Menteri Pertanian (Mentan)

Mentan Diingatkan Tak Main Politik Dalam Impor Bawang Putih

Konfrontasi - Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) untuk komoditas bawang putih dengan total volume 103.000 ton.

Sejumlah pihak mengingatkan agar penerbitan harus transparan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo harus benar melepas kepentingan politik dalam menerbitkan RIPH mengingat dia berasal dari partai politik. Diskriminasi dalam pemberian impor diingatkan, agar tak dilakukan Mentan.

Mentan Syahrul Sambut Baik Usulan Moeldoko Soal Keluarga Pelihara Ayam Konsumsi

Konfrontasi - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo setuju dengan saran yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko soal keluarga yang harus memelihara ayam untuk konsumsi. Menurut dia, dengan diterapkannya program itu bisa mencegah stunting.

“Saya kira ini bagus, nantinya anak-anak bisa terpenuhi kebutuhan pangan dan gizi melalui daging dan telur ayam,” ujar Syahrul kepada wartawan di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Minggu (24/11/2019).

Kantornya Digeruduk Peternak Ayam, Darmin Akan Panggil Mentan dan Mendag

Konfrontasi - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution bakal menindaklanjuti anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak. Hal itu juga menyikapi keluhan para peternak yang kemarin menggeruduk kantornya.

Ada 100 lebih peternak ayam yang mendatangi kantor Darmin. Mereka menuntut pemerintah turun tangan stabilkan harga ayam yang anjlok sampai ke level Rp 8.000 per kilogram (kg).

Permainkan Harga, Mentan Blacklist 56 Importir Bawang Putih

Konfrontasi - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan "blacklist" atau pelarangan terhadap 56 importir bawang putih yang tidak menaati peraturan, seperti melakukan permainan harga dan melakukan wajib tanam.

"Kami sudah 'blacklist' 56 perusahaan yang selalu permainkan harga, sehingga nantinya harga komoditas bawang putih stabil," kata Amran usai melakukan operasi pasar komoditas bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, dikutip dari Antaranews, Minggu (5/5/2019).

Mentan Lepas Ekspor 30 Ton Lada Asal Belitung ke Belasan Negara

Konfrontasi - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, melepas ekspor komoditas lada biji asal Belitung sebanyak 30 ton ke mancanegara. Pelepasan ekspor ini langsung dilakukan di lahan lada yang berada di Desa Air Seruk, Kecamatan Sijuk, Belitung, Sabtu (4/5/2019).

Hadir Wakil Gubernur Bangka Belitung, Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro, Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil, Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagiyono, Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry, eksportir dan para petani lada.

Amran menyebutkan tujuan ekspor lada ini, selain mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan petani, juga meningkatkan minat generasi milenial untuk terjun ke sektor pertanian. Hal ini untuk mensukseskan program Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengembalikan kejayaan rempah di kancah dunia.

"Pemerintah mendorong agar petani terutama generasi milenial giat menanam, salah satunya komoditas lada. Kita ingin Belitung ini kota lada, Bangka Belitung Provinsi lada, sehingga langsung bisa di ekspor ke India dan Eropa. Sehingga harga lada terjamin, pendapatan petani naik dan pendapatan pengusaha juga naik," kata Amran.

Amran membeberkan dalam mendorong generasi milenial terjun ke sektor pertanian, berbagai upaya telah disiapkan pemerintah. Pertama, atas arahan Presiden Jokowi dua tahun yang lalu, untuk menyediakan bibit unggul lada dan semua komoditas bagi petani. 

Karena itu, lanjut Amran, Kementan telah mengalokasikan anggarkan untuk bibit senilai Rp5,5 triliun dalam dua tahun berturut-turut. Khusus Provinsi Bangka Belitung, telah dialokasikan bibit unggul lada dengan rehabilitasinya sebanyak 5 ribu hektar.

"Bedanya, produktivitas bibit biasa hanya 0,7 ton per hektar per tahun, tapi kalau bibit unggul produktivitasnya 2,5 ton per hektar per tahun, bahkan bisa mencapai 3 ton per hektar per tahun," bebernya.

Dengan program ini, Amran optimis dapat mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. Pasalnya, akar permasalahannya ada pada bibit, teknologi dan membangun semangat petani. Apalagi keunggulan kompratif pertanian Indonesia masih luar biasa, sehingga produktivitas dan kualitas suatu komoditas dapat ditingkatkan dan mampu bersaing di pasar dunia.

