19 November 2018

Ransomware

Ransomware 'Todong' Korbannya Mainkan Game PUBG

KONFRONTASI-Ransomware terbaru meminta tebusan unik dari korbannya, alih-alih sejumlah uang dalam mata uang kripto, program jahat ini meminta korbannya bermain game PlayerUnknown’s Battlegrounds.

Laman Forbes menuliskan PUBG RansomWare akan mengambil alih komputer Anda, mengenkripsi berkas dokumen, musik dan foto dengan ekstensi "PUBG".

Setelah proses infeksi selesai, akan muncul di layar komputer berisi cara mengatasi ransomware ini, peretas meminta korban bermain PUBG selama sejam atau masukkan kode pemulihan.

Ransomware Masih Jadi Ancaman Terbesar Ranah Digital

KONFRONTASI- Serangan siber peranti lunak, Ransomware, masih menjadi ancaman terbesar dunia digital yang saat ini tengah diadopsi nyaris di seluruh sektor, mulai dari pemerintahan hingga ekonomi.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Pengembangan Pasar Asia Pasifik Irdeto, Bradley Prentice, di Jakarta, Rabu. Ini adalah perusahaan penyedia jasa perlindungan siber yang berpusat di Amsterdam.

"Ransomware masih menjadi ancaman terbesar dalam dunia digital saat ini, khususnya di kala nyaris semua aspek terhubung dalam jaringan, atau biasa dikenal dengan Internet of Things (IoT)," kata Bradley sebelum menghadiri pembukaan temu puncak Ekonomi Digital di Jakarta International Expo (Jiexpo).

Di samping pembajakan data dan pencurian informasi (copying atau redirected distribution), ransomware merupakan salah satu serangan siber yang saat ini tengah banyak terjadi.

"Mulai dari laman resmi pemerintah, hingga perusahaan rentan terkena Ransomware. Serangan itu cukup umum, dan patut mendapat perhatian," terang Prentice.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan, sistem kerja Ransomware sederhana, misalnya, seorang pembajak (hackers) akan meretas laman tertentu dan meminta sejumlah uang ke pemiliknya agar website tersebut dapat kembali normal.

"Cara kerjanya sederhana, peretas akan masuk ke dalam suatu sistem, dan meminta bayaran (ransom) sebagai tebusan untuk lamannya agar kembali bekerja seperti sedia kala," kata dia.

Sebenarnya, ia menambahkan, cara kerja Ransomware tidak jauh berbeda dari modus para oknum yang kerap menyabotase produk tertentu agar mendapat citra buruk dari publik.

"Dulu sebelum internet berkembang pesat seperti saat ini, ada modus kejahatan yang disebut product tampering. Aksi itu adalah upaya individu atau sekelompok orang menyabotase barang tertentu yang baru diproduksi agar mendapat citra buruk dari masyarakat," kata dia.

Di Amerika Serikat, kata dia, sempat terjadi, sekelompok orang menyuntikkan racun ke obat pereda sakit kepala, dan menyebarkannya ke berbagai toko. Nahas, beberapa orang dikabarkan meninggal, dan hasil autopsi menunjukkan, kematian disebabkan obat sakit kepala tersebut.

Akibatnya bukan cuma korban jiwa, tetapi perusahaan obat itu pun kolaps.

"Di sisi lain, kebanyakan pelaku melakukan kejahatan tersebut demi uang (ransom). Saat itu, tidak hanya korban jiwa, tetapi perusahaan merugi hingga jutaan dolar. Mungkin prosesnya saat ini agak berbeda, tetapi motifnya terkait dengan uang," tambahnya.

Ia menerangkan, perbedaannya saat ini, kebanyakan aksi para peretas tidak menyebabkan kematian, tetapi hanya ingin menciptakan ketidaknyamanan, dan rasa khawatir para konsumen.

