21 June 2018

Novel Baswedan

Wakapolri Klaim Kasus Novel Baswedan Alami Perkembangan, Seperti Apa?

KONFRONTASI-Wakapolri Komjen Pol Syafruddin mengklaim bahwa Polda Metro Jaya masih terus mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Dia berpendapat, pengusutan kasus itu mengalami perkembangan.

Novel Baswedan Kembali Dirawat di Singapura

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan bahwa Novel Baswedan kembali menjalani pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Singapura untuk melihat perkembangan perawatan mata penyidik KPK itu.

"Hari ini, dilakukan pemeriksaan kembali di Singapura untuk melihat perkembangan perawatan mata kiri Novel setelah operasi dan kondisi mata kanan," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Senin.

Untuk mata kiri, kata Febri, perkembangannya membaik dan juga darah yang di belakang lensa sudah jauh berkurang atau semakin sedikit.

"Penglihatan mata kiri bagian atas yang tadinya tidak terlihat sekarang sudah terlihat. Penglihatan kiri semakin jelas tetapi beberapa permasalahan sebelumnya masih tetap, yaitu lebar pandangan yang sempit dan pandangan berbayang dan penglihatan masih agak gelap dibanding mata kanan," tuturnya.

Terkait persoalan pandangan gelap mata Novel tersebut, kata Febri, dokter menyampaikan bahwa itu terkait masalah syaraf yang lemah dan perlu dilihat perkembangannya kedepan.

"Hal yang perlu diperhatikan terkait hal itu adalah menjaga tekanan bola mata kiri tidak tinggi karena hal itu bisa memperburuk saraf mata kiri yang lemah, tentang hal tersebut akan ditindaklanjuti oleh dokter ahli glukoma," ungkap Febri.

Sedangkan untuk kondisi mata kanan, Febri menginformasikan bahwa pertumbuhan pembuluh darah pada lensa mata kanan akibat luka "carutan" bertambah.

"Respons dokter masih sama dengan sebelumnya bahwa "nothing to do" dengan mata kanan selain menjaga kondisi mata kanan tidak menurun. Jika kondisi memburuk, maka akan dilakukan operasi seperti halnya mata kiri," kata dia.

Febri pun menyatakan bahwa pada Selasa (22/5) dijadwalkan dilakukan pemeriksaan dengan dokter ahli glaukoma dan juga dokter untuk mengecek kondisi lensa mata.

Sementara soal penanganan kasus penyerangan Novel, KPK tetap mengharapkan bisa diselesaikan dengan baik.

"Sampai saat ini pelaku belum ditemukan. KPK tetap berharap kasus penyerangan terhadap penyidik KPK ini bisa diselesaikan dengan baik agar tidak terulang pada pihak lain," kata Febri.

Abraham Samad Khawatir Kasus Novel Baswedan Menimpa Pimpinan KPK

Konfrontasi - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyayangkan kasus penyerangan terhadap penyidik Novel Baswedan belum juga terungkap. Kasus ini bisa saja kembali terulang, bahkan termasuk pimpinan lembaga itu.

"Jika tidak diproses dan tidak masuk ke meja hijau, saya khawatir akan menimpa pegawai KPK yang lain, termasuk pimpinan KPK," ungkap Abraham Samad di Palembang, Sabtu (21/4/2018) malam.

Kasus Novel Baswedan Mangkrak, Ray Rangkuti: Bisa Jadi Catatan Buruk Jokowi di Pilpres

KONFRONTASI - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki perhatian penuh terhadap penuntasan kasus penyerangan dan penyiraman air keras yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

"Kalau dalam setahun ini tidak ada progres memang sebaiknya Pak Jokowi mendorong untuk dibuatkannya TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) itu," ujar Ray, Rabu (11/4/2018).

