20 August 2018

Setya Novanto

Setya Novanto Dapat Kartu NU, Mahfud MD Tidak Dianggap

KONFRONTASI -  -Drama gagalnya Mahfud MD sebagai bakal cawapres pendamping Jokowi terus berlanjut. Hal ini setelah Mahfud MD blak-blakan di acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa malam (14/8/2018). Salah satu alasan yang membuat namanya terpental adalah pernyataan elite NU yang menyebut Mahfud bukan kader NU. 

Keponakan Novanto Didakwa Rekayasa Suap

KONFRONTASI -    Mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo didakwa merekayasa proses lelang dalam proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik ( e-KTP). Irvan juga didakwa menjadi perantara suap untuk sejumlah anggota DPR RI.

Perasaan Bimbang Dokter Bimanesh: Saya Merasa Bersalah Merawat Setya Novanto

KONFRONTASI -   Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo bersikukuh tidak berniat merintangi penyidikan KPK. Pernyataan itu ia sampaikan dalam nota pembelaan atau pledoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Bimanesh mengklaim tindakannya merawat Setya Novanto, murni menjalankan profesinya sebagai dokter yang terikat sumpah bahwa seorang dokter harus menangani pasien apapun latar belakangnya. Soal adanya dampak dari perbuatannya itu, Bimanesh mengaku tak mengetahui.

Jaksa Tuntut Dokter Bimanesh 6 Tahun Penjara

KONFRONTASI-Dokter spesialis penyakit dalam di RS Medika Permata Hijau Jakarta, Bimanesh Sutardjo dituntut enam tahun penjara ditambah denda Rp300 juta subsider tiga bulan kurungan karena dinilai terbukti merintangi pemeriksaan Setya Novanto dalam perkara korupsi KTP-Elektronik.

"Menuntut agar majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi memutuskan menyatakan terdakwa Bimanesh Sutarddjo terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah secara bersama-sama dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan terhadap tersangka dalam perkara korupsi. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun ditambah denda sebesar Rp300 juta dengan ketentuan bila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan," kata Jaksa Penuntut Umum KPK Kresno Anto Wibowo di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pasal 21 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU no 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

"Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi terdakwa tidak mengakui terus terang perbuatan yang dilakukan," tambah jaksa Kresno.

Sedangkan hal-hal yang meringankan adalah Bimanesh bersikap sopan selama proses persidangan, telah memberikan keterangan yang membuka peran dan perbuatan pelaku lain yakni Fredrich Yunadi.

"Terdakwa merasa menyesal telah melakukan perbuatannya mengikuti kehendak pelaku lainnya tersebut, terdakwa telah mempunyai banyak jasa dan pengabdian kepada masyarakat dalam profesinya selaku dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi serta masih diperlukan pasiennya sebagaimana dalam dokumen testimoni pasien-pasien gagal ginjal terminal peserta BPJS di unit cuci darah pada RS Haji, RS Medika BSD dan RS Medika Permata Hijau," ungkap Jaksa Kresno.

Bimanesh Sutardjo sebagai dokter spesialis penyakit dalam di RS Medika Permata Hijau dihubungi advokat Fredrich Yunadi untuk meminta bantuan agar Setya Novanto dapat dirawat inap di RS Medika Permata Hijau dengan diagnosa menderita beberapa penyakit salah satunya hipertensi. Ia menyanggupi untuk memenuhi permintaan Fredrich meski tahu bahwa Setnov memiliki masalah hukum dalam kasus korupsi proyek KTP-E.

Bimanesh menghubungi Plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau dokter Alia melalui telepon agar disiapkan ruang VIP untuk rawat inap pasiennya Setya Novantol. Dokter Alia lalu mengatakan kepada dokter Michael Chia Cahaya yang saat itu bertugas sebagai dokter jaga di IGD bahwa akan masuk pasien bernama Setnov dengan diagnosis penyakit hipertensi berat.

Dokter Michael menolak karena untuk mangeluarkan surat pengantar rawat inap dari IGD harus dilakukan pameriksaan dahulu terhadap pasien. Selain itu, Fredrich juga menemui dokter Alia untuk melakukan pengecekan kamar VIP 323 sekaligus meminta kepada dokter Alia agar alasan masuk rawat inap Novanto yang semula adalah penyakit hipertensi diubah dangan diagnosa kecelakaan.

"Sekitar pukuI 18.30 WIB, terdakwa datang ke RS Medika Permata Hijau menemui dokter Michael, menanyakan keberadaan Setya Novanto di ruang IGD yang dijawab bahwa Setya Novanto belum datang dan hanya Fredrich selaku pangacara Setya Novanto yang datang meminta surat pangantar rawat Inap dari IGD dengan keterangan kecelakaan mobil namun ditolak dokter Michael karena dia belum memeriksa Setya Novanto," ucap jaksa.

Bimanesh kemudian membuat surat pengantar rawat inap manggunakan formulir surat pasien baru IGD, padahal dia bukan dokter jaga IGD.

Sekitar pukul 18.45 WIB, Novanto tiba di RS Medika Permata Hijau dan langsung dibawa ke kamar VIP 323 sesuai dengan Surat Pengantar Rawat Inap yang dibuat terdakwa.

Bimanesh juga menyampaikan kepada suster Indri Astuti agar luka di kepala Setnov untuk diperban dan agar pura-pura dipasang infus, yakni sekedar hanya ditempel saja, namun Indri tetap melakukan pemasangan infus menggunakan jarum kecil ukurun 24 yang biasa dipakai untuk anak-anak.

