Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Saudi akan Kunjungi Indonesia Pertengahan Februari 2019

KONFRONTASI-Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman akan melakukan kunjungan ke Indonesia  pada pertengahan atau pekan ketiga Februari 2019 dalam rangkaian lawatannya ke beberapa negara.

Sumber diplomatik Antara di Jakarta, Rabu, mengonfirmasi rencana kunjungan tersebut dan menyebut bahwa Pangeran Mohammed diperkirakan tiba di Indonesia pada 19 Februari 2019.

Spekulasi Kematian Mohammed Bin Salman Semakin Menguat

KONFRONTASI -  Laporan tidak resmi mengenai kematian Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman setelah kudeta bulan lalu telah menjadi tranding topic Twitter dengan Hashtag وفاة_ولی_العهد# (#Kematian_Pangeran_Mahkota) di negara itu yang menunjukkan bahwa sang pangeran telah menyerah pada luka-lukanya yang dideritanya selama kudeta.

Bin Salman belum terlihat di depan umum sejak serangan 21 April di istananya, ibukota Riyadh, yang telah menimbulkan spekulasi tentang cedera dan kematiannya.

Kunjungan Putra Mahkota Saudi ke Paris Diwarnai Aksi Protes

KONFRONTASI - Para demonstran yang menolak lawatan Mohammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi ke Paris, ibukota Perancis memegang bendera Yaman sambil meneriakkan yel-yel dan mengecam kejahatan rezim Al Saud di Yaman.

Menurut laporan IRIB, kelompok yang bernama "Perdamaian Bagi Yaman" menyelenggarakan aksi demo di depan menara Eifel di Paris. Mereka yang turut serta dalam demo ini membawa plakat-plakat yang mengecam kejahatan rezim Al Saud di Yaman dan menuntut diakhirinya pengeboman dan pembantaian rakyat negara ini.

Putra Mahkota Saudi Disebut Orang Bayaran AS

KONFRONTASI - Salah satu majalah Amerika Serikat menyebut Putra Mahkota Arab Saudi telah berubah menjadi orang bayaran Gedung Putih.

Majalah Amerika, The New Yorker (3/4/2018) mengutip salah seorang pejabat Gedung Putih menulis, pemerintahan Presiden Amerika, Donald Trump sedang mencari orang bayaran untuk mengubah kawasan Timur Tengah dan menjatuhkan pilihannya pada Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman dan mendukungnya untuk menciptakan perubahan di kawasan sebagaimana diinginkan.

Saudi crown prince wants US military to maintain presence in Syria

KONFRONTASI - Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman says he wants the US military to extend its presence in Syria, despite American President Donald Trump’s declaration that US forces will withdraw from the war-torn Arab country in the near future.

“We believe American troops should stay for at least the mid-term, if not the long-term,” bin Salman said in a wide-ranging interview with the Time on Thursday, a few hours after Trump told a cheering crowd in Richfield, Ohio, that the American troops would soon be pulled out from Syria.

Saudi cabinet approves atomic policy ahead of bin Salman’s US visit

KONFRONTASI - Saudi Arabia’s cabinet has approved a national atomic energy policy, as the oil-rich kingdom tries to rationalize an ambitious plan to supposedly diversify its energy resources.

The policy, adopted on Tuesday, stipulates that Saudi nuclear facilities would only be used for peaceful purposes while ensuring maximum safety, according to the state-run Saudi Press Agency.

It also attempts to address another major area of concern by recommending safer ways to manage radioactive waste, which can be used to develop nuclear weapons.

Saudi crown prince welcomed in London amid rights activists protests

KONFRONTASI - Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman has arrived in London for his controversial three-day visit amid massive outcry and protests against Riyadh’s human rights violations and its deadly war on Yemen.

Bin Salman was welcomed at London airport by Foreign Secretary Boris Johnson late on Tuesday. He had lunch with Queen Elizabeth II at Buckingham Palace on Wednesday and is scheduled to dine later with Prince Charles and Prince William.

Saudi akan Terbitkan Visa Turis Mulai 2018

KONFRONTASI-Reformasi total digulirkan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman di semua lini sehingga akan berdampak pada perubahan sosial-budaya. Riyadh kini akan mengeluarkan kebijakan visa elektronik pada kuartal pertama 2018 mendatang.

Visa elektronik itu akan diberikan kepada seluruh warga di mana negaranya mengizinkan warganya untuk berkunjung ke Arab Saudi. Itu sebagai serangkaian reformasi ekonomi, setelah Saudi juga membuka pintu lebar bagi investor asing yang hendak masuk ke negara tersebut.

