Turki

Siap Perang, Pasukan Turki Penuhi Barat Laut Suriah

KONFRONTASI-Sumber militer oposisi pemerintah Suriah mengatakan sudah ada 15 ribu pasukan Turki yang berada di barat laut negara itu. Sebelumnya Turki mengirimkan konvoi besar pasukan mereka untuk memenuhi wilayah tersebut.

"Anda tidak bisa membayangkan skala bala bantuan Turki, setengah Reyhanli kini penuh berisi komandan Turki yang siap memasuki Suriah," kata sumber tersebut, Kamis (20/2).

Negoisasi Gagal, Turki-Suriah di Ambang Perang

KONFRONTASI-Operasi militer Turki untuk memukul mundur serangan pasukan pemerintah Suriah terhadap pemberontak di barat laut negara itu hanya tinggal menunggu waktu setelah negosiasi dengan Rusia menemui kegagalan, ujar Presiden Tayyip Erdogan.

Pasukan Turki telah membanjiri wilayah Idlib dan lebih banyak lagi tentara negara itu sedang menuju ke daerah perbatasan.

Alhasil, pasukan Turki tak lama lagi akan berhadapan langsung dengan pasukan Suriah yang didukung Rusia.

Kremlin mengatakan bentrokan antara pasukan Turki dan Suriah akan menjadi "skenario terburuk" dan Rusia akan berusaha untuk mencegah situasi semakin buruk.

Pasukan Suriah yang didukung oleh pesawat tempur dan pasukan khusus Rusia telah bertempur sejak Desember untuk membasmi para pemberontak di benteng terakhir mereka yang berada di provinsi Idlib dan Aleppo

Operasi militer yang dilakukan pasukan Suriah itu bisa menjadi salah satu episode terakhir perang saudara tersebut, yang sudah berlangsung selama sembilan tahun. 

Sudah hampir satu juta warga sipil mengungsikan diri dari serangan udara dan serangan artileri ke arah perbatasan. Keadaan itu membuat badan-badan bantuan internasional kewalahan menangani krisis kemanusiaan.

Turki, yang telah menampung 3,6 juta pengungsi Suriah, mengatakan tidak dapat menangani lebih banyak lagi pengungsi.

Ketika berbicara kepada anggota parlemen dari Partai AK yang berkuasa pada Rabu, Erdogan mengatakan Turki bertekad menjadikan Idlib sebagai zona aman. Perundingan dengan Rusia akan dilanjutkan. Sejauh ini, beberapa putaran perundingan diplomatik gagal mencapai kesepakatan, katanya.

"Kami memasuki hari-hari terakhir bagi rezim untuk menghentikan permusuhannya di Idlib. Kami membuat peringatan terakhir," kata Erdogan, yang negaranya memiliki jumlah tentara terbesar kedua di NATO.

"Turki telah melakukan persiapan untuk melaksanakan rencana operasi militer sendiri. Saya katakan bahwa kita dapat datang kapan saja. Dengan kata lain, serangan Idlib hanya masalah waktu."

 

Viral, Fenomena Banjir 'Darah' Usai Gempa di Turki

KONFRONTASI -   Pada bulan Januari 2020, Turki mengalami gempa yang cukup besar, yaitu 6,8 magnitudo. Gempa tersebut memakan korban jiwa sebanyak 36 orang dan korban luka-luka 1.607 orang. Gempa bumi terjadi pada kedalaman sekitar 9 mil dan berpusat di dekat distrik Sivrice, di provinsi Elazig, Turki timur.

Kemudian provinsi itu diguncang lebih jauh oleh serangkaian gempa susulan mulai dari antara 5,4 hingga 3,3 skala Richter. Sehabis gempa muncul fenomena aneh yang meresahkan yaitu berubahnya air menjadi merah seperti darah.

Gulen Ramalkan Erdogan Bakal Tumbang Seperti Hitler

KONFRONTASI- Ulama berpengaruh di Turki, Fethullah Gulen, menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan akan berakhir dengan buruk. Erdogan yang membatasi kebebasan berpendapat warganya akan jatuh seperti yang dialami pemimpin Nazi Adolf Hitler atau Josep Stalin di Rusia.

“Akhir dari semua tiran narsis sudah selesai, seperti Hitler atau Stalin. Erdogan akan mengalami nasib yang sama,” ujar Gulen seperti dikutip media utama Jerman, Die Welt, Rabu (29/1).

Bangsa Barat Bukan Pencipta Robot, Robot Pertama di Dunia Diciptakan oleh Ilmuwan Muslim dari Turki

KONFRONTASI -  Tahukah kalian bahwa teknologi robot pertama ternyata dibuat oleh seorang ilmuwan muslim yang bernama Musa Dede. Cerita tersebut sudah dimasukan dalam sebuah dokumen sejarah kekaisaran Ottoman. Diketahui ilmuwan muslim tersebut berasal dari negara Turki.

Cerita ilmuwan muslim membuat teknologi robot bermula di tahun 1887, pada saat itu keponakan kaisar jepang yang bernama pangeran Komatsu ingin berkunjung ke Istanbul untuk memberikan hadiah kepada Sultan Abdulhamid Han.

Bom Mobil Sasar Kontraktor Turki di Somalia

KONFRONTASI-Bom mobil yang menyasar kelompok kontraktor Turki meledak pada Sabtu di Afgoye, barat laut ibu kota Somalia Mogadishu, demikian keterangan polisi.

Tidak ada informasi segera mengenai korban.

"Mobil sarat bom yang sedang melaju kencang menghantam sebuah restoran, tempat para insinyur Turki dan polisi Somalia sedang makan siang," kata petugas polisi Nur Ali kepada Reuters dari Afgoye.

Alasan Mahkamah Konstitusi Turki Buka Akses Wikipedia

Konfrontasi - Mahkamah Konstitusi (MK) Turki membuka kembali akses Wikipedia setelah 2,5 tahun dilarang. Hal ini karena, seperti dilansir dari laman The Verge, Jumat, 17 Januari 2020, pengadilan menemukan jika larangan tersebut telah melanggar kebebasan berekspresi pada akhir tahun lalu.

Pernyataan pengadilan ini kemudian dipublikasi, dan beberapa jam kemudian akses ke Wikipedia dibuka.

Turki Lakukan Ekspansi ke Libya, Dinilai Bersumber Pada Keyakinan Datangnya Mahdi

KONFRONTASI -   Adnan Tanrıverdi Kepala Penasehat Keamanan Militer Presiden Recep Tayyip Erdoğan, dan pendiri perusahaan paramiliter yang disponsori pemerintah Turki SADAT, yang membuat heboh dunia Arab dan juga media akhirnya mengundurkan diri. Ini karena pernyataan kontroversialnya pada pekan lalu bahwa pihaknya sedang mempersiapkan kedatangan seorang Mahdi, tokoh penyelamat dan pemimpin yang telah lama ditunggu-tunggu dan dikirim untuk memimpin dunia Islam.

Turki Bisa Lanjutkan Proses Hukum Kasus Khashoggi

KONFRONTASI -   Turki menyatakan, keputusan Arab Saudi menghukum mati lima orang yang terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi tidak akan menghentikan langkah negaranya melanjutkan proses hukum. Khashoggi dibunuh di Konsulat Arab Saudi, di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018.

Pengacara kriminal Ersan Sen mengatakan kepada Anadolu Agency, Turki memiliki hak pengadilan atas kasus pembunuhan Khashoggi. Sebab, keputusan pengadilan Arab Saudi tidak mengikat.

Pages