Yudi Latif

Tentang Pemikiran Yudi Latif dalam Diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan

Oleh: Fachri Aly, risalah untuk diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif dari saya. Dua bulan lalu, saya diminta membahas bukunya ttg Pancasila. Sistem gagasannya dlm buku Pancasila itu menarik, terutama ketika ia membahas aspek ‘civil religion’-nya ideologi negara itu. Dlm hal ini, Yudi sangat terbantu dg pemikiran sosiolog Robert Bellah.

Yudi Latif dalam diskusi PGK: Ingin Pendidikan melahirkan sosok berkarakter/berakhlak guna Perbaiki Kualitas Hidup Manusia Indonesia

KONFRONTASI- Dibuka oleh Bursah Zarnubi (mantan anggota DPR-RI) dan dipandu oleh aktivis Beni Pramula, Cendekiawan Yudi Latif menghadirkan buku terbarunya berjudul ”Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif” dalam diskusi publik melalui webinar di Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jakarta Selasa malam tadi (27/10).

Diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan: Dr Yudi Latif Tekankan Ketahanan Budaya untuk Atasi Pandemi

KONFRONTASI- MANTAN Wakil Rektor Universitas Paramadina/mantan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif memaparkan keberhasilan sejumlah negara dalam mengatasi krisis akibat pandemi covid-19 karena memiliki ketahanan budaya yang kuat, seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.   

Dialog Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK): Keadilan Sosial Harus Dipertimbangkan dan Diimplementasikan, demikian pandangan Daniel Dhakidae PhD

KONFRONTASI- Dalam forum webinar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) semalam, cendekiawan/Pemimpin Redaksi jurnal Prisma Dr Daniel Dhakidae  MA menekankan bahwa menarik hikmah dari pandemi Corona dewasa ini,  tatanan baru kehidupan ke depan harus mempertimbangkan dan mengimplementasikan keadilan sosial dan keadilan distributif bagi  seluruh rakyat di Indonesia , dan dalam konteks global, keadilan sosial  bagi seleuruh ummat manusia di dunia agar ummat manusia dan lingkungan hidup bisa s

Yudi Latif di PGK Sukabumi: Perkuat Modal Sosial Dalam Mengelola Keberagaman

KONFRONTASI -   Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk. Selain wilayah yang terbentang luas, Indonesia juga merupakan taman sari dunia, karena segala keragaman manusia di muka bumi ada keturunannya di Indonesia. Karena itu para pemimpin bangsa dituntut mampu mengelola keberagaman ini dengan memperkuat modal sosial (social capital).

Yudi Latif: Jika Ingin Perkaya Diri Sendiri, Jangan Bermimpi Jadi Pemimpin di Indonesia

KONFRONTASI-Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk. Selain wilayah yang terbentang luas, Indonesia juga merupakan taman sari dunia, karena segala keragaman manusia di muka bumi ada keturunannya di Indonesia. Karena itu para pemimpin bangsa dituntut mampu mengelola keberagaman ini dengan memperkuat modal sosial (social capital).

Yudi Latif Paparkan Modal Sosial Kunci Pembangunan Nasional

KONFRONTASI -   Cendekiawan Muslim, Yudi Latif, menilai pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan modal finansial, keterampilan, maupun modal Sumber Daya Alam. Negara seluas dan semajemuk Indonesia yang paling utama diperkuat adalah modal sosial (social capital).

Selama ini, kata dia, masyarakat Indonesia masih sering bertengkar untuk hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan modal sosial. Perbedaan merupakan takdir yang tidak bisa ditolak, apalagi dilawan. Maka, perbedaan itu harus dirajut di bawah naungan pancasila.

Yudi Latif: Sosialisme Berbeda dengan Komunisme

KONFRONTASI-Pengamat politik Yudi Latief menyatakan pandangan marhaenisme semakin terpinggirkan akibat masyarakat selalu mengasumsikannya sebagai paham komunis. Padahal marhaenisme, menurut dia, merupakan paham dari sosialisme yang elemennya berpihak kepada keadilan sosial.

"Seringkali kita ini tidak bisa membedakan antara sosialisme dan komunisme, seolah-olah sosialis itu pasti komunis, padahal tidak begitu," kata Yudi Latief, di Jakarta, Selasa (23/7).

Pages