Rodrigo Duterte

Trump Puji Cara Duterte Tangani Narkoba

KONFRONTASI-Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas "penanganan hebat yang dijalankan terhadap masalah narkoba".

Pujian itu disampaikan Trump dalam pembicaraan melalui telepon bulan lalu, demikian menurut laporan New York Times yang mengutip salinan pembicaraan, lapor Reuters.

Kedua pemimpin juga berbicara tentang Korea Utara dan potensi pengaruh China, lapor New York Times.

Laporan itu mengutip bagian-bagian salinan pembicaraan pada 29 April oleh pihak Filipina, yang dikeluarkan pada Selasa di dalam lembaran bersampul "rahasia" oleh divisi Amerika Departemen Luar Negeri Filipina.

New York Times mengatakan seorang pejabat pemerintahan Trump di Washington, yang meminta agar jati dirinya tidak diungkapkan, membenarkan bahwa transkrip tersebut merupakan salinan akurat pembicaraan telepon kedua pemimpin.

Hampir 9.000 orang, yang banyak di antaranya adalah para pengguna dan pengedar narkoba, terbunuh di Filipina sejak Duterte mulai menjabat sebagai presiden pada 30 Juni.

Kepolisian mengatakan sepertiga dari jumlah korban itu ditembak oleh para personel, dengan dalih membela diri, saat operasi-operasi sah dilancarkan.

"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Anda karena saya mendengar soal penanganan yang hebat terhadap masalah narkoba," lapor New York Times yang mengutip Trump, berdasarkan transkrip.

"Banyak negara yang memiliki masalah (seperti) ini, kami punya masalah, tapi hebat sekali apa yang sedang Anda lakukan dan saya ingin menelepon dan menyampaikan itu pada Anda."

Duterte memenangi pemilihan pada Mei 2016 dengan persentase perolehan suara yang tinggi. Ia kerap dibanding-bandingkan dengan Trump, yang juga merupakan kandidat alternatif di luar arus utama politik.

Reuters belum dapat memastikan segera kebenaran laporan New York Times.

Philippines says Trump recognized 'great job' Duterte is doing

KONFRONTASI-U.S. President Donald Trump was aware of the criticism Philippine counterpart Rodrigo Duterte had received over his controversial war on drugs, but praised him for doing a "great job" when they spoke, Duterte's spokesman said on Tuesday.

Trump's invitation to the Philippine leader to visit him at the White House unleashed a storm of criticism in Washington due to the scale of the bloodshed of Duterte's anti-drugs campaign, which has killed thousands of people over the past 10 months.

The White House defended the invitation made during a phone call on Saturday, acknowledging that though human rights were an important issue, Washington needed allies in Asia to address the global threat of North Korea's development of nuclear weapons.

Duterte's spokesman, Ernesto Abella, said Trump was very much aware of the criticism of Duterte, but had praised him for "doing a great job considering the weight and the enormity of the conditions in the Philippines".

It was not clear if Abella was quoting Trump as praising the anti-drugs campaign specifically, or Duterte's performance as president in general.

"I'm sure he's aware of all these considerations," Abella added, referring to Trump.

"However, from his point of view, it seems like the president of the Philippines is doing a sensible job."

Duterte has received widespread condemnation in the West for failure to curtail the killings and address activists' allegations of systematic, state-sponsored murders by police of drug users and dealers, which the authorities reject.

Trump Undang Duterte ke Gedung Putih

Konfrontasi - Donald Trump mengundang Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Gedung Putih. Undangan tersebut dilayangkan Trump ketika keduanya berbicara via sambungan telepon.

Suasana perbincangan keduanya digambarkan "bersahabat". Dalam kesempatan tersebut, Trump dan Duterte turut membahas kampanye anti-narkoba dan Korea Utara.

Seperti dilansir Asian Correspondent yang mengutip AFP, Minggu (30/1/2017), informasi terkait percakapan Trump dan Duterte tersebut disampaikan oleh pihak Gedung Putih.

Duterte: Biarkan Saja Korut Main Petasan

KONFRONTASI-Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Sabtu malam di Manila, mengaku akan meminta Amerika Serikat menahan diri dan membiarkan Korea Utara bermain dengan petasan, usai Pyongyang menggelar uji coba rudal kendali jarak jauh pada hari yang sama.

