Kolera

Kolera Mewabah di Nigeria, 175 Orang Tewas

KONFRONTASI-Sedikitnya 175 orang dilaporkan meninggal akibat wabah kolera di bagian timur-laut Nigeria, kata satu lembaga kemanusiaan pada Senin (12/11).

"Lebih dari 10.000 orang telah terpengaruh oleh wabah kolera, yang menyebar, di Nigeria, kata pemerintah. sebanyak 175 antara mereka dilaporkan meninggal di Negara Bagian Adamawa, Borno dan Yobe," kata Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) di dalam satu pernyataan.

Wabah Kolera Mulai Jangkiti Wilayah Saudi

KONFRONTASI-Arab Saudi memastikan satu penularan dan tiga penderita terduga kolera di daerah berbatasan dengan Yaman, tempat wabah menewaskan lebih dari 2.000 orang, kata televisi negara pada Minggu, mengutip keterangan pejabat kesehatan.

Laporan Reuters menyatakan para penderita tersebut, yang hanya disebut bukan warga Saudi, dirawat di rumah sakit umum al-Mauwassem di Jizan, sekitar 1.000 kilometer barat daya ibu kota, Riyadh.

Kolera Jangkiti Nigeria, Belasan Tewas, Ratusan Terinfeksi

KONFRONTASI-Wabah kolera telah menewaskan 12 orang dan kemungkinan telah menginfeksi setidaknya 134 orang lainnya di negara bagian Nigawa, Nigeria timur laut, menurut seorang pejabat medis pada Rabu.

"Sejauh ini 12 orang telah meninggal karena penyakit itu dan terdapat banyak kasus lagi," kata Ezra Sakawa, direktur medis rumah sakit umum untuk Kota Mubi, tempat penyakit itu menyerang.

"Kami kekurangan tenaga untuk menghadapi wabah yang begitu besar," kata Sakawa, sambil menambahkan bahwa para perawat juga terinfeksi.

Wabah Kolera Kembali Jangkiti Yaman

KONFRONTASI-Musim hujan di Yaman akan memicu kembali gelombang kolera, yang pada akhirnya menempatkan jutaan orang terancam di negara bergolak itu.

Ilmuwan memperingatkan kemungkinan itu pada Kamis. Ahli juga menyerukan gerakan kesehatan masyarakat selama Ramadan, yang dimulai pertengahan Mei, setelah penelitian menyarankan kebiasaan terkait dengan bulan suci itu mungkin membantu menyebarkan penyakit tersebut pada tahun lalu.

Lebih dari satu juta terduga penderita kolera dilaporkan di Yaman sejak 2016, dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

"Kami memperkirakan lonjakan jumlah penderita selama musim hujan," kata Anton Camacho, penulis utama kajian tentang wabah, yang diterbitkan dalam jurnal "The Lancet Global Health".

"Jika sesuatu akan terjadi, itu akan terjadi sekarang juga setiap orang harus sadar dan merespon dengan cepat. Risikonya tinggi," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Musim hujan berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Agustus. Jumlah harian kasus kolera meningkat 100 kali lipat dalam empat minggu pertama musim hujan tahun lalu, yang menyebabkan penyebaran penyakit ke seluruh negeri, kata kajian itu.

Penulis memperkirakan kontaminasi sumber air selama musim hujan dan perubahan tingkat zooplankton dan besi di air, yang membantu bakteri kolera bertahan hidup, mungkin telah berkontribusi untuk ledakan kasus.

Mereka memperkirakan lebih dari setengah distrik Yaman - rumah bagi hampir 14 juta orang - beresiko tahun ini.

Kolera, yang tersebar lewat makanan atau air tercemar, adalah penyakit diare, yang dapat membunuh dalam beberapa jam.

Epidemi Yaman telah diperparah konflik bertahun-tahun yang telah merusak layanan kesehatan dan pasokan air, yang membuat lebih dari 2 juta orang mengungsi dan mendorong negara itu ke jurang kelaparan.

Penelitian itu, yang memetakan wabah dan menganalisa pola curah hujan, telah membantu para pejabat kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia untuk mengidentifikasi lokasi untuk mendistribusikan vaksinasi kolera.

