Skip to main content
x

Wawancara RRI-Pro3 dengan DR. Rizal Ramli : Highlights

Risty (Penyiar)

 

Risty: bicara mengenai perusahaan-perusahaan BUMN yang saat ini ibaratnya ‘mati enggan hidup tak mau’. Ada beberapa nama, contoh saja,  PT DI, PLN dan sebagainya. Sejauh ini, apa saja, kalau dari catatan Pak Rizal Ramli, mengenai perusahaan yang mungkin bisa bertahan atau mungkin sebaiknya dihentikan saja sekarang juga agar tidak merugikan negara lebih banyak lagi?

Risty, saya mau flashback sedikit. Hampir semua BUMN yang ada hari ini dulu dimiliki oleh Belanda. Bung Karno melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, yang akhirnya jadilah apa yang disebut BUMN. Pengalaman saya, dari beberapa kali saya pernah menjadi Preskom Semen Gresik Group dan BNI46 esensinya satu yaitu kalau manage-nya benar dan beres pasti BUMN-nya untung dan bermanfaat. Kenapa? Karena BUMN, yang main di sektor itu hanya monopoli atau oligopoli - karena hanya ada satu atau beberapa di sektor itu jadi harusnya untung. Tapi dalam prakteknya banyak sekali mismanagement, banyak juga corruption, dan banyak istilahnya itu tidak ada cost control.
 
Salah satu kelemahan yang paling penting di BUMN di Indonesia adalah biaya atau cost dalam membuat sesuatu sangat mahal dibandingkan dengan swasta. Seperti contoh, Semen Gresik Group waktu itu, ketika saya masuk saya minta supaya diturunkan biaya memproduksi semen. Akhirnya, kita berhasil menurunkan $8/ton dan itu menambah keuntungan $144 juta. Artinya, ketika saya masuk BUMN Semen Gresik untungnya hanya Rp 800 miliard; dalam dua tahun kita naikkan 3,2 triliun. Waktu menjadi Preskom BNI, dalam satu tahun keuntungan BNI kita genjot bersama direksi naik hampir 87% paling bagus dari semua bank nasional saat itu. Ini contoh saja. Nggak ribet-ribet dan canggih2 amat. Satu, kita tekan cost karena kebanyakan supplier2 pemasok BUMN itu semua KKN, baik teman atau keluarga. Tetapi, begitu kita mtekan cost, akhirnya pasti lebih efisien.
 
Rizal Ramli:
Sebelum ngomong tutup-tutup BUMN, beresin dulu manajemennya dan tekan cost-nya. Itu yang paling mudah karena apapun banyak yang mau menjadi pemasok BUMN dan kebanyakan itu KKN.
 
Risty (Penyiar):
Apa kriterianya, Pak Rizal bahwa ini harus ditekan cost-nya ketika misalkan satu contoh bahwa BUMN tersebut sudah mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) beberapa kali, lebih dari dua kali misalnya.
 
 
Rizal Ramli:
Karena sudah dikasih PMN tetapi tidak ada tekanan terhadap penurunan cost.
 
 
Risty (Penyiar):
Siapa yang salah kalau begitu?
 
 Rizal Ramli:
Ya, tentu direksinya tentu juga regulatornya. Saya kasih contoh lah, waktu PLN, tahun 2000, modalnya itu negatif (-9 triliun.) Direksinya datang ke saya minta tolong, “Pak, tolong disuntik oleh anggaran negara.” Saya bilang, “Enak aja kamu, begitu minjem kamu jor-joran dan begitu proyek jor-joran ketika rugi negara yang nolong. Saya gak mau, kecuali saudara mundur semua, kecuali melakukan apa yang saya mau yaitu lakukan revaluasi aset BUMN.” Modal BUMN, asetnya dari 50 triliun naik ke 215 triliun, modalnya naik dari -9 triliun menjadi 104 triliun. Jadi, banyak sekali caranya karena BUMN itu asetnya kebanyakan masih nilai historis, nilai pembelian. Harusnya, nilai saat hari ini. Jangan main gampang, tatap tutup, wong direksinya yang brengsek maka ganti direksinya. Kalau cost-nya keterlaluan maka turunkan cost-nya.
 
 Risty (Penyiar):
Tapi kalau misalnya pergantian Board of Directors (BOD), direksi dan sebagainya belum cukup membuat BUMN tersebut survive?
 
