Puisi

Puisi : Di Tepi Danau Toba

KONFRONTASI-Saya tak mampu menolak permintaan seorang kawan seorang aktifis yang juga seorang seniman dan penggiat seni, sastra dan budaya di Sumatra Utara yang telah melanglang buana dengan Komunitas Teaternya ke Eropa, dia ( John Fawer Siahaan ) meminta saya menulis puisi untuk di terbitkan dalam bentuk ' Antologi Puisi Danau Toba ' puisi di bawah ini adalah respon yang saya berikan menjawab tantangan yang diberikan sahabat saya itu, Sekian dan terimakasih. ( Warih W Subekti )

Di Tepi Danau Toba
Untuk : JFS

Puisi : Di Pelukan Kemarau

Di pelukmu

Aku di tikam rindu

Menggelepar

Menahan sakit yang menyenangkan

 

Di tatap matamu ada bias cemburu

Menggelpkan siangku

 

Di titian musim

Kita berbagi rindu

Menyambangi angin yang gelisah

Kebingungan mencari arah

 

: kemarau ini masih basah,,,,,,,

Gringsing, 21 Mei 2013

- Penulis Edi S Febri, tergabung dalam Group Kumandang Sastra Semarang, Saat ini tinggal dan berkarya di Semarang. (war)

Puisi : Engkaukah Ini ?

kalau engkau sedang membangun laknat,
teruslah untuk menghujat
jika engkau tengah menabung benci,
mungkin enak untuk terus memaki
apabila engkau tak suka berkah,
sebar saja terus hal berbau fitnah
dan sekiranya engkau lebih memilih derita neraka,
tepat sungguh sikapmu yang suka mencela

namun apabila engkau percaya etika,
sebarkan rasa saling memberi harga
dan jika engkau sadar bahwa hidup ini fana,
mengapa tidak saling bertenggang rasa

Puisi Ang Jasman : Mata

 telah jauh kita bicara kesetiaan:

sejak itu kita bercerita tentang mata 

kau memandang dengan mataku

aku memandang dengan matamu? 

 

dan mata kita tak saling menipu

cermin tak pernah menipu 

hati kita tak henti menari

di cermin itu: 

mata yang jendela.

bisa jadi gelombang bening ini

berpendaran dari matamu dari mataku 

getar hati semesta tak henti meliuk-liuk

menari di hatimu berdendang di hatiku 

membawa pesan purba dari taman itu

: titipan nenek moyang. 

 

Remy Sylado dan Puisi Mbeling : Melabrak Kaidah Penulisan Puisi Baku dan Konvesional

KONFRONTASI--Mungkin Remy Sylado merupakan salah satu sumber daya manusia yang paling dibutuhkan dalam dunia seni Indonesia. Terlahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Japi Tambajong di Malino, Makassar, 12 Juli 1945, Remy kecil menghabiskan masa kecilnya di Semarang dan Solo. Nama Remy Sylado biasa juga ditulis dengan angka 23761. Angka itu diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles. Semua bidang seni sudah ia jajal, dari menulis puisi, novel, esai, hingga naskah drama.

Puisi : Pada Pagi

pada pagi kau menarik nafas penuh

kau hembus pada malam yang melegakan 

gelisahmu menggelepar di jambangan.

sepi.

: segala terlempar luruh. 

 

angan tak lagi menjadi kapas

mengapung di kedalaman langit 

lalu memojokkan segala ingin.

semua.

: tembok makin menghimpit.

 

dulu sudut-sudut ini kau kenali

tiap detikmu harapmu perlahan meniti

begitu yakin dirimu pada janji-janjinya.

pagi.

: kau menatap jendelamu kembali.

 

AJ  /2014

Puisi : Bukan Aku

Bukan Aku

bukan aku
yang menyusup dari ujung jalan itu
ke dalam benakmu
adalah samar bayang
di antara lampulampu
yang baru saja menyalakan malam
dan berjuta tanda bagi kesepian

siapakah yang berjalan
menyusur lengang lorong waktu
dan meraba perihnya dindingdinding kenangan itu?
katamu

bukan aku
sungguh bukan aku
yang merasuki ingatan di dalam benakmu
suarasuara yang terdengar
adalah angin yang gemetar
di selasar sasar
bulan pendar
dan cahaya lampulampu menyusun pijar

MENGGAMBAR HIDUP DENGAN TINTA KEYAKINAN Esai Apresiatif Atas Puisi Kelak Bila Kau Pulang Karya Fendi Kachonk

                                                                      Oleh Moh. Ghufron Cholid*)

 

Siang ini saya berhadapan dengan puisi Fendi Kachonk di Taman Baca Arena Pon Nyonar yang merupakan taman baca yang ia bangun dengan perasaan cinta, memalingkan segala mata dari kebutaan membaca, Fendi yang semakin karib dengan dunia sosialnya namun tak lupa memajukan masyarakatnya dengan kecintaan membaca.

 

Puisi : Pulau Kecil

PULAU KECIL

 

kalau aku sedang ingin menulis puisi,
selalu wajahmu yang aku hadirkan
bukan musim semi, atau ikan salmon
aku bercebur di matamu, dan mandi
seribu cahaya matahari: kupancing
kata-kata di lidahmu dengan lidahku
tapi gigiku tidak menggigit apa pun

seketika aku ingin berlari ke lautan
menjelma sebuah pulau kecil tanpa
sebuah kapal pun tahu alamatnya
termasuk oleh rindumu: cukuplah
ombak, ikan, hari-hari 'tak bertanggal
yang menyapaku setiap paginya
dan mengucapkan selamat malam

Pages