10 December 2019

nobel

Taxing the Rich to Fund Welfare Is the Nobel Winner’s Growth Mantra

KONFRONTASI-How do you spur demand in an economy? By raising taxes, not cutting them, says this year’s winner of the Nobel prize for economics.

Reducing taxes to boost investment is a myth spread by businesses, says Abhijit Banerjee, who won the prize along with Esther Duflo of the Massachusetts Institute of Technology and Michael Kremer of Harvard University for their approach to alleviating global poverty. “You are giving incentives to the rich who are already sitting on tons of cash.”

Perbedaan Ekonom Nobel Ekonomi 2019 dan Ekonom Nahkoda ‘Jokowinomics’

KONFRONTASI- PENGHARGAAN Nobel Ekonomi tahun 2019, yang dikenal juga sebagai Sveriges Riksbank Prize in Economic Sciences in Memory of Alfred Nobel 2019, diraih oleh Esther Duflo, Abhijit Banerjee, dan Michael Kramer.

Dua nama pertama adalah pasangan suami istri sesama professor dari MIT, Amerika Serikat, yang berasal dari negara berbeda, Ester Duflo dari Perancis, sedangkan Abhijit Banerjee berasal dari India.

Nadia Murad, budak seks ISIS yang Raih Nobel Perdamaian

KONFRONTASI- Nadia Murad, bersama Denis Mukwege, resmi menerima Hadiah Nobel Perdamaian dalam satu upacara di Oslo, Norwegia, hari Senin (10/12).

Bagi Murad dan Mukwege, Nobel Perdamaian merupakan pengakuan atas upaya keduanya mengkampanyekan dampak dari penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang.

Sudah sejak lama, Murad dan Mukwege, berkampanye untuk memastikan tidak ada pihak yang menggunakan pemerkosaan sebagai sebagai senjata perang di masa mendatang.

Dua Peneliti Imunologi Diganjar Nobel Kesehatan

KONFRONTASI-Penghargaan Nobel Kesehatan diberikan kepada dua peneliti imunologi asal Amerika Serikat dan Jepang berkat temuannya soal bagaimana sistem kekebalan tubuh dapat melawan momok kanker.

Adalah James Allison asal Universitas Texas Austin dan Tasuk Honjo dari Universitas Kyto yang berhak meraih hadiah Nobel senilai 9 juta krona Swedia (sekitar 1,01 juta dolar AS), menurut Time dalam laporannya, Senin.

Mereka secara bersamaan meneliti protein yang berfungsi sebagai rem pada sistem kekebalan tubuh.

Everyone thinks I deserve the Nobel Peace Prize: Trump

KONFRONTASI - US President Donald Trump says that "everyone thinks" he deserves the Nobel Peace Prize, after South Korea’s president, Moon Jae-in, rejected suggestions that he should win the prestigious award himself for his negotiations with North Korea, instead crediting Trump.

“Everyone thinks so, but I would never say it," Trump said when asked by a reporter in the White House if he thinks he should win the prestigious award.

Moon had said in April: “President Trump should win the Nobel Peace Prize. The only thing we need is peace.”

Skandal Seks Guncang Akademi Nobel Swedia

KONFRONTASI-Akademi Swedia, lembaga penanggung jawab pemilihan penerima hadiah Nobel Sastra, menyatakan tidak akan mengumumkan pemenang pada tahun ini karena skandal seks, yang membuat beberapa anggota dewan akademi mengundurkan diri.

"Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan penurunan kepercayaan umum terhadap Akademi," demikian pernyataan tertulis Akademi Swedia, Jumat (4/5), layaknya dikutip Reuters.

Pembatalan hadiah bergengsi itu belum pernah terjadi selama beberapa dasawarsa belakangan. Akademi Swedia mengakui bahwa nama baik mereka hancur karena dugaan skandal suami salah satu anggota direksinya.

Bahkan, Akademi Swedia juga mengakui bahwa beberapa nama pemenang sudah bocor.

Akademi Swedia, yang anggotanya terdiri dari elit sastra dari negara yang sama, mengaku akan memberikan dua hadiah pada 2019, untuk mengganti pembatalan pada tahun ini.

"Kami menilai penting untuk meluangkan waktu demi mengembalikan kepercayaan publik kepada Akademi sebelum pemenang hadiah nobel berikutnya diumumkan," kata Anders Olsson, yang untuk sementara ini menjabat sebagai Sekretaris Akademi.

