Puisi

Simphoni Kerinduan

Juftazani

 

Aku menatapmu dalam gelora  guyuran sinar mentari pagi
Di antara ombak  yang berganti mencumbui pantai
Antara kita, laut dan gelombang yang menyisir pasir
Kulihat sosokmu yang pucat pasi
Hadirkah kau di sini?

 

Puisi Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 *

Oleh: Dedhi Suharto

 

Aku yang terkurung di kamar isolasi covid 19 yang superduper dingin ini
Tak mau terbelenggu
Jiwaku bebas bersama imajinasi yang menembus batas
Jiwa yang merdeka
Jiwa yang menembus ‘Arasy
Karena jiwa yang merdeka adalah pernyataan kemandian bangsa yang merdeka
Yang melindungi rakyatnya
Kia yang telah lama merdeka apakah  benar-benar berjiwa merdeka
Ataukah hanya terjebak  rutinitas agustusan belaka
Jiwa merdeka
Kemandirian, marwah dan nilai sebuah bangsa

 

Semangat Yang Tak Pernah Padam

Juftazani

 

Di hari yang indah itu
Kau dibawa ke mesjid Jamie Sunan Kalijaga
Ribuan orang menunggu  untuk menyalatkanmu
Mereka rindu untuk melepas kepergian terakhirmu
Sebagai kebahagiaan yang tak akan pernah datang setelah itu
Sebelum berangkat dan istirahat di rumah terakhirmu

 

Puisi Apocalypso 21

Selamat Tinggal Menara Eiffel dan Patung Liberty

 

Juftazani

 

I venture to maintain that the gratest challenge that has
surreptitiously arisenIn our age is the challenge of knowledge, indeed,
not as against ignorance;But knowledge as conceived and disseminated
throughout the world by western civilization”
~Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas~ *

...

1

Puisi Apocalypso 19

Dunia Terbakar

 

Juftazani

 

Inikah musim Apocalypso yang terakhir?
Saat kutelusuri dunia terbakar
Para Pemabuk mengamuk
Mencabut nyawa puluhan ribu manusia
Dan dikirim ke liang apocalypso untuk diam tak bergerak selamanya
Selamat tinggal 7,7 milyar penduduk bumi
Siapa kuat akan hidup
Siapa lemah pasti musnah

 

Pages