Search

Perubahan negara miskin dan lapar Ethiopia Menjadi Makmur dan Adidaya Pertanian


 

Negara yang luasnya lebih dari separoh luas Indonesia (110 juta ha) itu hampir seluruhnya terdiri dari daratan (100 juta ha), yang terdiri dari 37.3 juta ha lahan pertanian, 12.5 juta ha hutan dan sisanya lahan kering khas Afrika.

Belum 2 dekade lalu negara miskin ini mencatatkan angka harapan hidup hanya 54 tahun dan pendapatan per kapita $170 per tahun, penduduk yang buta huruf 40 persen dan tidak kurang dari 12 juta penduduknya menderita kelaparan kronis. Indeks Pembangunan Manusia ada di urutan 173 dari 186 negara. Ethiopia adalah negara tertua di dunia yang banyak menyimpan situs sejarah dan diduga merupakan tempat manusia tertua tinggal pada awal penyebarannya ke kawasan Afrika.

Jumlah penduduknya termasuk besar untuk ukuran Afrika yang umumnya berpenduduk kecil, yaitu pada urutan kedua setelah Kenya. Tercatat populasinya lebih dari 105 juta jiwa. Sekitar 43,5 persen penduduk Ethiopia adalah pemeluk kepercayaan Ortodok Ethiopia dan agama Islam sekitar 33,9 persen. Etnis mayoritas Ethiopia adalah Oromo (34,4 persen), Amara (27 persen), Somali (6,2 persen) dan Tigray (6,1 persen)

 

Bangkit: Adidaya Pertanian

Negara yang menyandang salah satu negara termiskin yang terpuruk karena dilanda bencana kekeringan dan kelaparan itu akhir-akhir  jadi perhatian dunia. Dia bangkit. World Bank menyebutkan bahwa dalam satu dekade Ethiopia telah mengalami kemajuan luar biasa dalam kesejahteraan. Bahkan menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah USA (urutan ke-11). Kemajuan ini telah didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan dengan rata-rata 10,9 persen per tahun. 

Pertanian menjadi penggerak ekonomi di negara ini. Peningkatan dan penerapan teknologi dengan dukungan negara-negara lain membuahkan peningkatan produktivitas komoditas pangan maupun komoditas lainnya yang berkualitas tinggi yang merupakan komoditas ekspor. Teknologi biologis dan irigasi adalah salah satu faktor penting, sementara informasi teknologi dan pasar kebanyakan hanya memanfaatkan fungsi HP yang di banyak negara lain kurang dimanfaatkan untuk menjadi alat komunikasi yang produktif. Kelembagaannya dibangun sehingga arus produksi hulu-hilir berlangsung lancar.

Selain mekanisasi, manifestasi dari the Future of Work in the Ethiopian economy memerlukan akses ke internet. Internet bukan lagi barang mewah tetapi kebutuhan dasar untuk menopang perkembangan ekonomi.  Sangat diperlukan bukan hanya untuk korporasi besar tetapi pembangunan ekonomi pedesaan dan petani kecil.  

Pemerintah Ethiopia melihat China sebagai model pembangunan dan kemudian melakukan pembangunan infrastruktur dengan bantuan negara tersebut. Dalam dua dekade, Addis Abbaba dilengkapi dengan jalan lingkar seharga 86 juta dollar AS, persimpangan seharga 12,7 juta dollar, jalan raya 6 lajur pertama seharga 800 juta dollar AS, dan jalur kereta api Ethio-Djibouti senilai 4 miliar dollar AS. China juga membangun sistem kereta bawah tanah pertama di kota ini. Jalur kereta ini melintasi pusat kota dan mampu membawa 30.000 penumpang per jam. Addis Abbaba telah berubah cepat. Percepatan pembangunan di kota ini, mirip seperti yang pernah terjadi di kota-kota China pada awal abad ke-21.

Pembangunan bendungan Grand Renaissance di Ethiopia yang dianggap paling ambisius sedaratan Afrika menjadi salah satu contoh proyek karya anak bangsa sendiri. Pembangunan bendungan tersebut mengerahkan 8.500 tenaga buruh. Dari bendungan tersebut, diharapkan mampu mengeluarkan tenaga listrik sekitar 6.000 megawatt yang diperuntukkan bagi pemakaian domestik dan ekspor. Termasuk bertujuan untuk menggerakkan industrialisasi.

