23 April 2019

Terorisme

Terorisme Bukanlah Jihad

KONFRONTASI-Peristiwa penabrakan dua pesawat komersial pada menara kembar World Trade Cente (WTC) di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001 adalah titik balik beralihnya perhatian dunia pada dunia Islam.

Sejumlah label bagi Islam dan Muslim muncul menyusul peristiwa yang hingga kini masih dianggap memiliki banyak kejanggalan tersebut.

Islam dianggap dan disebut sebagai agama yang mengajarkan terorisme, mendorong praktik-praktik radikal, ekstrem dan kekerasan, sementara Umat Islam dipandang sebagai entitas yang mengancam kehidupan sosial, barbarik dan terbelakang.

Tiga belas tahun setelah peristiwa yang dikenal dengan 911 itu, muncul gerakan kekerasan yang mengatasnamakan Islam dengan nama ISIS (the Islamic State of Iraq and Syria) atau Negara Islam Irak dan Suriah yang mendapat perhatian global setelah merebut pemerintahan di Irak.

Jihadis

Mengaitkan Islam dengan terorisme berarti menciptakan permusuhan dengan sekitar 1,7 miliar Muslim di seluruh dunia.

Pada September 2016, Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama mengatakan bahwa dia tidak akan menggunakan istilah Islamic terrorism atau "terorisme Islami" untuk merujuk tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim dan mengaku melakukan kejahatan semacam itu atas nama Islam.

Politisi demokrat Hillary Clinton juga menolak menggunakan istilah radical Islamic terrorist atau "teroris Islam radikal" dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berperang melawan Islam.

Namun, dia menggunakan istilah violent jihadist terrorists atau "teroris jihadis" yang masih mengaitkan terorisme dengan Islam, khususnya jihad yang merupakan salah satu ajaran dalam agama tersebut.

ISIS menyatakan kelompok mereka sebagai "jihadist" atau "jihadi" yang berarti orang yang melakukan jihad atau menurut mereka juga bermakna "perang suci".

Pengakuan para teroris itu ditelan mentah-mentah oleh para politisi dan media yang turut menyebut para teroris yang berlatar belakang Muslim sebagai jihadi atau jihadis.

Sementara banyak pihak masih belum bersepakat untuk mendefinisikan terorisme, jihad disebutkan dalam Al Quran dan dijabarkan secara jelas oleh para ahli fikih sejak berabad lalu.

Arti harfiah jihad berasal dari kata Arab yang berarti berjuang atau bekerja dengan penuh semangat, bersusah payah, tekun, rajin, dan bersungguh-sungguh.

Dengan makna ini setiap upaya untuk mencapai tujuan hidup adalah jihad, seperti belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan gelar pendidikan, melahirkan bayi, membela diri dan mempertahankan harta benda dari penjahat dan pencuri, dan bekerja untuk mendapatkan uang.

Sepanjang sejarah Islam, para sarjana Muslim telah mengembangkan makna jihad yang telah menghasilkan berbagai pandangan, terutama tentang bagaimana mempraktikkan jihad dalam kehidupan kontemporer oleh seorang Muslim.

Interpretasi yang berbeda tentang jihad tidak bisa dihindari, tetapi pendapat yang tak sama tersebut dapat diterima selama didasarkan pada dua sumber utama Islam yakni Al Quran dan hadis.

Karenanya, versi jihad menurut kelompok Al Qaeda dan ISIS/ ISIL (the Islamic State of Iraq and the Levant --Syam yang meliputi wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Israel dan Palestina) tidak dapat diterima karena tindakan mereka yang dianggap jihad dilakukan dalam bentuk kejahatan yang memakan banyak korban jiwa dan menebar ketakutan di tengah masyarakat.

Fuqaha atau ahli hukum Islam praktis memang menjelaskan makna jihad dari suatu kondisi peperangan atau perlawanan terhadap sesuatu yang dapat membahayakan wilayah Islam serta Muslim dan non-Muslim yang tinggal di wilayah itu.

Bentuk jihad ini juga disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Baqarah ayat 190-191 yang karena ayat-ayat itu mengandung perintah, jihad untuk Muslim adalah sebuah kewajiban.

Namun, jihad sebagai tindakan militer hanya dapat dilakukan dalam keadaan tertentu dan harus memenuhi sejumlah syarat, di antaranya adalah diserukan oleh pemimpin Islam yang satu, tidak merusak alam, dan tidak memerangi mereka yang lemah, seperti kaum perempuan, anak-anak, orangtua bahkan para pemuka agama.

Kominfo Blokir 500 Situs Sepanjang Tahun 2018

Konfrontasi - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) 2018 telah memblokir 500 situs sampai November tahun ini yang memuat konten terorisme, radikalisme, dan separatisme.
 

