pancasila

Meneguhkan Kembali Rumah Bersama Indonesia, Setelah Menurunnya Pendukung Pancasila

Oleh: Denny JA

Suatu ketika John F Kennedy berseru. Jika kita tak bisa mengakhiri perbedaan, setidaknya bersama kita bisa membuat dunia lebih aman untuk hidup dalam keberagaman dan perbedaan.

Apa yang dinyatakan Kennedy sebelumnya sudah dijalankan oleh Founding Fathers kita, antara lain Bung Karno, Mohamad Hatta, Mohammad Yamin, Ki Bagoes Hadi Koesoema, AA Maramis. Di tahun 1945, melalui sidang BPUPKI, mereka merumuskan dasar kesepakatan bernegara.

Pancasila 'Dibina', Neolib Dipelihara. Ironis!

Oleh: Arief Gunawan*

SUNGGUH ironis katanya sudah 73 tahun kita merdeka dan sudah 73 tahun pula kita memiliki Pancasila tapi ternyata masih memerlukan lembaga pembinaan terhadap Pancasila yang disebut Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang belakangan ini di tengah kesulitan dan keprihatinan mayoritas rakyat akibat berbagai tekanan ekonomi; BPIP ini rame diberitakan lantaran para pengelolanya yang merupakan para pembesar dan kaum elit dikasih gaji fantastis, lebih dari seratus juta rupiah per bulan…

Hidup Melarat ala Perumus Pancasila

Mereka adalah Pancasila sejati

Hidup Melarat ala Perumus Pancasila

Rumah itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Senjakala Kebebasan ASN Akademikus

Oleh: Suteki

Inikah akhir skenario cerita  yang sudah disiapkan karena framingnya adalah: Suteki menyebarkan RADIKALISME yang harus ditindak?

Baiklah, semuanya itu belum terbukti. Persoalan KHILAFAH--yg dinilai sbg faham radikalisme---selalu jadi kambing hitam untuk memojokkan saya karena saya menjadi AHLI JR Perppu Ormas di MK dan Gugatan HTI di PTUN Jakarta Timur. Fairkah ini?

Lintasan '66: Sebagai Ideologi Bangsa Sudah Final, Pancasila Penting Disosialisasikan Kepada Generasi Milenial

KONFRONTASI - Lembaga Informasi dan Komunikasi Pembangunan Solidaritas Angkatan 1966 (Lintasan '66) untuk mengalirkan historis legacy dimana ada konsensus angkatan 1966 untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 (bukan UUD 1945 amandemen atau bisa disebut UUD 2002) secara murni dan konsekuen. Ketua Umum Lintasan '66 Teddy Syamsuri dalam rilisnya kepada pers (6/6/2018) mendukung sepenuhnya adanya kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Pancasila Oh Pancasila, Desakralisasi? Masih Sakti?

Oleh: Nasrudin Joha

Pancasila itu tidak sakral, bahkan orang yang mengagungkan Pancasila sendiri yang mendesakralisasinya. Dahulu, dahulu kala pada zaman Orba, UUD 45 juga dipandang sakral. Pasca Reformasi, UUD cuma produk akal yang bisa diperdebatkan. Perdebatan mengenai UUD telah menghasilkan 4 (empat) kali amanden.

Pancasila nampaknya juga akan mengalami hal yang sama, diperdebatkan karena memang hanya produk akal. Pancasila tidak mampu memberi jawaban, atas adanya setumpuk problem yang mendera bangsa.

Tafsir Pancasila Zaman Now

Oleh: Ustadz Felix Siauw

Saya rasa pendidikan keberagaman saya cukup lumayan. Saya cina dan istri saya jawa, anak-anak saya papan catur, perempuan putih, lelaki hitam, lelaki putih dan perempuan hitam. Bapak dan Ibu saya Katolik, saya sekeluarga Muslim

Di keluarga lebih besar lagi, Nenek saya Buddha, teman-teman saya Kristen Protestan, ada juga yang atheis, banyak yang agnostik. Saya pernah tinggal di Sumatra dan Jakarta, pulang kampung ke Jawa Tengah, lumayan khatam soal perbedaan

Pancasila dan Petani

Oleh: Suparman
Aktivis HMI MPO dan Gemaksi

Ditetapkan 1 Juni sebagai "Hari Pancasila", sampai detik ini masih menjadi bahan perdebatan. Saya tidak masuk ranah itu, yang penting bagi saya adalah "Bagaimana butir-butir Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat miskin yang diabaikan Negara?". Bukan pula, Pancasila yang dijadikan duit, dari P4 sampai PIP yang dinikmati para intelektual menara gading, yang tidak mengadvokasi masyarakat miskin digusur penguasa yang berwatak diktator mayoritas.

Pages