Paham Radikalisme

Menag Bantah 50 Persen Pegawai Terpapar Paham Radikalisme

KONFRONTASI - Menteri Agama (menag), Fachrul Razi membantah beredarnya isu sekira 50 persen pegawai Kemenag yang terpapar paham radikalisme. Meski demikian, Fachrul tak membantah adanya pegawai yang terpapar paham itu.

"Itu isu yang tidak betul. Kalau dibilang ada, mungkin ada ya. Tapi kalau 50 persen kebangetan, kalian membuat data seenaknya. Tidak begitu lah ya," kata Fachrul di Kemenag, Jalan MH Thamrin, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (29/10).

Akan Menjadi Penerus Bangsa, Semua Komponen Masyarakat Harus Melindungi Anak dari Penyebaran Paham Radikalisme

KONFRONTASI - Akhir-akhir ini telah berkembang fenomena-fenomena anak yang turut dilibatkan di dalam kegiatan di dalam keluarga, masyarakat ataupun di dalam gerakan-gerakan politik. Bahkan paham-paham kebencian ataupun ujaran kebencian dan juga  penanaman paham radikalisme kepada anak juga mulai tumbuh dari rumah, sekolah dan bahkan juga lingkungan sosial anak-anak itu. Hal tersebut tentunya sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak kedepannya

Sekolah dan Anak Harus Dijauhkan dari Paham Radikalisme

KONFRONTASI - Sekolah dan anak didik harus dijauhkan dari pengaruh radikalisme agar tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari. "Pemerintah harus menata mekanisme pendidikan agar bisa lebih baik sehingga bisa melawan dan terhindar dari paham itu," kata Akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Zubair MAg di Jakarta, Rabu.

Hadapi Teroris, Negara Butuh Dukungan Semua Pihak

Konfrontasi - Organisasi pendiri Golkar, Kosgoro, mendukung upaya membendung paham radikal dan tindakan melawan terorisme guna menjaga keutuhan Indonesia.

Ketua Umum Kosgoro, Agung Laksono, dalam seminar peran Kosgoro dalam memperkuat deradikalisasi di Makassar, Jumat (26/2/2016), mengatakan, melawan radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya dipasrahkan kepada negara semata.

Masyarakat Stres di Kota Besar Target Paham Radikalisme

Konfrontasi - Masyarakat dengan tingkat stres tinggi di kota-kota besar adalah sasaran potensial penyebar paham radikalisme. Guru besar ilmu pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Abuddin Nata, menyatakan itu, Minggu (17/1/2016).

"Gerakan radikal umumnya muncul di kota-kota besar karena orangnya stres akibat aktivitas kerja, kemacetan lalu-lintas dan faktor lain," katanya.

Salah satu iming-iming yang lumrah ditawarkan adalah peningkatan status dan ekonomi masyarakatnya.