Novel Baswedan Kecewa Kasus Penyerangan Dirinya Tidak Dituntaskan

JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengungkapkan kekecewaannya terhadap kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Sebab, penyelesaian kasusnya tak kunjung terungkap selama satu tahun ini. Novel menegaskan, ia tak membela kepentingan pribadinya, melainkan kepentingan para pegawai KPK dan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

"Saya dan pegawai lainnya bekerja bukan untuk pribadi. Kami bekerja untuk negara, kami bela negara, melakukan pemberantasan korupsi," ujar Novel di gedung KPK, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Novel menilai kasus penyerangan seperti ini tak boleh diremehkan dan dibiarkan. Novel merasa kecewa karena proses pengungkapannya belum menemui titik terang. Ia menduga, pihak yang berwenang memang belum mau mengungkap secara jelas kasusnya. 

"Saya kecewa dengan proses pengungkapan yang belum juga terungkap. Saya menduga, ini memang belum mau diungkap, saya kecewa sekali," katanya.

Situasi itu membuat Novel melaporkan kasus yang dialaminya ke Komnas HAM. Novel ingin keberadaan tim gabungan pencari fakta (TGPF) Komnas HAM, bisa menelusuri fakta-fakta tersembunyi dalam kasusnya. Ia membantah keberadaan TGPF mengintervensi penyidikan Polri.

"Saya berpikir tim TGPF penting untuk melihat apakah betul ucapan saya bahwa ada banyak fakta yang tidak diungkap dan tertutupi," ungkapnya.

Kasus Novel Baswedan Novel menegaskan dirinya tak akan diam. Ia berharap, ancaman terhadap segenap pegawai maupun penyidik KPK tidak terulang lagi. "Kalau dibiarkan dan kemudian ini jadi ancaman, saya khawatir ke depan pegawai KPK jadi takut dan menurun keberaniannya," ungkapnya.

Jika ancaman ini diremehkan, Novel juga khawatir para pengancam akan lebih berani menyerang KPK dan segenap upaya pemberantasan korupsinya.

Genap satu tahun Hari ini, Rabu (11/4/2018), kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan genap satu tahun. Waktu yang cukup panjang ini ternyata belum cukup bagi pemulihan mata kiri Novel yang terluka akibat siraman air keras. Begitu juga bagi polisi yang diberikan tanggung jawab untuk menuntaskan kasus tersebut. Hingga setahun pasca penyerangan, belum ada satu pun terduga pelaku yang dijadikan tersangka. Meski demikian, berbagai dinamika terjadi selama setahun terakhir.

Mangkrak Setahun, Novel Baswedan Tagih Janji Jokowi

KONFRONTASI - Hari ini tepat setahun kasus penyerangan dan penyiraman air keras yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Namun pengusutan kasus ini belum menemui titik terang.

Novel Baswedan awalnya memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Jokowi yang menyatakan memberikan perhatian serius soal kasus teror air keras. Kini genap setahun peristiwa itu, tak ada tanda-tanda kasus itu akan terungkap.

Setahun Kasus Novel Baswedan Mangkrak, Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi Demo Jokowi

KONFRONTASI - Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut kasus teror terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Desakan itu akan disampaikan langsung Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi dalam aksi #TikTokNovel di depan Istana Merdeka atau di Taman Aspirasi, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (11/4/2018).

Kasus Novel Baswedan Mangkrak, ICW Desak Jokowi Evaluasi Kinerja Polri

KONFRONTASI - Peneliti dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Lalola Easter menuturkan, penangan­an kasus penyidik senior KPK, Novel Baswedan yang dilaku­kan oleh Polri, jauh berbeda dengan kasus pidana lain yang juga bermodalkan CCTV, yang pengungkapannya cenderung cepat, bahkan hanya dalam hitungan jam/hari.

Mana Perhatian Serius Jokowi Terkait Kasus Novel Baswedan?

KONFRONTASI - Setahun sudah kasus penyerangan dan penyiraman air keras terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan belum juga menemui titik terang. Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan perhatian serius terhadap kasus ini.

Menurutnya, perhatian serius dari Jokowi adalah dengan mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang melibatkan kelompok-kelompok independen.

Ganjar Pranowo Tahu Aliran Uang e-KTP , Ungkap Novel Baswedan di Pengadilan

KONFRONTASI -  Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI Ganjar Pranowo ternyata mengetahui adanya aliran uang terkait proyek pengadaan e-KTP di Komisi II DPR.

Hal itu terungkap saat penyidik KPK Novel Baswedan dihadirkan di persidangan kasus korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (30/3).

Pages