Fredrich lalu memberikan keterangan kepada pers bahwa Setnov mengalami luka parah dengan beberapa bagian tubuh, berdarah-darah serta terdapat benjolan pada dahi sebesar bakpao, padahal Setnov hanya mengalami beberapa luka ringan pada bagian dahi, pelipis kiri dan leher sebelah kiri serta lengan kiri.

Akhirnya Setya Novanto Bocorkan 5 Nama yang Terima Uang E-KTP, Semuanya Politisi Dari Partai ini

 KONFRONTASI - Mantan Ketua DPR Setya Novanto dan keponakannya, Irvanto Pambudi Cahyo, bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (21/5/2018).

Kedua politisi Partai Golkar itu sama-sama bersaksi untuk terdakwa mantan Direktur PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo.

Seperti sebelumnya, Novanto kembali mengungkap sejumlah nama politisi dan anggota DPR yang diduga ikut menerima uang dalam korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Novanto Mulai Cicil Uang Pengganti e-KTP

KONFRONTASI-Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto mulai mencicil uang pengganti terkait terkait perkara tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan KTP berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP-e).

"Selain uang titipan Rp5 miliar sebelumnya, pihak Setya Novanto sudah mulai mencicil uang pengganti sebesar 100 ribu dolar AS," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu.

Febri menyatakan bahwa KPK sudah menyampaikan ke pihak Novanto agar pembayaran dilakukan dalam bentuk dolar AS sesuai dengan amar putusan hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Setelah putusan "inkracht", pihak Novanto wajib membayar uang pengganti sesuai amar putusan hakim.

Mengacu ke Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, jika tidak dibayar maka dapat dilakukan penyitaan aset dan dilelang untuk negara.

"KPK tentu akan memperhatikan aturan yang berlaku terkait eksekusi ini, termasuk jika ada yurisprudensi yang tepat," ucap Febri.

Untuk diketahui, Novanto telah dieksekusi ke Lapas Sukamiskin Bandung Jawa Barat pada 4 Mei 2018 lalu.

KPK Perpanjang Penahanan Keponakan Setya Novanto

KONFRONTASI -  KPK perpanjang penahanan keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang merupakan tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.

Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah penahanan mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera itu diperpanjang  selama 30 hari ke depan.

Mahyudin: Golkar Hormati Novanto Tidak Banding

KONFRONTASI - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin mengatakan partainya menghormati keputusan Setya Novanto tidak melakukan upaya banding atas vonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta karena terbukti mengorupsi duit proyek KTP elektronik.  "Kami hormati apa yang diputuskan oleh Pak Novanto," ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (4/5).

Mahyudin mengatakan apa yang dilakukan Novanto adalah bukti bahwaproses hukum bisa berjalan dinamis. Sekalipun punya hak banding, Novanto memilih menerima keputusan pengadilan tingkat pertama.

Bimanesh: Kecelakaan Novanto Rekayasa, Lukanya Cuma Lecet Sedikit

KONFRONTASI-Terdakwa kasus merintangi penyidikan, dr Bimanesh Sutarjo, menyebut kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto merupakan rekayasa. Alasannya, luka di tubuh Novanto tidak sesuai dengan kejadian kecelakaan.

"Nggak mungkin lah kecelakaan ini terjadi bukan direkayasa. Saya katakan bahwa saya periksa pasien, itu keadaan pasien fisik cederanya nggak sesuai dengan sebuah kecelakaan," kata Bimanesh kepada Fredrich Yunadi yang bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (4/5/2018).

Bimanesh menyatakan kejanggalan terdapat pada luka lecet yang dialami Novanto saat ia memeriksanya di rumah sakit. Menurutnya, jika laporan polisi kaca mobil disebelah kiri yang ditumpangi mantan Ketua DPR itu pecah, maka kepala Novanto juga bisa pecah.

"Laporan polisi menyatakan kaca belakang kiri pecah, kalau pecah pasti kepala juga pecah. Saya sudah lihat kejanggalan ketika malam hari saya melihat pasien. Memang ada hipertensi, tapi pas diantar karena kecelakaan kendaraan bermotor, saya lihat ini nggak mungkin," jelas Bimanesh.

"Hanya luka lecet kecil sangat nggak mungkin (kecelakaan). Apalagi kaca belakang pecah, kepala pasti luka," imbuhnya.

Atas lukanya Novanto, Bimanesh mengaku membuat sebuah visum kecelakaan mobil di Jalan Permata Hijau, Jakarta. Jika visum luka dengan lokasi kecelakaan dicocokkan maka bisa diketahui kebenarannya.

"Maaf Yang Mulia, visum itu suatu petunjuk yang saya berikan untuk polisi. Kalau penyidikan itu benar, itu bisa ambil kesimpulan dari apa yang saya buat analisnya. Mencocokkan di TKP, dari pasien seperti itu apa iya? Makanya, saya setuju dengan pengacara saya, bahwa betul ini suatu rekayasa bukan kecelakaan, saya harus objektif saya kan dokter bukan lawyer," jelas Bimanesh.

Kasus e-KTP: Novanto Isyaratkan Bakal Ada Tersangka Lain

KONFRONTASI-Tersangka tindak pidana korupsi pengadaan KTP Elektronik (KTP-el), Setya Novanto, mengisyaratkan bakal ada tersangka lain selain dirinya yang terjerat kasus proyek KTP-el.

"Mungkin bisa ada tersangka-tersangka lain kalau lihat kasus ini. Kalau liat perkembangan itu semuanya KPK yang lebih tahu," ujar Setnov sebelum masuk ke Lapas Klas 1A Sukamiskin, Kota Bandung, Jumat.

Pages