Ethiopia sekarang ini bukanlah seperti yang dulu lagi. Sekarang ini merupakan masa di mana negara ini sedang bertumbuh dan berkembang. Ethiopia merupakan negara pertemuan antara budaya Afrika dan budaya Semitik yang perpaduannya menghasilkan budaya baru yang berbeda.    

 Ethiophia adalah negara miskin di Afrika yang rakyatnya dilanda kelaparan. Itu adalah ingatan orang setiap kali nama Ethiopia disebut. “Dengar rintihan berjuta kepala/waktu lapar menggila/hamparan manusia tunggu mati/nyawa tak ada arti/..... Itu petikan syair lagu Ethiopia yang dinyanyikan Iwan Fals pada 1986.Ya, itu adalah stereotip tentang Ethiopia.

Itu dulu. Sekarang berbeda. Stereotip tentang Ethiopia yang rakyatnya miskin dan menderita langsung buyar begitu kita menginjakkan kaki di Bandara Internasional Addis Ababa Bole yang megah. Begitu keluar dari pintu bandara kita akan melihat masyarakat Ethiopia yang berpenampilan modern sedang mengantar atau menjemput orang dengan mobil-mobil baru yang bagus. Hal ini yang dialami delegasi Indonesia saat saat menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan Pers Dunia (WPFD 2019) di Addis Ababa 3-4 Mei 2019 lalu.

Ethiopia adalah sebuah negeri ajaib yang tak memiliki laut yang berhasil keluar dari kekeringan dan kelaparan menjadi negeri sejahtera. Dengan penduduk berjumlah 112 juta jiwa yang multi etnik dan luas 1.104.300 km persegi, negeri asal kopi ditemukan ini adalah negara dengan penduduk terbanyak no 2 di Afrika setelah Nigeria. Dalam 10 tahun antara 2008 sampai 2017 pertumbuhan ekonomi Ethiopia rata-rata berada di atas 10 persen. Pada 2018 pertumbuhan ekonomi Ethiopia mencapai 6,8 persen. Sebuah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di seluruh Afrika.

Menyusuri jalanan ibukota Ethipia yang berada di ketinggian 2.355 meter di atas permukaan laut, kita akan menyaksikan berbagai bangunan modern yang menjulang ke langit dan pusat perbelanjaan dan pertokoan yang ramai. Sedikit ke luar kota kita akan bertemu jalan sejumlah tol yang mencapai beratus-ratus kilometer. Ya, Ethiopia dengan bantuan teknologi pertanian dari Israel dan infrastruktur dari Tiongkok sedang menggeliat untuk menjadikan dirinya sebagai gerbang benua Afrika.

Hal tersebut tergambar dari adanya berbagai kantor pewakilan badan dunia di Addis Ababa. Termasuk, tentu saja, adalah kompleks Gedung African Union Centre yang berdiri megah dan kerap digunakan sebagai venue berbagai acara internasional. Ethiophia Airlines juga terkoneksi secara langsung dengan hampir seluruh bandara internasional penting di dunia. Terhitung sejak 2019 Ethiopia Airlines membuka penerbangan dari Addis Ababa ke Jakarta pulang-pergi untuk melayani kebutuhan penumpang yang terus meningkat.

Untuk menyulap pertanian dan memajukan industri, sejak 2011 pemerintah  Ethiopia membangun bendungan raksasa Grand Ethiopia Renaissance Dam (GERG) di Sungai Blue Nile yang merupakan hulu Sungai Nil. Proyek senilai lebih dari $AS 5 milyar yang akan menjadi pembangkit listrik terbesar di Afrika itu mengundang kekuatiran sejumlah yang tergantung pada air Sungai Nil. Salah satunya adalah Mesir yang meminta agar bila nanti bendungan jadi,  pemerintah Ethiopia tak melakukan pengisian bendungan secara drastis. Pemerintah Mesir memperkirakan bila aliran dari hulu ditutup, Sungai Nil yang merupakan jantung Kaior akan menyusut ketinggiannya hingga 2 meter.

Pemerintah Ethiopia di bawah PM Abiy Ahmed yang terpilih pada April 2nyulap 018 terus melakukan upaya reformasi di berbagai bidang, termasuk mendorong kemerdekaan pers. Abiy Ahmed yang mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian 2019 emang mendorong kaum muda untuk menjadi wartawan dan mengembangkan dunia jurnalitik Ethiopia. Selain itu ia juga membantu dan menfasilitasi berdirinya berbagai media cetak, elektronik, dan media online, yang kini mencapai 200 media, tanpa mengganggu independensi awak media.