Skandal seksual yang diduga dilakukan suami dari salah satu anggota dewan adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Akademi Swedia, lembaga yang dibentuk Raja Gustav III pada 1786.

Meski sudah sering menjadi subjek kontroversi pada masa lalu -- seperti yang terjadi pada 2016 saat memilih penulis lagu Bob Dylan sebagai penerima hadiah -- perdebatan biasanya hanya fokus pada kelayakan penerima dibanding Akademi Swedia-nya sendiri.

Skandal itu dimulai dari dugaan pelecehan seksual terhadap 18 perempuan tokoh budaya dan fotografer Jean-Claude Arnault, yang merupakan suami dari anggota dewan akademi, Katarina Frostenson.

Akademi Swedia memberikan dukungan finansial terhadap lembaga budaya yang dikelola Arnault dan Frostenson.

Pada awalnya, tiga anggota dewan akademi mengundurkan dari karena tidak puas terhadap penyelidikan dugaan pelecehan seksual itu. Frostenson dan kepala akademi mengikuti langkah yang sama bersama enam anggota lain.

Saat skandal itu masih hangat dibicarakan publik, pihak akademi juga menyatakan bahwa beberapa nama pemenang juga telah bocor di tangan para penjudi.

Arnault sendiri membantah dua tudingan terkait pelecehan seksual dan pembocoran nama.

Pengumuman Nobel Sastra Ditunda karena Skandal Seks

KONFRONTASI - Akademi Swedia, lembaga penanggung jawab pemilihan penerima hadiah Nobel Sastra, menyatakan tidak akan mengumumkan pemenang pada tahun ini karena skandal seks, yang membuat beberapa anggota dewan akademi mengundurkan diri.

"Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan penurunan kepercayaan umum terhadap Akademi," demikian pernyataan tertulis Akademi Swedia, Jumat (4/5), layaknya dikutip Reuters.

Serangkai Sengketa Pertikaian Swedish Academy Ancam Reputasi Hadiah Nobel

KONFRONTASI -  Reputasi internasional hadiah Nobel bisa terancam setelah serangkaian pertikaian mengguncang Swedish Academy. Demikian diingatkan Nobel Foundation.

Nobel Foundation dalam siaran persnya menyatakan anggota dewannya telah bertemu untuk membahas perkembangan terkini, yang meliputi tiga anggota Academy yang mengumumkan mereka mundur.

Pemenang Nobel Tahun Ini Bakal Diganjar Hadiah Uang Lebih dari USD1 Juta

KONFRONTASI-Satu pekan sebelum pengumuman hadiah Nobel 2017 dimulai, Yayasan Nobel mengatakan bahwa pemenang tahun ini akan mendapatkan hadian uang yang lebih besar senilai lebih dari satu juta dolar.

"Dewan Direksi Yayasan Nobel memutuskan dalam pertemuannya pada 14 September bahwa Hadiah Nobel 2017 akan berjumlah sembilan juta krona Swedia (sekitar Rp14,9 miliar) per kategori hadiah," kata lembaga swasta yang berbasis di Stockholm itu dalam sebuah pernyataan, Senin (25/9) setempat.

Lebih 300 Ribu Orang Dukung Petisi Cabut Nobel Aung San Suu Kyi, Ini Jawaban Komite Nobel

Konfrontasi - Petisi yang mendesak agar Penghargaan Nobel yang diterima Pemimpin Politik Myanmar Aung San Suu Kyi dicabut mendapat dukungan lebih dari 300 ribu orang.

Sebuah petisi online di Change.org telah mengumpulkan sekitar 365 ribu tanda tangan sampai Kamis (7/9/2017) kemarin.

Petisi tersebut mendesak agar Penghargaan Nobel di bidang Perdamaian yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi dicabut.

Desakan tersebut merupakan bentuk protes publik terhadap perlakuan Myanmar terhadap warga Rohingya di Rakhine, Myanmar.

 

Banyaknya dukungan yang diperoleh menunjukkan semakin besarnya amarah publik terhadap "genosida" yang terjadi di Rakhine.

"Penguasa de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, tidak melakukan apapun untuk menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan di negaranya," demikian pernyataan dalam petisi tersebut.

Suu Kyi dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian pada 1991.

Pages