Universitas Indonesia (UI)

Ahli Epidemiologi: Masker adalah Vaksin Terbaik, Jangan Tunggu yang Belum Pasti

Konfrontasi - Ahli epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menegaskan, saat ini masker merupakan "vaksin" terbaik untuk mencegah penularan Covid-19.

Menurut Pandu, pemerintah harus terus mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya memakai masker di masa pandemi ini.

Perjalanan Laeli, Wanita Sadis Pemutilasi di Apartemen Kalibata, Mantan Aktivis dan Pelakor yang Kejam

Konfrontasi - Sosok Laeli Atik Supriyatin mendadak menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ini berkaitan aksi kejinya membunuh dan memutilasi Rinaldi Harley Wismanu, yang dilakukannya bersama kekasihnya, Djumadil Al Fajri.

Viral beredar kabar, Laeli merupakan orang ketiga dalam rumah tangga Fajri.

Dari keterangan polisi, perbuatan kejam itu dilakukan Laeli dan Fajri dengan alasan ingin menguasai harta Rinaldi. Setelah kasus pembunuhan tersebut terungkap, belakangan netizen menguak masa lalu keduanya di media sosial Twitter.

Larangan Politik Praktis Bagi Maba UI, Politikus Gerindra: Mengingatkan Pasca Peristiwa Malari 1974

Konfrontasi - Politikus Gerindra Hamimatul Aliyah memberikan tanggapan perihal dengan kebijakan Universitas Indonesia (UI) yang melarang mahasiswanya ikut politik praktis.

Ia menilai bahwa kebijakan akedemisi yang diterapkan kampus UI tersebut merupakan aturan karet yang mengekang hak politik mahasiswa.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI itu dalam keterangan persnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/9/2020).

Pakar Kesehatan UI: PSBB di DKI Berhasil jika 85 Persen Masyarakat Pakai Masker

Konfrontasi - Pakar Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan mengatakan, setidaknya sebanyak 85 persen masyarakat di DKI Jakarta harus memakai masker untuk mendukung keberhasilan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Peningkatan pemakaian masker itu disarankan dilakukan setelah PSBB di DKI Jakarta nantinya telah dilonggarkan kembali.

Ekonom Dorong Maksimalkan Potensi Pajak Selain Cukai Rokok

Konfrontasi - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Vid Adrison mengatakan bahwa pemerintah harus memanfaatkan sumber pajak lain selain cukai, termasuk dari cukai rokok.

Hal itu diungkap kepala Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Vid Edison dalam diskusi virtual "Pandemi, Harga Cukai, dan Naik Perokok Anak", Sabtu (5/9/2020).

Menurut Vid, fakta pertama bahwa merokok berbahaya sehingga konsumsi harus dikendalikan. Kemudian, fakta kedua adalah bahwa revenues dari cukai itu besar sekali.

Nah, Vid mengatakan, kalau seandainya mau pro pengendalian, berimplikasi pada revenues. Sebaliknya, kalau pro revenues pasti implikasinya pada pengendalian.

Namun, Vid menjelaskan sebetulnya ada sesuatu yang salah bila dilihat dari aspek lain,  tax revenues Indonesia rendah yakni 9 persen tax to GDP ratio. Menurut Vid, implikasinya adalah ketika penerimaan dari sumber lain rendah maka pemerintah akan memanfaatkan dari cukai.'

"Padahal sebetulnya filosopi cukai itu adalah pengendalian bukan untuk revenue," tegas Vid. "Sekarang pertanyaannya kenapa di negara lain itu bisa berhasil? Sederhana, karena tax revenues mereka tinggi," kata Vid.

Jadi, Vid menegaskan, selama tax revenues rendah, maka pasti tidak akan selesai pro dan kontra apakah pro pengendalian atau revenues. "Jujur,  tidak akan selesai," tegasnya.

Ia mengatakan bahwa di negara lain kontribusi cukai terhadap revenues kecil. Artinya, kata dia, negara-negara tersebut memanfaatkan sumber lain sehingga kebijakan cukainya lebih ke arah pengendalian.

"Jadi, selama tidak clear cukai ini mau ke arah mana, dan selama revenue sumber lain rendah, saya masih menganggap ini bakal terus-terusan berulang," kata Vid.

Lebih lanjut Vid menjelaskan bahwa yang paling dominan untuk mengurangi konsumsi rokok sebetulnya adalah harga. Menurut dia, harga bisa dipengaruhi dua hal yakni pajak dan cukai, serta harga minimum.

Vid mengatakan Indonesia kebetulan memiliki sistem paling kompleks di dunia, karena struktur cukainya terdiri dari empat komponen.

Yakni, jenis produksi apakah buatan tangan atau mesin. Kedua, golongan produksi apakah masuk di atas III atau di bawahnya. Ketiga, adalah rasa yakni kretek atau rokok putih. Keempat harga jual eceran atau HJE.

"Jadi kompleks, superkompleks. Di negara yang sudah lebih ke arah pengendalian, itu sistem cukainya sederhana," kata Vid.

Menurut Vid, struktur yang paling bagus adalah spesifik dan simple. "Kita, sudah spesifik tetapi kompleks," tegasnya.

Dia menambahkan struktur lebih simple dan spesifik menguntungkan revenues dan pengendalian. Namun, lanjut dia tentu juga dengan syarat revenues dari sumber pajak lain harus bagus. Kalau revenues dari yang lain tidak bagus, di ujung-ujung tahun, pasti akan menggenjot cukai.

Kriminolog UI Ingatkan Masyarakat Tak Terhasut Ajakan Berbuat Rusuh di Tengah Wabah Corona

Konfrontasi - Pemerintah terus berjuang mengatasi wabah virus Corona. Namun ada pihak-pihak yang melakukan hasutan dan provokasi untuk melakukan tindakan anarkis. Untuk itu masyarakat diingatkan tidak mudah terprovokasi.

"Jangan mudah terhasut dan percaya dengan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya," ujar Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Mohammad Kemal Dermawan dalam keterangannya, Jumat (17/4/2020).

Puji CEO Gojek untuk Jadi Menteri Jokowi-Ma'ruf Amin, Ekonom UI: Bisa Tiru Malaysia

Konfrontasi - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fitra Faisal menilai CEO Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim layak menjadi menteri pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Fitra, Indonesia bisa meniru Malaysia dalam mengangkat Syed Syaddiq sebagai menteri pemuda dan olahraga.

Baca Nih, Isu Rasisme yang Dipakai KKB Tidak Mendasar

Konfrontasi - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menilai isu diskriminatif, rasisme, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu disuarakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat ada permasalahan di Papua dinilai sama sekali tidak punya dasar.

Upaya yang dilakukan pihak-pihak yang sengaja ingin memecah Papua tersebut tidak pernah mendapat sedikit pun respons dari masyarakat internasional dan juga PBB, termasuk saat kerusuhan di Wamena.

Pages