Puisi

Semangat Yang Tak Pernah Padam

Juftazani

 

Di hari yang indah itu
Kau dibawa ke mesjid Jamie Sunan Kalijaga
Ribuan orang menunggu  untuk menyalatkanmu
Mereka rindu untuk melepas kepergian terakhirmu
Sebagai kebahagiaan yang tak akan pernah datang setelah itu
Sebelum berangkat dan istirahat di rumah terakhirmu

Puisi Apocalypso 21

Selamat Tinggal Menara Eiffel dan Patung Liberty

 

Juftazani

 

I venture to maintain that the gratest challenge that has
surreptitiously arisenIn our age is the challenge of knowledge, indeed,
not as against ignorance;But knowledge as conceived and disseminated
throughout the world by western civilization”
~Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas~ *

...

1

Puisi Apocalypso 19

Dunia Terbakar

 

Juftazani

 

Inikah musim Apocalypso yang terakhir?
Saat kutelusuri dunia terbakar
Para Pemabuk mengamuk
Mencabut nyawa puluhan ribu manusia
Dan dikirim ke liang apocalypso untuk diam tak bergerak selamanya
Selamat tinggal 7,7 milyar penduduk bumi
Siapa kuat akan hidup
Siapa lemah pasti musnah

 

Puisi Apocalypso 12

Juftazani

 

Matahari membara membolik-balikkan bola matamu
Zaman pun menggelora dengan suka-duka manusia
Tersungkur di altar peradaban yang penuh luka
Matamu mengembara dengan kejahatan-kejahatan yang menggemertakkan api neraka
Dengan dengung tetabuhan yang sangat marah
Dengan kedua sayapnya terbang mengentup siapa saja
Berani menggangu kedamaian mereka
Terbakarlah zaman yang tenang dan riang
Dalam kelembutan surga masyarakat yang cinta kedamaian dan cahaya keabadian

 

Puisi Apocalypso 11

Janji Tuhan di Wuhan


Juftazani

 

Di akhir zaman pemimpin tak berbohong bukanlah pemimpin
Di atas bencana,
di bawah bencana,
di kiri bahaya
Di kanan wabah merajalela
Peperangan, bah tsunami, galodo atau gempa
Bersamaan meneriakkan murka langit dan bumi
Bagi sifat dajal manusia era ini
Masa depan adalah sebuah kapal
Sedang mencoreng-moreng nasib kita di hari ini

 

Melodi Pengakuan - Kumpulan Puisi Siska Septiani

MENGGEMA

Memulai dengan ketukkan.

Sebuah lagu yang sedang kuputar,

Membuat jantungku berdebar.

Jiwa resah karena kegelapan

Merekah dalam dekapan.

 

Jika saja tidak terlalu samar

Apa yang barusan kudengar,

Mungkin melodi itu bisa kuhafal

Dengan lembut, dengan benar.

 

Dengan beberapa tetes air hujan.

Tanpa terkecuali,

Tanpa henti,

Tanpa ada yang perduli.

 

Nada itu adalah lukisan dalam memori.

Pages