Riau

Setelah Demo UIR Pekanbaru: Jutaan Mahasiswa Indonesia Loyo dan Hidup Segan Mati Tak Mau?

KONFRONTASI- Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru beberapa waktu lalu seakan menjadi tamparan serius kepada seluruh mahasiswa Indonesia.

"Aksi demonstrasi di UIR itu menempeleng jutaan mahasiswa Indonesia lainnya yang saat ini seolah diam dalam melihat permasalahan bangsa," kata Kabid Sospol Gerakan Pemuda Islam (GPI), Eko Saputra saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (11/9).

Angin Kencang Sapu Padi Hampir Panen Petani di Siak

Konfrontasi - Angin kencang disertai hujan lebat beberapa hari lalu menyapu  beberapa Hektare sawah di sejumlah kampung Kemuning Muda, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak, Riau. Walhasil, padi hampir panen itu rebah begitu saja.

Kepala Dusun II Kampung Kemuning Muda, Islahudin, mengatakan, angin kencang cukup meresahkan petani, karena bukan saja padi saja yang rubuh, namun gubuk petani tempat berteduh pun habis.

"Tanaman jagung dan pisang milik petani juga habis diterjang angin," kata Islahudin, di Siak, Minggu (14/1/2018).

Diteriaki Begal, Pemuda 20 Tahun Ini Tewas Diamuk Massa

Konfrontasi - Seorang pemuda bernama Wahyu Fikranda alias Viki di Bangkinang, Riau, bernasib tragis. Pemuda berusia 20 tahun itu tewas di tangan warga yang menuduhnya pelaku begal.

Tidak itu saja, warga juga membakar sepeda motor yang digunakan Wahyu saat itu.

Peristiwa ini terjadi di Dusun II, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, tepatnya di Jalur II Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, Sabtu (16/12), sekitar pukul 21.00 WIB.

Kabar ini sontak membuat heboh. Tak hanya warga sekitar, warganet juga gempar dibuatnya. Foto-foto Viki yang sudah tak berdaya setelah diamuk massa, tersebar di media sosial. Di facebook dan whatsapp.

Seperti di akun facebook bernama Heru Kotoshi yang mengunduh foto dan video Viki. Pada unggahannya tersebut, akun ini menunjukkan bahwa Viki adalah begal yang meresahkan warga Kampar.

"Ciri-ciri yang memakai motor spin," tulisnya.

Videonya yang tengah dihajar massa juga viral. Terlihat, Viki saat itu sudah berlumuran darah. Darah paling banyak di bagian kepalanya. Dalam video yang berdurasi 3 menit 8 detik itu, terdengar suara Viki merenta-renta. Meminta tolong.

Pulang dari Bali, Ustadz Somad: Saya Tak Sudi Didikte Preman Nasi Bungkus

Konfrontasi - Ustaz Abdul Somad siang tadi disambut masyarakat Melayu di Riau setelah melakukan safari dakwah di Bali. Sambutan ini sebagai bentuk dukungan karena sempat ada fitnah dari sejumlah orang yang tergabung dalam Komponen Rakyat Bali (KRB) saat Somad akan ceramah di Pulau Dewata.

Selain masyarakat Riau, kedatangan Abdul Somad juga disambut Dewan Pengurus Harian Lembaga Adat Melayu. Mereka datang ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru untuk menyambut kepulangan ustaz lulusan Maroko itu.

Sempat ditolak karena dianggap penceramah yang anti kebhinekaan dan anti-NKRI, kemudian dipaksa untuk berikrar, Ustaz Somad menjelaskan, dari awal dirinya mememang menolak saat dipaksa berikrar.

"Bukan berarti saya tak cinta NKRI. Saya tak perlu berikrar di depan orang yang tidak punya legalitas dan otoritas untuk memaksa saya. Otoritas mereka untuk memaksa saya berikrar di depan mereka apa? Masalah menyanyikan lagu Indonesia Raya, masih ada viral video saya di kampung Suku Talang Mamak sana, kami menyanyikan lagu dan mengibarkan bendera Indonesia Raya," ujarnya.

Menurut Somad, tidak perlu ada pihak mana pun meragukan kecintaannya terhadap NKRI. Dia hanya tidak ingin ada preman yang mendikte dirinya. Karena itu, dia minta pemerintah dapat menjaga ulama.

"Saya hanya tidak mau didikte di depan preman-preman nasi bungkus. Itu yang saya tidak mau. Ke depan saya mau menyatakan bahwa pemerintah harus menjaga ulama kalau tidak umat akan mengamuk," katanya.

Meski begitu, Somad meminta umat menyikapi masalah ini seperti menarik rambut di tepung. Jadi jangan sampai ada perselisihan yang berlanjut setelah kejadian yang lalu.

