penari Dayak di Kalimantan

 

1998- 2023

 ============== 


AMSTERDAM  LARUT MALAM


Aku bicara pada bunga bunga, pada pasir, pada gelombang, pada perempuan, pada kelasi yang perkasa, pada laut yang terbentang. Bunga bunga bicara pada gerimis, pada batu, pada ombak, pada semak perdu, pada kabut, padamu. 

Angin, bunga, perdu, kabut dan kami semua bicara bersama merengkuh kenangan, melepas keresahan: hidup adalah pertaruhan, ombak pantai yang menyeringai dan pesona tubuhmu yang semampai.

Di sebelah tembok kampus Amsterdam, kau berkisah tentang Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan sosial-demokrasi yang tak mati mati, lalu  kau membawaku ke pantai, ke dermaga, membelai ikan merah dari laut biru, 'sorga' yang hampir hilang oleh waktu, katamu. 

Cahaya membersit  dari rumah Tuhan di seberang laut, menyentuh jantungku yang berubah warna dan berpaut, merengkuh  senyum kau yang memukau seperti danau  

Dengan perahu Eropa purba, sukmaku berbenam diri ke tengah laut yang berdebur purnama.  Ombak laut berbisik lirih: semusim, semusim lagi, hidup yang dipertaruhkan, meresap makna karena bertolak dari apa yang ada, pesonamu yang fana

Sebelum tengah malam, aku pun  pulang kembali ke kamarku, ke tepi huma, menjadi sebatang rumput di antara pohon pohon linda, bunga bunga tulip, daun daun apyun, batu batu purba, seperti sejak semula. 

Tiba tiba gerimis dan kabut jatuh menerkamkan badai kelam: kesunyian pecah, bulan rebah dan langit terbelah.

Bumi kehilangan wajah, tubuhku kehilangan darah

Tapi Tuhanku, kenapa kita tetap bertahan dan tiada menyerah? 


Amsterdam, 2018

------------

TIDORE

 

Keresahan yang bersemayam di haribaan Sultan

Merebahkan pohonan dan tenda tenda di selatan

Bintang bintang malam berjatuhan

ke rimba Halmahera, ke pulau-pulau hijau,

Maluku yang galau, suaramu sampai  ke Laut Aru

 

Dari  pemukiman renta, sejak lama kau bangun pelabuhan, dermaga dermaga tua

Sunyi palka palka membingkai  duka lama: jerit nelayan lara,

kerang yang mati, bangkai ikan dan tangis terumbu

Segala luka yang menyakitkan hatimu

Menggumpal  karang berdebu

 

Tapi musim tak juga berubah,dan luka masyarakat adat

makin dalam

Dirajam tambang tambang dan mesin yang menderu

Seperti pengungsi dari  selatan, kau pun memutuskan

berpindah ke Timur,

Mencari matahari, bayangan yang mashur

tapi petaka jatuh, langit  runtuh dan bulan  gugur

orang orang terlempar dan para perempuan kaku terbujur

di puncak sepi:  bumi tengadah dan  tersungkur

menggali kubur demi kubur 


1990-2023

COMMENTS

 

Nama

EKBIS,9, ENGLISH,3, FEED,99, GLOBAL,15, HIBURAN,2, HUKUM,25, IPTEK,5, NASIONAL,22, OLAHRAGA,4, POLITIK,9, RAGAM,6, Z,120,EKBIS,5046,ENGLISH,2254,FEED,54671,FOKUS,5620,GLOBAL,12946,HIBURAN,2958,HUKUM,7038,IPTEK,5459,NASIONAL,17539,OLAHRAGA,3267,OPINI,1973,POLITIK,6358,PROMOTE,5,RAGAM,11030,RELIGI,1057,Z,47853,
ltr
item
Konfrontasi: Tentang Herdi Sahrasad dan sajak-sajaknya
Tentang Herdi Sahrasad dan sajak-sajaknya
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhwtbXT1_jwex8mVDpi48dtMmIgG3e5f7kXtza_W3i82Gwc8LeH8M8CnIyYlw_l7rowhAB29mk5UoFujtEpg8dSIUHM9oR_Ix6sNDejQzPzTjy-yyYNT7ZvVXCCQK_aN8Z8K7isajPpD6r_ZuicQ0gCdRFcjQhKEwzp7gwTWGebANG1kGH-TXFcCI22k9n-
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhwtbXT1_jwex8mVDpi48dtMmIgG3e5f7kXtza_W3i82Gwc8LeH8M8CnIyYlw_l7rowhAB29mk5UoFujtEpg8dSIUHM9oR_Ix6sNDejQzPzTjy-yyYNT7ZvVXCCQK_aN8Z8K7isajPpD6r_ZuicQ0gCdRFcjQhKEwzp7gwTWGebANG1kGH-TXFcCI22k9n-=s72-c
Konfrontasi
https://www.konfrontasi.com/2024/01/tentang-herdi-sahrasad-dan-sajak.html
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/2024/01/tentang-herdi-sahrasad-dan-sajak.html
true
7622946317735281371
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By HOME PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy