Korea Utara

Obama: Korea Utara Adalah Ancaman Nyata

KONFRONTASI-Korea Utara menimbulkan “ancaman nyata” yang solusinya akan membutuhkan kerja sama internasional, kata mantan presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dalam kunjungan ke Jepang, Minggu (25/03).

Obama juga mengatakan AS perlu memastikan keberadaan sistem pertahanan untuk melindungi negara-negara di kawasan itu dari kemungkinan serangan rudal Korea Utara.

Gedung Putih Berharap Pertemuan Trump-Kim Terlaksana

Konfrontasi - Gedung Putih mengaku berharap rencana pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dapat terlaksana.

Sementara itu Pyongyang hingga kini belum berkomentar secara terbuka mengenai kemungkinan pertemuan kedua pemimpin tersebut.

Sebelumya pada pekan lalu, seorang delegasi dari Korea Selatan yang mengunjungi Korea Utara mengatakan bahwa Kim berharap bisa bertemu Trump dan presiden Korea Selatan untuk membicarakan masalah denuklirisasi.

Media Korea Utara membenarkan adanya kunjungan dari Seoul, namun tidak melaporkan isi pembicaraan dalam kunjungan itu.

Saat ditanya apakah diamnya Korea Utara berarti kemungkinan pertemuan antara Trump dengan Kim tidak akan terjadi, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menjawab, “Tentu saja kami berharap akan terlaksana. Tawaran sudah disampaikan dan kami menerimanya. Korea Utara telah menjanjikan sejumlah hal dan kami berharap mereka bisa menepatinya. Jika demikian, maka pertemuan akan terlaksana sesuai rencana,” kata Sanders, seperti diberitakan Reuters, Selasa (13/3/2018).

Pihak Korea Selatan mengatakan bahwa Pyongyang masih diam karena berhati-hati dalam menyiapkan pertemuan itu. Sementara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengaku berharap bisa mendengar langsung dari Pyongyang.

“Kami belum menerima jawaban resmi dari rezim Korea Utara terkait pertemuan puncak Korea Utara dengan Amerika Serikat,” kata Baik Tae-hyun, juru bicara kementerian Unifikasi Korea Selatan.

“Saya menduga mereka menghadapi persoalan ini secara hati-hati dan butuh waktu untuk menyiapkan sikap,” kata dia.

Di sisi lain, Tillerson menegaskan bahwa sejumlah hal masih perlu dilakukan untuk menyepakati lokasi dan poin-poin perundingan.

“Ini masih dalam tahap awal. Kami belum mendengar langsung jawaban dari Korea Utara,” kata dia saat mengunjungi Nigeria.

Tiba di Seoul, Korsel Pastikan Ivanka Trump Tidak Ada Pertemuan dengan Korut

Konfrontasi - Putri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Ivanka, telah tiba di Seoul, Korea Selatan (Korsel) untuk menghadiri upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin. Terkait hal tersebut, juru bicara Departemen Luar Negeri Korsel mengatakan tidak ada rencana Ivanka untuk bertemu dengan anggota delegasi Korea Utara (Korut).

"Ivanka Trump datang ke upacara penutupan Olimpiade untuk menunjukkan penghargaan kepada tim Amerika Serikat dan untuk menunjukkan kekuatan aliansi Amerika Serikat-Korea Selatan," ujarnya.

Korut Negara Terkorup se-Asia Pasifik, di Mana Posisi RI

Konfrontasi - Rezim Korea Utara, dilaporkan menjadi negara yang paling korup di Asia, menurut sebuah indeks, diikuti oleh Kamboja yang pemerintahannya dianggap semakin otoriter.

Indeks Persepsi Korupsi 2017, yang dirilis oleh badan yang berbasis di Berlin, Transparency International, menemukan bahwa sebagian besar negara hanya membuat sedikit, atau bahkan tidak ada kemajuan dalam mengakhiri korupsi.

Korea Utara Terima Bahan Pembuat Nuklir Melalui Kedubes Jerman

KONFRONTASI - Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Jerman mengetahui tindakan Korea Utara yang mendapatkan peralatan dan teknologi untuk membuat nuklir dan senjata api melalui kedutaan Berlin di Korea Utara. Kepala BfV, Hans-Georg Maassen mengatakan anggotanya sudah memperhatikan banyak kegiatan pengadaan yang dilakukan di kedutaan tersebut.

"Dari sudut pandang kami, barang-barang itu bukan hanya untuk program rudal, tetapi sebagian lagi untuk program nuklir," kata Maassen, dilansir dari laman Channel News Asia, Minggu (4/2/2018).

Jangan Coba-coba Ganggu Reunifikasi Korea

KONFRONTASI-Peringatan keras dilontarkan rezim Korea Utara (Korut) bagi pihak ketiga untuk tidak memicu ketegangan dan campur tangan dalam proses rekonsiliasi antara Korea. Pyongyang mengklaim bahwa pihaknya telah melakukan "upaya besar" untuk menyatukan kembali semenanjung tersebut dengan latar belakang ancaman nuklir Amerika Serikat (AS).

"Kami akan dengan berani menghancurkan semua tantangan keinginan bangsa Korea untuk disatukan kembali," bunyi pernyataan pemerintah Korut yang diberitakan kantor berita resmi KCNA.

Pages