Saudi Ajak Indonesia Gabung ke Koalisi Antiterorisme

KONFRONTASI-Semua negara saat ini gencar melakukan upaya pemberantasan terorisme. Tidak hanya menjadi urusan negara itu sendiri, upaya membentuk aliansi antarnegara untuk memberantas kejahatan luar biasa tersebut juga aktif dilakukan. Salah satu yang agresif adalah Arab Saudi.

Negara paling berpengaruh di Timur Tengah itu mensponsori berdirinya koalisi militer negara-negara Islam untuk memberantas terorisme (Islamic Military Counter Terrorism Coalition/IMCTC) pada November 2017.

MK Tolak Uji Materi UU Terorisme

KONFRONTASI-Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusannya menyatakan tidak dapat menerima permohonan uji Pasal 1 angka 2 UU 5/2018 (UU Terorisme) yang diajukan oleh dua aktivis mahasiswa.

"Amar putusan mengadili, menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima," ujar Ketua Majelis Hakim Konstitusi Anwar Usman ketika membacakan amar putusan Mahkamah di Gedung MK Jakarta, Rabu.

Dalam pertimbangannya, Mahkamah menilai para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum untuk bertindak sebagai pemohon dalam perkara itu.

Al Chaidar Sebut Pembantaian di Papua Bentuk Terorisme Tamkin, TNI yang Harus Turun Tangan

KONFRONTASI-Pengamat terorisme asal Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar mengatakan, bahwa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap para pekerja Trans Papua di Distrik Yigi, Kabupetan Nduga dan satu anggota TNI merupakan jaringan kelompok teroris Tamkin. Jaringan kelompok teroris Tamkin adalah organisasi ideologis statis yang secara ketat terikat pada lokasi-lokasi tertentu. 

BNPT Minta Masyarakat Waspadai Pencucian Otak Lewat Medsos

KONFRONTASI-Masyarakat diimbau mewaspadai pencucian otak yang dilakukan oleh kelompok teroris melalui berbagai media sosial.

"Dengan kemajuan teknologi informasi digital seperti sekarang ini, pencucian otak oleh kelompok teroris bisa dilakukan dengan `online` (daring), bermodal sinyal," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius di Semarang, Rabu.

Dukung ISIS, WNI Dihukum 18 Bulan Penjara di Malaysia

KONFRONTASI-Pengadilan Malaysia menjatuhkan vonis 18 bulan penjara terhadap Mohd Al-Arsyi bin Mus Budiono, warga Indonesia yang menjadi tenaga kerja di Malaysia, setelah dinyatakan bersalah terkait dakwaan teror.

Dalam sidang putusan di pengadilan tinggi Kuala Lumpur, hakim Mohd Nazlan Mohd Ghazali menyebut bahwa TKI yang menjadi buruh konstruksi itu terbukti bersalah untuk pemilikan foto-foto dan video terkait terorisme, khususnya ISIS.

BNPT Minta Pemda Proaktif Cegah Terorisme

KONFRONTASI-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan, pemerintah daerah (pemda) memiliki peran vital untuk menanggulangi terorisme.

Karena itu, pemda harus proaktif dengan berbagai dinamika radikalisme dan terorisme yang ada di wilayahnya masing-masing.

“BNPT sangat berkepentingan dengan pemda dalam penanggulangan terorisme. Kenapa? Sebab, berbicara terorisme, tidak hanya penegakan hukum, tetapi pencegahan juga sangat penting,” ujar Suhardi, Rabu (17/10).

Peran Pemerintah Daerah Sangat Vital Dalam Penanggulangan Terorisme

KONFRONTASI - Pemerintah Daerah (Pemda) dari tingkat provinsi, kabupaten, kota, bahkan sampai ke desa, memiliki peran vital dalam penanggulangan terorisme. Karena itu, Pemda proaktif dan tidak cuek dengan berbagai dinamika radikalisme dan terorisme yang ada di wilayahnya masing-masing.

Polisi Diraja Malaysia Amankan Delapan Terduga Tetoris

KONFRONTASI-Bagian Khusus Kontra Terorisme Polisi Diraja Malaysia (PDRM) pada akhir September telah menangkap delapan orang yang dicurigai sebagai bagian dari kelompok teroris yang memegang ideologi salafi jihadi.

"Delapan orang terdiri tujuh warga negara asing dan satu warga lokal ditangkap dalam operasi di Perlis, Kuala Lumpur dan Johor," ujar Kepala PDRM, Irjen Tan Sri Dato` Sri Mohamad Fuzi Bin Harun kepada media, Sabtu.

Pages