“Kita kini sedang menyiapkan regulasi tentang siapa yang boleh mendapatkan visa dan bagaimana mendapatkannya,” kata Pangeran Sultan bin Salman, Kepala Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional, dilansir Arab News.

Biaya untuk mendapatkan visa juga belum diputuskan. Namun, Pangeran Sultan menegaskan biaya visa tersebut tersebut akan semurah mungkin. “Kita menekankan dampak kumulatif ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan uang tunai dari visa,” ujarnya.

Menurut Pangeran Sultan, Saudi memiliki banyak kekayaan dan harta karun yang melimpah. “Tapi, hanya sedikit orang yang mengetahuinya dalam hal yang sempit,” kata Pangeran Sultan. Dia menggambarkan Saudi memiliki pegunungan, pantai, dan ratusan pulau sepanjang Laut Merah. “Kita tidak hanya pedagang minyak,” ungkapnya.

Dijelaskan Pangeran Sultan, nantinya ada petunjuk dan arahan untuk pengembangan sektor pariwisata. “Bagaimanapun kita tidak ingin mengorbankan dengan budaya dan nilai-nilai lokal kita,” jelasnya. Dia menambahkan Saudi merupakan lokasi Dua Masjid Suci, negara Islam, dan berbagai keuntungan yang tidak bisa dilepaskan demi pariwisata.

“Wisatawan bisa datang untuk mendapatkan pengalaman Saudi,” kata Pangeran Sultan. “Tapi, di sana tetap ada keterbatasan, seperti di negara lain. Kita tidak ingin pariwisata datang dengan segala harga,” katanya.

Hingga hari ini, seluruh penduduk kecuali dari anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Oman, membutuhkan visa untuk berkunjung ke Saudi. Arab Saudi merupakan tempat suci bagi jutaan Muslim yang melaksanakan ibadah haji dan umrah dengan visa khusus. Tapi, wisatawan lain akan menghadapi banyak kesulitan untuk berkunjung ke Arab Saudi.

Saat ini kerajaan Arab Saudi hanya mengeluarkan visa untuk pekerja, pebisnis dan umat Muslim yang ingin mengunjungi tempat-tempat suci. Untuk visa bisnis, keluarga, atau transit di Saudi memang relatif mudah didapatkan. Kalau visa turis hanya dikeluarkan biro wisata yang ditunjuk dan prosesnya memakan waktu berbulan-bulan.  Biaya visa Saudi juga dikenal mahal dan sulit untuk mendapatkannya.

Pada 2013 lalu, Riyadh mengumumkan akan mengeluarkan visa turis untuk pertama kalinya dalam sejarah untuk menarik kunjungan wisatawan.Tapi, program tersebut berulang kali ditunda. Pasalnya, Saudi sedang menyiapkan infrastruktur untuk membangun infrastruktur dan menyiapkan warganya ramah dalam menyambut wisatawan. Sebelumnya, pada 2016, pendahulu Mohammed bin Salman, Mohammad bin Nayef pernah berencana mengeluarkan visa turis.

Dengan mengusung proyek “Visi 2030”, Mohammed bin Salman ingin mengubah kehidupan warga Saudi agar lebih atraktif bagi wisatawan dan investor asing. Visi negara Saudi kini bertujuan untuk menuju masyarakat yang modern.

Dalam bidang sosial, Mohammed juga pernah menyatakan keinginan Saudi kembali ke Islam moderat. Itu pun ditunjukkan Mohammed dengan mengizinkan perempuan mengendarai mobil, konser musik digelar, dan pencabutan larangan pendirian bioskop setelah 35 tahun lamanya.

Sektor pariwisata telah diidentifikasi sebagai penyumbang utama karena pihak berwenang berharap uang yang dikeluarkan dari pariwisata meningkat dari USD27,9 miliar pada 2015 menjadi USD46,6 miliar pada 2020.

Pada Agustus silam, Arab Saudi meluncurkan sebuah proyek pariwisata besar untuk membangun resort di sekitar 50 pulau di lepas pantai Laut Merah. Tahap pertama proyek ini akan selesai pada 2022 yang dibangun di antara kota Umluf dan Alwajh. Proyek itu akan menciptakan 35.000 pekerjaan baru. Selain itu, proyek tersebut juga akan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Saudi mencapai senilai USD5 miliar (Rp66,66 triliun).

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi Diundang ke Israel

KONFRONTASI -  Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz mengundang Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) berkunjung ke negara Yahudi tersebut. Sebaliknya, dia berharap Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengundang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Riyadh.

Yisrael Katz mengatakan kepada situs berita Saudi, Elaph, pada hari Rabu bahwa Israel akan dengan senang hati menjadi tuan rumah pangeran mahkota berpengaruh itu di tengah rumor “mesra”-nya kedua negara.

Pages