"Kita sudah buktikan empat tahun terakhir, dulu ekspor kita 33 juta ton, tapi di tahun 2018 meningkat menjadi 42 juta ton. Artinya naik hampir 10 juta ton. Apa yang kita lakukan sekarang ini sudah membuahkan hasil di pemerintahan Jokowi-JK. Sekarang kita sudah panen," ujarnya.

Kedua, sebut Amran, selain program bantuan bibit unggul, Kementan memberikan anggaran berdasarkan sentra produksi, sehingga tidak memberikan kepada daerah yang tidak cocok dengan lada, sehingga anggaran tidak diecer. Adapun sentra produksi lada Indonesia yakni Bangka Belitung, Luwu Raya, Bengkulu, Sumatra Selatan dan Lampung.

"Ini adalah sentra lada kita. Kita harus kembangkan berdasar keunggulan komparatif dan kompetitif. Kompetitif itu melakukan prosesing, agar bisa memasuki pasar internasional. Karena nilai tambah yang paling besar ada diprosesing. Jadi cara berpikir kita ke depan seperti itu," tegasnya.

Mentan Jamin Stok Cabai Aman Saat Natal dan Tahun Baru

Konfrontasi - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menjamin pasokan cabai akan lancar guna mencukupi kebutuhan masyarakat termasuk pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 nanti.

Menurutnya, tidak ada alasan pasokan cabai langka dan harganya tidak stabil.

"Kami terus kawal langsung cabai dari hulu Sampai hilir. Direktorat Jenderal Hortikultura saya perintahkan untuk memastikan pasokan cabai aman sepanjang tahun. Tak ada alasan cabai langka. Sudah terbukti kan, dua tahun ini Iedul Fitri, Idul Adha masyarakat lebih tenang karena harga cabai tidak lagi melambung dan yang penting gak ada impor cabai segar," ini disampaikan Amran, Menteri peraih Indonesia Award 2018 sebagai Penjaga Ketahanan Pangan Nasional itu di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengaku yakin pasokan cabai baik jenis keriting, besar maupun rawit sangat mencukupi saat Natal dan Tahun Baru nanti.

Menurutnya, sekarang ini justru yang terjadi harga cabai lagi murah di petani karena produksi di sentra-sentra melimpah.

"Kalau melihat trend lapangan, kami optimis pasokan cabai sampai Januari nanti mencukupi bahkan surplus," ujarnya.

Suwandi menyebutkan pasokan cabai ke pasar Jabodetabek mencapai 290 ton per hari atau 8.700 ton sebulan.

Hingga kini pasokannya lancar, karena para petani penggerak atau Champion Cabai dari daerah sentra diajak bersama-sama mengamankan pasokan Jabodetabek.

Secara nasional pada Bulan Desember ini, cabai rawit sekitar 54 ribuan ton, Januari 2019 64 ribuan ton dan Febuari sekitar 80 ribuan ton.

Untuk keriting Desember ini ada sekitar 73ribuan ton, Januari 2019 113 ribuan ton dan Febuari ada 130 ribuan ton.

"Aman lah, gak perlu khawatir dengan cabai. Kami juga intensif memacu produksi dan menata sebaran sentra cabai agar pasokan terjaga," tandasnya.

Komunitas Petani dan Peternak Desak Jokowi Copot Mentan Amran Sulaiman

Konfrontasi - Presiden Joko Widodo (Jokowi)  diminta untuk memecat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Hal ini dikarenakan Amran diduga berbohong terkait data pangan khususnya komoditas padi.

Desakan itu disampaikan melalui Petisi Ragunan yang diteken oleh puluhan orang dari kalangan organisasi, komunitas peternak dan petani yang diserahkan oleh Direktur Eksekutif Pataka, Yeka Hendra Fatika kepada Ombudsman RI, Jumat (30/11) kemarin.

Anak Buah Ditangkap KPK, Mentan Kirim Surat SP3

Konfrontasi - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali memecat seorang pegawai yang diduga melakukan tindak pidana korupsi. Kini, Amran memecat, Eko Mardianto, staf di Sub Bagian Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Direktorat Jenderal Hortikultura.

Plt Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Syukur Irwantoro mengatakan, kini Eko telah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

HKTI Bantu Kerja Kementerian Pertanian

Konfrontasi - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku senang dengan kinerja Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam menyejahterakan petani.

“Sekarang pekerjaan Kementerian Pertanian berkurang. Keluhan para petani bisa disampaikan melalui HKTI kemudian ke ketum. Nanti diselesaikan, apa pun masalahnya,” kata dia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (10/2/2018).

Dia menambahkan, kepala dinas di tingkat kabupaten dan provinsi juga bisa menyampaikan keluhan kepada perwakilan HKTI.