Myanmar

Penyu dengan Wajah Tersenyum yang Terancam Sangat Punah Berhasil Diselamatkan

Konfrontasi - Penyu beratap Burma adalah salah satu spesies paling terancam punah di dunia. Beruntung, penyu yang memiliki wajah tersenyum ini berhasil diselamatkan dari jurang kepunahan.

Para peneliti sempat khawatir, spesies yang punya senyum konyol ini segera punah.

Untungnya, ada spesimen hidup yang dulu dijual di pasar satwa liar China dan sampai ke tangan kolektor penyu asal Amerika di awal 2000-an. Sejak saat itu, mulai ada upaya konservasi.

Myanmar Tuntut Seorang Pendeta Karena Langgar Pembatasan

KONFRONTASI-Seorang pendeta di Myanmar bersama tiga orang rekannya akan dituntut melanggar hukum karena melawan aturan yang melarang penyelenggaraan pertemuan, kata pemerintah setempat, Rabu.

Pendeta itu, David Lah, sebelumnya sempat mengatakan umat Kristen kebal terhadap virus corona dalam salah satu khotbah yang disiarkan di internet.

Membandingkan Capaian Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Vietnam dan Myanmar

Oleh: Defiyan Cori
 

 

Tidak hanya The World Bank (WB) dan International Monetary Fund (IMF), namun juga The Asian Development Bank (ADB) telah mengeluarkan info (release) tentang akan cemerlangnya pertumbuhan beberapa negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Bahkan, 2 (dua) negara Asean, yaitu Vietnam dan Myanmar yang lebih akhir terbebas dari konflik bersenjata di dalam negeri dibandingkan Indonesia diperkirakan akan mencapai pertumbuhan ekonomi 7-8%  pada Tahun 2020.

Politik Tribalisme UU Civic India, Myanmar dan Indonesia

Oleh: Djoko Edhi Abdurrahman

 

Diulang lagi oleh India: bikin UU Kewarganegaraan berdasar agama. Sudah diratifikasi pekan lalu. Semua agama boleh menjadi warga negara India, kecuali Muslim. Artinya warga Muslim dikeluarkan dari warga negara (stateless).

Sebelum itu, Myanmar bikin Burma Citizenship Law (UU warga negara Burma), 1982. UU ini mengeluarkan warga Arakan, Rohingya dari warga negara Myanmar hanya karena beragama Islam. 

As Suu Kyi looks on, Gambia asks U.N. judges to 'stop genocide' in Myanmar

KONFRONTASI-Myanmar’s leader Aung San Suu Kyi arrived at the U.N.’s International Court of Justice on Tuesday to defend her country over charges of genocide against its Rohingya Muslim minority, as back home thousands of people rallied in her support.

Gambia launched the proceedings against Buddhist-majority Myanmar in November, accusing it of violating its obligations under the 1948 Genocide Convention.

Tentara Myanmar Pembantai Etnis Rohingya Diseret ke Pengadilan

KONFRONTASI-Militer myanmar menggelar pengadilan militer terkait kasus dugaan kejahatan dan pembantaian terhadap etnis rohingya di Negara Bagian Rakhine, Selasa (26/11). Mereka yang disidang adalah tentara serta petugas dari resimen yang dikerahkan ke desa Gu Dar Pyin.

Juru bicara militer Myanmar Zaw Min Tun mengungkapkan tentara yang disidangkan di pengadilan militer lemah dalam mengikuti aturan keterlibatan. Dia tak menjelaskan secara terperinci mengenai hal tersebut. Akan tetapi desa Gu Dar Pyin diduga menjadi tempat pembantaian Rohingya.

Suu Kyi to 'lead team' to Hague to fight Rohingya genocide case

KONFRONTASI-Aung San Suu Kyi will travel to the Hague to appear before the International Court of Justice after Gambia filed a case accusing Myanmar of genocide against its Rohingya Muslim minority, her government said on Wednesday.

More than 730,000 Rohingya Muslims have fled to neighbouring Bangladesh since a 2017 crackdown by Myanmar’s military, which U.N. investigators say was carried out with “genocidal intent”. Buddhist majority Myanmar denies accusations of genocide.[mr/reuters]

Otoritas Bangladesh Cegat Kapal Kayu Pembawa 119 Pengungsi Rohingya

Konfrontasi - Patroli pantai Bangladesh mencegat sebuah kapal kayu yang membawa 119 pengungsi Rohingnya. Kapal kayu ini diketahui hendak berlayar ke wilayah Malaysia.

Seperti dilansir AFP, Jumat (15/11/2019), pencegatan ini dilakukan saat kapal kayu itu nyaris tenggelam di perairan dekat Bangladesh.

PBB Desak Rohingya Bertanggungjawab atas Kondisi Rohingya

KONFRONTASI-Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya atas nasib 730 ribu pengungsi Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine di Myanmar.

Ia mengimbau pemerintah Myanmar bertanggung jawab dengan menangani 'akar penyebab' pengungsian mereka ke Bangladesh dan mengupayakan mereka kembali dengan selamat. Demikian laporan VOA, Senin (4/11/2019).

Guterres mengatakan itu ketika bertemu para pemimpin Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), yang mencakup Myanmar.

Pages