Ilmuwan mengatakan data mereka juga menunjukkan peningkatan dalam kasus setelah Ramadhan, ketika orang sering berkumpul untuk melakukan makan malam bersama dan juga makan lebih sering di pedagang kaki lima.

"Kami tidak ingin orang berpikir Ramadhan membawa kolera - bukan itu masalahnya," kata Camacho.

"Perubahan perilaku kecil dalam situasi di mana Anda memiliki banyak potensi kasus kolera ... bisa memiliki efek yang sangat besar," katanya.

Yaman, salah satu negara termiskin di dunia Arab, terlibat dalam perang antara gerakan bersenjata Houthi, yang didukung dengan Iran, dan koalisi militer yang didukung Amerika Serikat yang dipimpin Arab Saudi.

Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan bahwa 22 juta dari 25 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan.Musim hujan di Yaman akan memicu kembali gelombang kolera, yang pada akhirnya menempatkan jutaan orang terancam di negara bergolak itu.

Ilmuwan memperingatkan kemungkinan itu pada Kamis. Ahli juga menyerukan gerakan kesehatan masyarakat selama Ramadan, yang dimulai pertengahan Mei, setelah penelitian menyarankan kebiasaan terkait dengan bulan suci itu mungkin membantu menyebarkan penyakit tersebut pada tahun lalu.

Lebih dari satu juta terduga penderita kolera dilaporkan di Yaman sejak 2016, dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

"Kami memperkirakan lonjakan jumlah penderita selama musim hujan," kata Anton Camacho, penulis utama kajian tentang wabah, yang diterbitkan dalam jurnal "The Lancet Global Health".

"Jika sesuatu akan terjadi, itu akan terjadi sekarang juga setiap orang harus sadar dan merespon dengan cepat. Risikonya tinggi," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Musim hujan berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Agustus. Jumlah harian kasus kolera meningkat 100 kali lipat dalam empat minggu pertama musim hujan tahun lalu, yang menyebabkan penyebaran penyakit ke seluruh negeri, kata kajian itu.

Penulis memperkirakan kontaminasi sumber air selama musim hujan dan perubahan tingkat zooplankton dan besi di air, yang membantu bakteri kolera bertahan hidup, mungkin telah berkontribusi untuk ledakan kasus.

Mereka memperkirakan lebih dari setengah distrik Yaman - rumah bagi hampir 14 juta orang - beresiko tahun ini.

Kolera, yang tersebar lewat makanan atau air tercemar, adalah penyakit diare, yang dapat membunuh dalam beberapa jam.
 

Wabah Kolera Menyebar Cepat di Tenda Pengungsian Nigeria

KONFRONTASI - Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan wabah kolera menyebar dengan cepat di tenda pengungsian, tempat sejumlah orang berlindung dari serangan petempur Boko Haram di Borno, Nigeria.

Sebagian besar kematian tercatat di pengungsian Muna Garage, di pinggiran ibukota negara bagian Maiduguri, pusat pemberontakan kelompok Boko Haram yang juga mengganggu stabilitas keamanan negara tetanggannya, Kamerun, Chad dan Niger.

Wabah Kolera di Yaman Kian Tak Terkendali

KONFRONTASI-Jumlah kasus kolera di Yaman telah meningkat, menurut dokumen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa, dengan 35.217 terduga kasus sejak 27 April, ketika wabah mulai menyebar dengan cepat.

Angka itu menunjukkan kenaikan 50 persen terkait pelaporan peristiwa dibandingkan dengan angka yang disampaikan Jumat lalu oleh perwakilan WHO di negara tersebut, Nevio Zagaria, yang mengatakan pada saat itu ada 23.425 kasus sejak 27 April.

Buletin epidemiologi WHO yang mencakup periode sampai 22 Mei mencatat 361 kematian telah dilaporkan, terutama di kawasan barat Yaman. Terjadi kenaikan lebih dari 100 kasus sejak Jumat, saat Zagaria mengatakan 242 orang telah meninggal dunia.

Epidemi dimulai pada Oktober dan berkembang hingga Desember. Jumlah itu kemudian menurun tapi tidak pernah berhasil dikendalikan sepenuhnya, dan sebuah lonjakan baru mulai terjadi pada April, yang diperburuk oleh menurunnya kondisi ekonomi dan sistem kesehatan.