"Kebanyakan mereka ingin membuat para konsumen tidak nyaman. Misalnya, ada modus baru yang terjadi di perusahaan otomotif. Sebut saja, tiba-tiba 10 ribu mobil di Indonesia yang sudah terhubung dengan internet diretas, hingga mengalami kerusakan minor, hingga mereka harus membawanya ke dealer," terang Bradley.

Di saat dealer ini tengah menerima keluhan dari pengguna puluhan ribu mobil, ia lanjut menjelaskan, peretas itu menelpon dan menawarkan bantuan.

"Peretas itu mengatakan, daripada dealer mobil harus mengeluarkan uang 10 juta dolar untuk memperbaiki kerusakan, dirinya dapat membantu mengatasi masalah hanya jika penjual tersebut memberinya uang satu juta dolar," katanya.

"Modus semacam itu harus diperhatikan saat ini, khususnya di saat nyaris seluruh aspek di dunia telah terkoneksi ke internet," kata dia.

 

6 Tips Tangkal Serangan Ransomware di Perangkat Mobile

KONFRONTASI-Kaspersky Lab Teritorry Channel Manager, Indonesia, Dony Koesmandarin, mengingatkan untuk tidak pernah membayar ransomware.

"Pertama, untuk membuat ransomware makin canggih itu perlu biaya, lagipula Anda membayar pun belum tentu data Anda dikasih. Kedua, jika Anda membayar, Anda berarti ikut mensponsori mereka untuk bekerja lebih giat," kata Dony di Jakarta, Selasa.

Agar terhindar dari mobile ransomware, Dony berbagi tips sebagai berikut.

1. Back-up data

Dilengkapi OSTree, Endless OS Diklaim Aman dari Ransomeware

KONFRONTASI-Pada bulan Mei dunia dikagetkan dengan serangan malware ransomware WannaCry, dan pekan lalu dunia kembali dikejutkan dengan serangan ransomware jenis baru Petya.

Meski ransomware jenis baru tersebut belum menyebar di Indonesia, Kemkominfo telah mengantisipasi, memantau dan memitigasi pergerakan penyebaran ransomware Petya.

Kini, resmi dirilis di Indonesia, piranti lunak Endless OS mengklaim dirinya aman dari ransomware. Pasalnya, sistem operasi tersebut dilengkapi dengan OSTree yang menjamin aman dari ransomware.

ESET Berhasil Deteksi WannaCry, Ini Antisipasinya untuk Ransomware Masa Akan Datang

KONFRONTASI - Serangan ransomware, tindak kejahatan ekonomi dunia maya, pada pertengahan Mei lalu berlangsung cepat dan tak terduga. Virus komputer atau malware bernama WannaCry itu merupakan virus ransomware jenis baru. Malware itu menginfeksi banyak jaringan komputer di dunia dengan mengenkripsi seluruh file di komputer.
 

Ransomware Wannacry Serang Perpustakaan Univ. Jember

KONFRONTASI-Perpustakaan Universitas Jember, Jawa Timur, terserang virus "Ransomware" jenis "WannaCry", sehingga pelayanan perpustakaan dalam jaringan (daring) dan manual dihentikan sementara oleh pihak pengelola perpustakaan setempat.

"Saya mendapat informasi terkait dengan serangan virus itu pada Minggu (14/5) dan awalnya saya menduga bahwa kabar itu bohong, namun setelah mengecek di perpustakaan, ternyata ada dua komputer yang terkena virus Ransomware," kata Kepala Perpustakaan Universitas Jember Ida Widyastuti di kampus setempat, Senin.

Ia mengatakan pihak pengelola perpustakaan terpaksa menghentikan sementara pelayanan peminjaman buku secara manual dan daring untuk mengantisipasi agar virus tersebut tidak semakin menyebar ke jaringan data yang lain.

"Kami langsung mematikan seluruh jaringan koneksi internet dan wifi dari jaringan komputer yang ada di perpustakaan Universitas Jember, kemudian melakukan update untuk sistem aplikasi windows. Semua saran dari Kominfo dan UPT Teknologi Informasi (TI) Universitas Jember dilakukan," tuturnya.

