Melchias Mekeng

Politikus Partai Golkar Ini kembali Mangkir dari Panggilan KPK

KONFRONTASI - Politikus Partai Golkar, Melchias Marcus Mekeng untuk kelima kalinya mendapat panggilan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mekeng akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus korupsi proses pengurusan terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT AKT di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SMT (bos PT Borneo Lumbung Energy dan Metal, Samin Tan)," kata Jurubicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan, Jumat (6/12).

KPK Akan Lacak Keberadaan Melchias Mekeng di Luar Negeri

KONFRONTASI -  Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) Boyamin Saiman mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera melacak keberadaan Ketua Fraksi Partai Golkar Melchias Mekeng yang dikabarkan berada di luar negeri.

“Jika dia (Melchias Marcus Mekeng) tidak mau kembali maka KPK harus proses lebih lanjut, jika perlu ajukan ke pengadilan dan Imgrasi untuk mencabut pasportnya,” kata Boyamin kepada wartawan, Kamis (12/9/2019).

Mekeng: Novanto Dulu Berkuasa, Sekarang Hopeless

KONFRONTASI - Ketua Fraksi Partai Golkar, Melchias Mekeng memaklumi posisi Setya Novanto saat ini sulit. "Saya bilang itu post power syndrom artinya dulu dia punya kekuasaan lalu sekarang tidak punya kekuasaan, bahkan mungkin teman-teman yang tiap hari sama dia sudah meninggalkan," ujar Mekeng Jumat (23/3).

Makanya ia menganggap tuduhan Novanto dalam persidangan Tipikor Jakarta, kemarin, soal dirinya turut menerima duit proyek KTP-el senilai 500 ribu dolar AS sebagai asal bunyi.  

Rupiah Terus Melemah Karena Tidak Ada Kebijakan Fundamental

KONFRONTASI-Aggota Komisi XI DPR, Melchias Mekeng, mengatakan, pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar AS hingga menembus Rp13.000 per dolar AS  karena pemerintah dan DPR tak punya cara untuk membuat kebijakan fundamental guna menyelesaikan masalah-masalah fundamental.

Dia memberi ilustrasi pada hal pokok, yaitu Indonesia mengimpor keperluan pokok, di antaranya beras, gula, jagung, dan bahkan garam.