Jumlah kasus yang dilaporkan sejak Desember berjumlah 61.000, kata buletin tersebut. Zagaria mengatakan pekan lalu bahwa jumlah total bisa mencapai 300 ribu dalam enam bulan ke depan.

Kolera biasanya disebabkan oleh kontaminasi Vibrio cholerae pada air atau makanan yang terkontaminasi tinja. Penyakit itu bermanifestasi menjadi diare akut dan bisa membunuh dalam hitungan jam, meski tiga perempat orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala

Masa inkubasi singkat berarti wabah dapat menyebar dengan kecepatan eksplosif, terutama di tempat tanpa air yang aman dan sanitasi yang tepat, menurut WHO.

Yaman telah hancur akibat dua tahun perang sipil, dengan 18,8 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, banyak di antaranya terancam kelaparan. Kurang dari 45 persen fasilitas kesehatan negara yang berfungsi penuh.

Wabah Kolera Jangkiti Yaman, Ratusan Orang Tewas

KONFRONTASI-Pejabat di ibukota Yaman, Sanaa, yang dikuasai gerakan bersenjata Houthi,  awal pekan ini menyatakan negaranya dalam keadaan darurat akibat wabah kolera yang menewaskan ratusan orang.

Kementerian Kesehatan Yaman meminta badan kemanusiaan dan pemberi bantuan ikut mengatasi wabah tersebut dan mencegah bencana belum pernah terjadi di kawasan tersebut, demikian laporan Reuters, mengutip kantor berita Saaba.

Pranata kesehatan sangat parah, menurun akibat perang lebih dari dua tahun, yang juga mengakibatkan jutaan orang mengungsi, dan hal itu tidak dapat diatasi.

Yaman dilanda perang pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan Iran, melawan kekuatan gabungan pimpinan Arab Saudi, yang didukung Barat.

Lebih dari 10.000 orang tewas, dan sebagian besar penduduk hampir setiap hari mengalami serangan udara, sejak pertempuran tersebut dimulai.

Hanya beberapa layanan medis yang masih berfungsi dan dua pertiga penduduknya tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, catat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Epidemi akhir tahun lalu telah berangsur hilang, namun warga Yaman menghadapi wabah kolera akhir-akhir ini sering menjangkit.

Haiti Kembali Dijangkiti Kolera

KONFRONTASI-Haiti mencatat hampir 800 kasus kolera, sepekan setelah negara tersebut diterjang Siklon Matthew, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (19/10).

Sebelumnya ada indikasi badai dahsyat tersebut memicu lonjakan kasus baru, tetapi pengujian sampel sulit dilakukan pascabencana, kata keterangan utusan WHO untuk Haiti Jean-Luc Poncelet kepada awak media di Jenewa.

Setelah sistem pengujian sampel kembali berfungsi, otoritas kesehatan dapat memastikan sebagian besar laporan mengenai dugaan kasus kolera, ujar Poncelet.

Puluhan Orang di Tanzania Tewas Akibat Wabah Kolera

KONFRONTASI-Wabah kolera yang berawal dan menyebar dari ibu kota komersial Tanzania, Dar es Salaam, menewaskan 54 orang sejak Agustus, kata PBB di dalam satu laporan yang disiarkan pada Rabu (7/10) di negara Afrika Timur tersebut.

Jumlah paling akhir dari laporan itu juga memperlihatkan 3.559 orang lagi diduga atau dikonfirmasi telah terserang penyakit tersebut.

PBB mengatakan di dalam laporan itu bahwa berbagai tindakan yang dilakukan guna menghentikan wabah tersebut diselimuti oleh angka penularan baru.

Wabah Kolera Tewaskan 16 Warga Nigeria

KONFRONTASI-Enam belas orang tewas dalam wabah kolera di tiga lokasi penampungan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan Boko Haram di Nigeria timur laut, kata badan amal kesehatan "Medecins Sans Frontieres" (MSF), Rabu.

"Hitungan resmi pada 16 September tercatat 172 kasus kolera dan 16 kasus kematian," kata MSF yang juga dikenal sebagai "Dokter Tanpa Batas" dalam sebuah pernyataan melalui surat elektronik.

Pages