revolusi mental

Revolusi Mental Itu Hoax Besar Dan Sangat Telanjang, Presiden Malah Makin Hancurkan Revolusi Mental dengan Mengangkat Anaknya Jadi Calon Walikota Solo

KONFRONTASI -  Revolusi mental yang merupakan jargon Presiden Joko Widodo saat pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu tidak terjadi hingga saat ini.

Prof Sri Edi Swasono: Revolusi Mental Tidak Ada, Malah Presiden Angkat Anaknya Jadi Calon Walikota Solo

KONFRONTASI -    Revolusi mental yang merupakan jargon Presiden Joko Widodo saat pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu tidak terjadi hingga saat ini.

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Sri Edi Swasono saat menjadi narasumber di Bravos Radio Indonesia. Menurut Prof Sri Edi, tidak adanya yang namanya revolusi mental. Bahkan, ia menyindir bahwa revolusi mental merupakan new normal. Istilah new normal sendiri baru muncul belakangan ini di tengah masa pandemik virus corona baru (Covid-19).

Revolusi Mental yang Menjungkirbalikkan Akal

Oleh: Edy Mulyadi*

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin pernyataan, kalau tidak mau dukung Jokowi jangan pakai jalan tol. Dari Jakarta, Menteri Komunikasi dan informasi Rudiantara bertanya kepada pegawai Kemenkominfo yang memilih nomor 02, “yang gaji ibu siapa?”

Feerdinand: Revolusi Mental Jokowi Bikin Bangsa Bermental Budak

KONFRONTASI -   Pembangunan revolusi mental yang didengungkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) senafas dengan konsep Trisakti Bung Karno nyatanya tidak demikian."Awalnya saya kira revolusi mental program Pak Jokowi itu melahirkan para pejuang, nasionalis dan kaum patriot nyatanya malah jadi mental inlander," kata Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis

Revolusi Mental Dikritik AHY, Ada Apa?

KONFRONTASI-  Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono merasa perlu mengkritik program revolusi mental yang dinilainya tidak berjalan pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. "Karena memang perlu kita sadari karakter bangsa yang beretika, bermental kuat, namun berjati diri Indonesia seperti yang diharapkan dalam konsep besar revolusi mental, perlu kita hidupkan kembali," ujar Agus, saat dijumpai di Istana Presiden Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/6/2018).

Kogasma Demokrat AHY Pertanyakan Kelanjutan Program Revolusi Mental

KONFRONTASI -  Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mempertanyakan kelanjutan program revolusi mental yang menjadi janji politik Presiden Jokowi sejak awal masa pemerintahannya.

"Ketika pemerintah saat ini berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan dan proyek infrastruktur lainnya, lantas kita patut bertanya, apa kabar revolusi mental," kata AHY dalam orasi politik berjudul Dengarkan Suara Rakyat, yang berlangsung di JCC, Jakarta, Sabtu (9/6) malam.

Mensos Tawarkan Program Revolusi Mental Atasi Kesenjangan Niat

KONFRONTASI - Saat ini di Indonesia mengalami apa yang disebut dengan kesenjangan niat sehingga apa pun yang dilakukan pemerintah akan selalu dinilai salah oleh pihak-pihak tertentu, kata Menteri Sosial Idrus Marham Selasa malam, saat bersilaturahim dengan awak media di sela kunjungan kerja dalam rangka Hari Pers Nasional 2018 di Padang.

"Ini yang paling susah sekarang karena kalau semua pihak memiliki niat yang sama masalah besar bisa diperkecil, masalah kecil bisa diselesaikan," jelasnya.

Seberapa Ampuh Revolusi Mental Mampu Cegah Radikalisme?

KONFRONTASI-Indonesia baru saja mengalami fase cukup sulit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam proses Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Dalam Pilkada Jakarta ini, tidak hanya terjadi 'perang' antar partai politik pengusung pasangan calon (Paslon) tapi juga terjadi intrik dan benturan antar kelompok dan agama yang dipicu pernyataan salah satu Paslon yang dinilai telah melecehkan ayat suci Al Quran. Kasus di Pilkada Jakarta ini tidak hanya membuat ibukota bergejolak, tapi juga membuat seluruh Indonesia 'panas'.

Kini Pilkada Jakarta telah usai. Kondisi di ibukota dan Indonesia pun bergerak ke arah kondusif, meski bangsa Indonesia tetap harus waspada dengan adanya upaya-upaya yang ingin memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya adalan ancaman radikalisme dan terorisme.

"Apa yang terjadi pada Pilkada Jakarta kemarin, menurut saya bisa dijadikan indikator paling mudah apakah revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo berjalan atau tidak. Memang ada kelompok radikal yang terindikasi menunggangi Pilkada kemarin meski sulit diukur seberapa besar pengaruh kelompok radikal tersebut. Pastinya, kekuatan masyarakat lah yang akhirnya terbawa dan menentukan proses Pilkada itu," papar Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio di Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Ia mengungkapkan, kondisi masyarakat ibukota terkotak-kotak parah selama proses Pilkada tersebut, terutama setelah munculnya kasus penistaan agama itu. Menurut Hendri, hal ini dalam teori politik dalam buku yang ditulis Samuel P. Huntington berjudul The Clash of Civilitation disebutkan kalau ada pertumbukan antara budaya dan agama itu akan sangat berbahaya bagi suatu negara.

"Apa yang terjadi kemarin itu sudah sangat berbahaya. Masyarakat terpecah dan terkotak-kotak yang bisa menimbulkan ekses yang sangat besar yaitu terancamnya NKRI. Kita bersyukur hal-hal negatif itu tidak sampai terjadi. Ini pelajaran bagi kita, bangsa Indonesia, dalam bernegara dan berpolitik," terang Hendri.

Darmin Nasution Miskin Prestasi, Ekonomi Memburuk. Layak Dicopot?

KONFRONTASI-BEBERAPA hari terakhir ini Menko Perekonomian, Darmin Nasution, mendadak jadi sorotan lantaran mengaku “buta” atau tidak paham sama sekali tentang revolusi mental yang telah ditancapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal masa pemerintahannya.

Menurut Darmin, sampai saat ini dirinya masih selalu berpikir karena memang belum memahami apa itu Revolusi Mental.

Darmin bahkan mengaku sangat kebingungan disebabkan belum adanya rumusan, tolok ukur dan kegiatan yang ingin dilaksanakan dalam menjalankan revolusi mental tersebut.

Darmin Nasution Tak Paham Revolusi Mental. Bakal Mental?

KONFRONTASI-Gerakan Revolusi Mental yang dijalankan Presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahannya, sampai saat ini masih belum dipahami oleh Darmin Nasution. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu, dia masih berpikir apa itu Revolusi Mental.  Dia bingung.

Kebingungan disebabkan oleh rumusan, tolok ukur dan kegiatan yang mau dilaksanakan dalam revolusi tersebut. "Terus terang saya kadang mikir, Revolusi Mental itu seperti apa, bagaimana itu mau dijalankan, karena belum ada yang merumuskan," katanya di Jakarta, Rabu (5/4).

Pages