"Rambut ditarik, tepung tak rusak. Jangan sampai gara-gara nila setitik rusak susuk sebelanga. Di Bali ada komunitas Umat Hindu yang sudah hidup lama bersama umat Islam, 800 tahun, tidak pernah rusak," ujarnya.

Bocah Enam Tahun Dicabuli Pamannya saat ke Rumah Kakek

Konfrontasi - Seorang bocah perempuan berusia enam tahun, jadi korban pencabulan yang dilakukan oleh adik tiri ibunya sendiri alias paman. Kejadian itu, dialaminya saat korban berada di rumah kakeknya di Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau.

Pelaku diketahui berinisial Sap (19) harus berurusan dengan polisi setelah dilaporkan oleh orang tua korban. Parahnya, kejadian itu ternyata sudah berulang kali dan baru ketahuan. 

Buruh Bangunan Selundupkan Sabu ke Lapas Bengkalis

Konfrontasi - Erwan (36), warga Simpang Ayam RT 001 RW 07, Kelurahan Meskom, Kabupaten Bengkalis, Riau memasukan narkoba jenis sabu ke Lapas Kelas II A, Bengkalis. Pesanan dari salah seorang tahanan itu dikemas dalam wafer.

"Erwan mencoba untuk mengelabui pertugas namun ketahuan juga, dan kini buruh bangunan itu sudah ditahan, untuk penyelidikan lanjutan," ujar Kapolres Bengkalis AKBP Abas Basuni dilansir merdeka.com, Minggu (15/10/2017).

Ular Piton 7 Meter Jadi Santapan Warga Riau

Konfrontasi - Seekor ular piton sepanjang tujuh meter dikonsumsi ramai-ramai warga Sungai Akar, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Ular itu ditangkap dan dimakan usai menyerang seorang penduduk setempat.

Insiden itu berawal ketika Robert Nababan melintas di Desa Belimbing Areal sebuah perusahaan PT SSK, Inhu pada Sabtu (30/9/2017) pukul 10.00 WIB.

Pria Ini Tega Membunuh Gadis 7 Tahun Karena 1 Buah Kuweni

Konfrontasi - Unit Reskrim Polsek Bawalato dan Satuan Reskrim Polres Nias, menangkap TT (40), tersangka pembunuhan seorang anak di bawah umur berinisial P (7).

Pelaku diringkus di Simpang Pule, Rokan Hilir, Kecamatan Kandis, Pekanbaru, Riau pada Sabtu lalu (9/9/2017). Pelaku dan korban tinggal di Desa Sifaoroasi, Kecamatan Bawalato, Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Wakil Kepala Polres Nias, Kompol Herwansyah Putra, Jumat (15/9/2017), mengatakan, kasus pembunuhan terhadap anak di bawah umur terjadi pada 30 Mei 2017 lalu. Kasus ini terungkap setelah jenazah korban ditemukan tak jauh dari rumah pelaku.

Sebelumnya, polisi telah memeriksa 18 orang saksi, termasuk keluarga pelaku. Polisi mengarah pada seorang saksi yang diduga sebagai pelaku.

"Dalam olah TKP, petugas mendapat informasi, salah seorang saksi telah keluar dari desa, dan diduga kuat sebagai pelaku sehingga petugas membuntuti saksi tersebut,” jelasnya.

Saat dimintai keterangan sebagai saksi, istri pelaku mengaku tidak tahu tujuan TT pergi. Lalu, pada 5 September 2017, polisi mendapat informasi bahwa istri TT bersama anak-anaknya meninggalkan desa diduga hendak menyusul suaminya ke luar Pulau Nias.

"Dibentuk tim untuk membuntuti istri pelaku yang diduga akan menemui suaminya di luar Pulau Nias," ujar Herwansyah.

Kepolisian kemudian mengikuti istri pelaku yang diduga pergi menjumpai suaminya di Rokan Hili, Pekanbaru, Riau.

Di satu kedai makan, tepatnya di Simpang Pule, petugas menahan pelaku dan langsung menginterogasinya.

Rizal Ramli mengenai Perekonomian Lokal di Riau dan Ekonomi Nasional

KONFRONTASI- Tokoh nasional/ Ekonom  senior yang juga pendiri Think Thank Econit, Rizal Ramli menyempatkan berkunjung ke kantor Tribun Pekanbaru, Jalan Imam Munandar, nomor 383, Pekanbaru, Kamis (14/9/2017).

Mantan Menteri Perekonomian ini dengan begitu hangat dan akrab berbincang-bincang dengan kru Tribun Pekanbaru, terkait bisnis dan perekonomian lokal di Riau.

BMKG Deteksi 30 Titik Panas di Provinsi Riau

KONFRONTASI -  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi 30 titik panas yang mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, Senin (31/7).

“Titik panas dengan ‘confidence’ 50 persen ke atas terpantau di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Riau,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru Slamet Riyadi di Pekanbaru.

Pages