"Saya akan menerima telepon dari (Presiden Amerika Serikat) Donald Trump pada malam ini. Saya akan mengatakan kepada dia bahwa jangan sampai ada perang di kawasan ini karena kamilah yang akan menerima dampaknya," kata Duterte di hadapan ratusan wartawan usai menutup Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.

"Biarkan mereka (Korea Utara) bermain dengan rudal. Lihatlah itu seperti Anda melihat dalam festival," kata Duterte sambil menirukan gerakan petasan.

Pada Sabtu pagi waktu setempat, atau satu hari setelah para menteri negara-negara ASEAN mengeluarkan pernyataan keprihatinan mendalam terhadap situasi di Semenanjung Korea, Pyongyang menggelar uji coba rudal kendali jarak jauh.

Duterte mengatakan bahwa situasi tersebut sudah sangat membahayakan dan meminta semua pihak untuk menahan diri.

"Saat ini ada dua negara yang tengah bermain-main, dengan cara yang tidak menghibur. Situasi ini sangat membuat dunia di ambang kehancuran," kata dia.

"Saya meminta Amerika Serikat, sebagai pihak yang memikul tanggung jawab lebih besar, untuk tidak terprovokasi dengan langkah terbaru pemimpin Korea Utara (Kim Jong-un) yang ingin membuat kiamat di dunia," kata Duterte.

Terlibat Berbagai Skandal, Menlu Filipina Dipecat Parlemen

KONFRONTASI-Parlemen Filipina memberhentikan Perfecto Yasay dari jabatan menteri luar negeri pada Rabu, delapan bulan setelah ditunjuk oleh Presiden Rodrigo Duterte, akibat "sejumlah persoalan mendesak" terkait kelayakannya.

Yasay diberhentikan dari jabatannya dalam sidang Kongres dalam keputusan mufakat, beberapa jam setelah sidang uji kelayakan saat Yasay diperiksa terkait status kewarganegaraannya saat menerima pekerjaan sebagai menteri luar negeri.

Philippines halts anti-drugs crackdown to focus on rogue officers

KONFRONTASI - The Philippines’ law enforcement agency has put a stop to its anti-narcotics campaign until its ranks have been cleansed of rogue officers.

“To all the rogue cops, beware! We no longer have a war on drugs. We now have a war on scalawags,” the Philippine National Police (PNP)’s Director-General Ronald dela Rosa told a news conference on Sunday.

Kesal dengan Gereja, Duterte Resmikan Agama Baru di Filipina

Konfrontasi - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte kembali membuat sensasi. Setelah mengakui tidak lagi memeluk Katolik, pria berjuluk Digong itu menyatakan memiliki agama baru, “Iglesia ni Duterte” dan mengajak orang-orang untuk memeluknya.

Duterte mengumbar penghinaan terhadap kepemimpinan Gereja Katolik yang ikut mengusik perang melawan narkoba yang dia kobarkan di Filipina. Pihak Gereja Katolik mengecam gebrakan Duterte itu karena memicu pembunuhan massal di luar hukum dan pelanggaran HAM.

Duterte says once threw man from helicopter, would do it again

KONFRONTASI-Philippine President Rodrigo Duterte has threatened corrupt government officials with the prospect of being thrown out of a helicopter mid-air, warning he has done it himself before and had no qualms about doing it again.

The fiery-tempered former prosecutor said he once hurled a Chinese man suspected of rape and murder out of a helicopter.

Duterte Ancam Bakar Markas PBB

KONFRONTASI -  Presiden Filipina Rodrigo Duterte dikenal dengan ucapannya yang keras dalam menanggapi suatu isu. Kali ini Duterte menanggapi kritik dunia internasional terhadap tindakannya memerangi para pecandu dan pengedar narkoba.
"Kalian silakan mengajukan keberatan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saya akan bakar markas PBB kalau itu yang kalian mau," kata Duterte di Zamboanga, seperti dikutip koran the New York Times dan dilansir Russia Today, Ahad (25/12)/

"Saya akan bakar kalau saya ke Amerika," jelas dia.

Pages