Untuk mengantisipasi tidak menyebar ke jaringan yang lebih luas, lanjut dia, semua transaksi yang menggunakan jaringan internet juga dihentikan sementara dan melakukan "back up" data penting untuk mengamankan server.

"Kebetulan dua unit PC yang terkena virus Ransomware itu hanya untuk pelayanan peminjaman buku secara daring dan tidak ada data yang penting, namun dua komputer itu sedang diperbaiki," ujarnya.

Awas, Windows XP Lebih Rentan Terinfeksi Ransomware

KONFRONTASI-Bagi Anda yang masih menggunakan Windows XP diharapkan lebih ber4hati-hati. Pasalnya, Windows XP lebih rentan terkena infeksi ransomware WannaCry yang akhir pekan lalu menyerang 99 negara termasuk Indonesia. Meski sejak 2014 tidak ada pembaruan (support) resmi dari Microsoft, namun XP diketahui masih banyak digunakan hingga saat ini.

"Windows XP adalah salah satu sistem operasi paling awal yang disukai oleh masyarakat," kata analis IT dari Spiceworks Peter Tsai, seperti dikutip dari Wired, Senin, 15 Mei 2017. XP diketahui salah satu versi Windows yang paling stabil. Apalagi terdapat jarak lima tahun antara XP dengan penerusnya Windows Vista, yang tak terlalu populer.

Serangan WannaCry melumpuhkan sejumlah layanan online di rumah sakit dan klinik di Britania Raya, kemarin. Dari laporan yang dikumpulkan, diketahui bahwa 90 persen sistem operasi yang digunakan di institusi kesehatan di Britania menggunakan Windows XP.

Tsai mengatakan pertahanan terbaik menghadapi WannaCry adalah dengan terus memperbaharui layanan Windows yang digunakan. Microsoft, sejak 2014 lalu telah menghentikan layanan resmi untuk XP. Sedangkan untuk Windows versi lain yang lebih baru, tersedia layanan barunya yang dirilis pada Maret lalu.

Berbagai Sentimen Pengaruhi IHSG, Termasuk Virus Ransomware di Komputer

KONFRONTASI - Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,14% menjadi 5.675,22. Di awal pekan ini, IHSG diprediksi bergerak terbatas.

Kepala Riset Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan, IHSG pada pekan ini akan bergerak mendatar. Tapi data makroekonomi dalam negeri dan global diharapkan positif, sehingga bisa menahan penurunan indeks.
BACA JUGA :

    IHSG terdorong sektor CPO di akhir pekan
    Sektor perkebunan kerek Kinerja IHSG hari ini

Ransomware Versi 2 Terdeteksi, Lebih Berbahayakah?

KONFRONTASI- Ketua Tim Koordinasi dan Mitigasi Desk Ketahanan dan Keamanan Informasi Cyber Nasional Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Gildas Deograt Lumy mendeteksi Ransomware atau Malware WannaCry Decryptor versi 2.

"Selang beberapa setelah Malware WannaCry itu menyerang, muncul Malware WannaCry versi 2. Kami mendeteksi virus itu tidak jauh berbeda dengan WannaCry versi 1," kata Gildas saat konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta Pusat, Minggu malam.

Netizen Kepo Ransomware Wannacry, Situs Kominfo Langsung Tak Bisa Diakses

Konfrontasi - Laman resmi milik Kementerian Komunikasi dan Informatika tak bisa diakses publik, Minggu malam, 14 Mei 2017.

Diduga, penyebab gagal akses ini karena ada keingintahuan publik soal informasi virus komputer Ransomware Wannacry. Sebab, hanya lewat laman ini Kemenkominfo memberi informasi lengkap untuk penanganan virus yang meminta tebusan tersebut.

Dikutip dari VIVA.co.id, yang mencoba mengakses laman ini, tampilan halaman hanya memberitahukan bahwa ada kesalahan akses.

Pages