Ethiopia memang sebuah magnet yang mengundang daya tarik. Selain aneka tambang dan pertanian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi  mengundang perusahaan untuk membuka bisnis. Jangan kaget kalau banyak investor dari luar negeri membuat usaha di negeri kopi tersebut. Pengusaha Indonesia juga tak luput melakukannya.

Ada tujuh perusahaan Indonesia membuka usaha di Ethiopia. Antara lain Peace Success Industry  PLC (anak perusahaan Sinar Ancol), Salim Wazaran Yahya Food Manufacturing PLC (anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk), Century Garment PLC (anak perusahaan Busana Apparel Group), Sumbiri Initimate Apparel PLC anak perusahaan PT Sumber Bintang Rejeki, dan Golden Sierra Abyssinia PLC PT Bukit Perak. Maka tak heran bila Indomie dengan cita rasa lokal adalah makanan yang populer dan sabun B-29 populer di Ethiopia. Hal ini pula lah yang menyebabkan ada banyak orang Indonesia, terutama pekerja migran, yang bekerja di Ethiopia.

Buku tentang Ethiopia yang memikat dan dipetik di halaman ini adalah karya Al Busyra Basnur. Ia adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Federal Democratic Republic of Ethiopia merangkap Republic of Djibouti dan African Union. Ditulis dengan bahasa yang renyah akan mengantarkan kita untuk lebih memahami Ethiopia secara faktual. Dari buku ini kita bisa melihat sejumlah pekerjaan besar telah dilakukan oleh seorang dubes yang baru menjabat sekitar satu tahun lebih.

Upaya membangun hubungan Indonesia-Ethiopia mulai dunia usaha, kerja sama pendidikan, jurnalistik, pertukaran mahasiswa telah dilakukan dan perlu terus didorong. Sebagaimana pesan Pak Jokowi bahwa tugas seorang dubes bukan hanya mewakili Indonesia dalam diplomasi, tapi juga bisa menjadi duta ekonomi bagi Indonesia.

Terlepas dari hal itu semua, barangkali apa yang dilakukan Al Busyra Basnur ini perlu dijadikan semacam pakem. Kementerian Luar Negeri Peru mewajibkan setiap orang yang ditempatkan sebagai duta besar untuk menuliskan pengalaman dan pandangannya, sebagaimana dulu pemerintah Belanda mewajibkan para ambtenaar  yang ditempatkan di Hindia Belanda untuk menuliskan pandangan dan pengalamannya, baik selama bertugas maupun ketika purna tugas.

COMMENTS

 

Nama

EKBIS,9, ENGLISH,3, FEED,99, GLOBAL,15, HIBURAN,2, HUKUM,25, IPTEK,5, NASIONAL,22, OLAHRAGA,4, POLITIK,9, RAGAM,6, Z,120,EKBIS,5013,ENGLISH,2242,FEED,54393,FOKUS,5609,GLOBAL,12884,HIBURAN,2939,HUKUM,6992,IPTEK,5429,NASIONAL,17483,OLAHRAGA,3252,OPINI,1957,POLITIK,6336,PROMOTE,5,RAGAM,11016,RELIGI,1052,Z,47589,
ltr
item
Konfrontasi: Perubahan negara miskin dan lapar Ethiopia Menjadi Makmur dan Adidaya Pertanian
Perubahan negara miskin dan lapar Ethiopia Menjadi Makmur dan Adidaya Pertanian
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjwMerMrp_mh1wzT397XHG-sGzIq130VnAgcEznUFS4TcFpQpgYll6QAg63mAEVmHswXbtTWhNo3TTkSJHcZ8sl2RBlzvce1p8UEhlCpbZ7_AGGkNx7XQlcy9CGBdGM4uec7TdI2ljA3FBESNSheUUPfGm4kZV1vUc7vPcoLovqdBjA2oJonMFxF5TM8w
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjwMerMrp_mh1wzT397XHG-sGzIq130VnAgcEznUFS4TcFpQpgYll6QAg63mAEVmHswXbtTWhNo3TTkSJHcZ8sl2RBlzvce1p8UEhlCpbZ7_AGGkNx7XQlcy9CGBdGM4uec7TdI2ljA3FBESNSheUUPfGm4kZV1vUc7vPcoLovqdBjA2oJonMFxF5TM8w=s72-c
Konfrontasi
https://www.konfrontasi.com/2022/03/perubahan-negara-miskin-dan-lapar.html
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/
https://www.konfrontasi.com/2022/03/perubahan-negara-miskin-dan-lapar.html
true
7622946317735281371
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By HOME PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy