KONFRONTASI- Mahasiswa dan masyarakat mengaku geram-kecewa bahwa kaum politisi/pejabat busuk terus ''berpesta'' Korupsi/KKN di tengah ketidakadilan dan kemiskinan rakyat kita. ''Reformasi dikorupsi pejabat/politisi busuk,'' kata mahasiswa pada tim penulis.
Hari Kelahiran Pancasila (1 Juni) kali ini mengingatkan kembali pada pidato Bung Karno soal Jas Merah: ''Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah.'' Celakanya pejabat/politisi busuk merajalela dengan korupsi/KKN nya, mencampakkan Pancasila.
Pun Sejarah Reformasi yang bercita-cita mulia dan suci, 20 tahun ini dikhianati oleh rezim-rezim yang mengklaim anti-korupsi, namun malah getol dan gila korupsi. Dari skandal Bank Century Rp6,8 trilyun dll sampai skandal BTS Johny Plate Nasdem Rp8 trilyun, skandal proyek infrastruktur dan skandal pajak-cukai Kemenkeu Rp349 trilyun dll, semua skandal kejahatan pejabat/politisi busuk.
Kita ingat bahwa Dalam Peringatan 25 Tahun
Reformasi di kampus UI, tokoh bangsa Rizal Ramli (RR) memperingatkan publik dan
mahasiswa
RR sudah ingatkan dengan prihatin bahwa '' Rakyat dikelabui Drakor Copras-Coprres. Didukung oligarki, sutradara sudah tentukan Dua (2 )calon, Boneka Oligarki dan Calon yang dirancang untuk kalah. Rakyat hanya menjadi penonton Drakor itu, didominir oleh BuzzeRP, InfluenseRp & ‘Sure-pay’ (baca ‘surpai’).'
Tidak
lama kemudian Jurnalis senior/Kolumnis J Osdar di Kompas.com menekankan bahwa:’’ Seruan reformasi Mei 1998
masih harus berlanjut, diserukan lagi pada usianya yang ke-25. Karena, KKN
(kolusi, korupsi dan nepotisme) masih berlanjut dan berkembang biak. Istilah
KKN ini bersaudara dengan politik dinasti atau politik kekerabatan atau bisa
juga disebut sistem kodok “ampibi”
(anak, menantu, ponakan, bisa juga pacar, simpanan, ipar, besan, istri). Ini
nampak sekali di lembaran daftar caleg di Komisi Pemilihan Umum saat ini (https:// nasional.kompas.com/read/2023/05/ 29/14151631/bencana-mei-1998-dan-2023-dalam-berita-kompas.)
Peringatan J Osdar dan
RR itu masih bergema, dan civil society melihat dan mengalami betapa 25 tahun
reformasi makin oleng. Di tengah kegalauan dan kekecewaan itu, ada Pernyataan Presiden Jokowi bahwa dia tidak
akan netral dalam Pemilu 2024. Redaksi Koran Tempo menyatakan pernyataan Jokowi
itu sungguh berbahaya. Koran Tempo
menegaskan Dalih Jokowi bahwa cawe-cawe tersebut demi kepentingan negara dan
kesinambungan pembangunan tak dapat dimaklumi.
Maka tepatlah pandangan RR bahwa ''Dalam sistem yang rusak ini, tak akan pernah lahir pemimpin berdaulat. Pemimpin yang amanah dan memperjuangkan kepentingan rakyat.''
“Sistem sudah rusak, penguasa hanya mengabdi ke bandar/cukong. Bukan pada rakyat,” kata RR dalam mengantar Diskusi Kebangsaan di Giri Dago, Bandung, Sabtu sore (27 Mei 2023).
Sekali lagi sistem sudah rusak,bahwa:’’ Ini Era Demokrasi Uang yang Mengatur Semuanya atau “Demokrasi Sure-Pay”. Kalau HP sudah error melulu, jalan satu-satunya ya ‘Total Reset’ atau ganti Handphone !’’
Wahai, kembalilah ke cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945, Trisakti Soekarno dan Konstitusi'45. Demikian catatan kecil penulis. Wallahualambisawab.
( catatan Muhamad Muntasir, analis ekonomi politik, aktivis Gerakan Kebangsaan dan peneliti Freedom Foundation)
COMMENTS