13 November 2019

Puasa

Memaknai Kemenangan Sejati

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Kemenangan itu tidak diukur oleh dunia. Tidak diukur secara matematika. Tidak juga oleh materi dan kalkulasi manusia. Kemenangan itu ada pada proses dan nilainya. 

Namrud bisa menangkap Ibrahim dan melemparnya ke dalam kobaran api. 

Para pembesar mengolok-mengolok Nuh. 

Fir’aun bahkan merendahkan dan mengusir Musa dari Mesir.

Isa bahkan dipersekusi oleh Bani Israil. 

Dan Muhammad diusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Puasa Itu Berserah Diri

Oleh:Imam Shamsi Ali*

Substansi dari keislaman itu adalah "al-istislam at-taam" (berserah diri secara totalitas) kepada Allah SWT. Dengan berserah diri secara totalitas inilah yang diimplementasikan dalam "at-thoo'ah at-taammah" (ketaatan penuh) seorang Muslim akan mencapai state of "as-salaam at-taam" (comprehensive peace). 

Puasa Kenalkan Batas-batas Hidup

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

 

 “Maka barangsiapa yang takut kepada Tuhannya dan menahan nafsu, maka sungguh syurgalah tempat kembalinya” (An-Naazi’aat). 

Segala sesuatu dalam hidup ini punya batas. Bahkan hidup itu sendiri ada batasnya. “Semua yang ada di atas bumi itu berakhir” (Al-Quran). Demikian penegasan Al-Quran. 

Bahwa semua yang namanya makhluk itu pasti berakhir. Dan itulah batas hidup manusia juga. 

Puasa Lahirkan Kesungguhan Dalam Pengabdian

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Di malam-malam terakhir bulan Ramadan ini, ujian itu semakin membesar. Kerap terjadi godaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang justeru merugikan. 

Di antaranya sebagian menyibukkan diri dengan ragam persiapan Idul Fitri yang masih jauh harinya. 

Ada pula yang memang mengalami keadaan futuur (hilang semangat) di akhir-akhir Ramadan ini. Begitu semangat di awal, tapi kehilangan semangat di akhir Ramadan. 

Puasa itu melahirkan kerinduan

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Hari-hari terakhir Ramadan ini seharusnya melahirkan rasa rindu dalam diri hamba-hambaNya. Merindukan Rasulullah, rindu syurgaNya, dan tentunya kerinduan terbesar adalah menatap wajah Ilahi kelak nanti. 

Berpuasa Tapi Sia-sia, Pahala Hilang Tak Berbekas

Oleh: Minah, S.Pd.I

Berpuasa ramadan adalah suatu kewajiban. Namun, tidak jarang dari kita, ada yang berpuasa tapi sia-sia. Sekadar  menahan haus dan lapar namun tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah.

Berpuasa sejatinya upaya untuk menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, menahan hawa nafsu dari terbit fajar yang disertai dengan niat telah dianggap sebagai orang yang berpuasa.

Ramadan itu bulan Al-Quran

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Demiikian dahsyatnya kekuatan ruhiyah Al-Quran sehingga sekiranya diturunkan di atas sebuah gunung niscaya gunung itu akan goncang. Goncang karena rasa takut terhadap Allah SWT, Pencipta langit dan bumi. 

“Kalau seandainya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya goncang karena takut kepada Allah. Demikian permisalan itu Kami berikan kepada manusia agar mereka berpikir” (Al-Quran). 

Ramadan itu bulan hidayah

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bahwa Ramadan itu memang adalah bulan berbagai kemukjizatan. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah di bulan suci ini, justeru di luar pertimbangan akal manusia biasa. 

Puasa itu Menyuburkan Ruhiyah

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

 

"Mankind is a spiritual being in a physical body”. 

Kalau seandainya saya ditanya tentang defenisi manusia maka jawaban saya kira-kira seperti di atas. Bahwa manusia itu adalah wujud spiritualitas dalam sebuah bentuk fisikal. 

Intinya adalah bahwa nilai (value) sejati manusia itu ada pada posisi ruhiyahnya. Kemuliaan, kehormatannya ditentukan oleh nilai spiritualitasnya. 

Puasa Itu Menumbuhkan Sikap Tawakkal

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

“Dan barangsiapa yang bertawakkal maka cukuplah Dia (Allah) baginya” (Al-Quran). 

Keterbatasan manusia dalam segala hal di satu sisi, dan dorongan dunia yang tiada batas di sisi lain, seringkali menjadikan manusia kehabisan energi dalam menghadapi tuntutan hidup itu sendiri. 

Masalahnya pula, manusia sering pula lalai akan realita keterbatasannya. Akhirnya yang terjadi adalah kekecewaan bahkan frustrasi. 

Pages