 
Rizal Ramli:
Kalau itu perlu dievaluasi ulang kriteria pengangkatannya - karena yang diangkat menjadi direksi apalagi komisaris2 itu kan sering cuma karena alokasi politik aja, seperti aktivis atau apa yang tidak punya leadership dan tidak punya pengalaman track record mengelola BUMN. Dievaluasi semua penunjukan politis, mereka wajib ikut kursus Manajemen 6 bulan di UI, ITB dan UGM. Kalau lulus boleh diteruskan, klo ndak diganti dengan yg lebih profesional. Gitu aja ribet
 
 
Risty (Penyiar):
Kalau cuma politically appointed, tentunya tidak akan punya hasil apapun, Pak Rizal?
 
 
Rizal Ramli:
Ya, nggak ada. Jadi, diberesin dan tunjuk professional. Bahkan, saya lebih sederhana jangan dijadikan komisaris orang yang kagak becus. Lebih baik dikasih gaji saja, tidak merusak dan lebih aman 😄
 
 
Risty (Penyiar):
Tetapi janji politis harus dijadikan komisaris.
 
 
Rizal Ramli:
Ya, itu yang menurut saya tidak benar karena kebanyakan nggak becus. Mengurus perusahaan nggak bisa, Finance, Marketing, Teknologi dan Management SDM nggak ngerti, analisa payah karena kebiasaan menjilat doang, dijadikan komisaris akan habisin duit doang itu. Habis itu, selain secara profesional payah,  banyak juga komisaris, direksi yang juga nyolong. Itu sebetulnya masalah utamanya,  jangan main tatap tutup saja. Waktu Garuda, misalnya, tahun 2000, diancam disita seluruh pesawat Garuda karena nggak mampu bayar hutang $1,8 miliar oleh konsorsium bank di Eropa. Ya kita beresin, kita negosiasi dan akhirnya Garuda dapat diselamatkan.

 
Risty (Penyiar):
Contoh saja, PT PLN dan PT Garuda Indonesia. Kita tahu bahwa dua perusahaan ini masih benar-benar dipertahankan padahal hutangnya juga tidak sedikit lebih dari 500T. Pak Rizal Ramli, silahkan.
 
 
Rizal Ramli:
Risty, memang terjadi kenaikan keuntungan BUMN tahun ini, terutama karena harga sawit naik 60%. Kemudian, batu bara harga $60/ton ke $200anton. Gas naik 50%. BUMN di sektor2 ini menunjukan untung besar. Kedua, keuntungan itu dari kerugian sebelumnya yg sangat tinggi. Istilahnya itu low base effect. Ekonomi kita pernah anjlok sampai minus berapa, kemudian naik 7%. Padahal mulainya dari minus. Buntutnya, plusnya hanya 3%. Itu istilahnya low base effect. Karena sebelumnya kebanyakan BUMN merugi, tiba-tiba harga komoditi naik tinggi. Khusus PLN, saya sudah ada solusinya. Tadinya, eksportir batu bara harus bayar royalti kemudian dihapuskan bulan lalu oleh pemerintah. Padahal kalau royaltinya tetap, pendapatan sari royalti batu bara mungkin bisa 80 triliun - 100 trilliun, cukup buat mensubsidi PLN sehingga tidak perlu menaikan tarif listrik rakyat. Demikian juga Garuda, saya pernah bilang beberapa bulan yang lalu, “Gini deh, gue yang beresin Garuda, pasti beres!” Tetapi syaratnya, saya nggak mau dibayar dan tidak mau diangkat komisaris. Saya minta supaya threshold pemilihan presiden nol supaya Indonesia demokrasinya lebih bagus dan pemimpinnya lebih unggul.
 
Saya tidak asal ngomong, saya pernah nyelamatin Garuda kok dari kebangkrutan. Jadi, kita beresin Garuda. Cuma, saya minta threshold dinolkan, wong saya nggak mau digaji dan tidak mau jadi Preskom dll. Gua beresin Garuda. Syaratnya, threshold atau syarat untuk maju menjadi gubernur, bupati dan presiden dinolkan supaya Indonesia dapat pemimpin KW 1, KW 2. Hari ini kan, yang dapat pemimpin KW 3, KW 4, maling pula lagi. Jadi, banyak cara kok buat menyelesaikan ini.
 
Rizal Ramli:
Mba, kok ribet amat semua ada solusinya, nggak susah-susah amat. Bisa dibenerin kok. Ilmu untuk mencapai ke Mars itu baru sulit. Wong cuma benahin BUMN aja, nggak susah-susah amat. Pilih orang hebat, orang bagus dan tidak korup pasti bisa diperbaiki kok.