Kim Jong Un

Mantan Mertua Ungkap Identitas Siti Aisyah

Konfrontasi - Mantan mertua Siti Aisyah, Lian Kiong alias Akiong, bercerita banyak terkait perempuan yang diduga terlibat dalam pembunuhan saudara tiri pemimpin Kim Jong-un, Kim Jong-nam, tersebut.

Berikut petikan wawancara dengan Akiong di kediamannya yang berlokasi di Jalan Samarasa I Nomor 03, Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat, dilansir AntaraNews, Jumat (17/2/2017).

Kapan terakhir kali Anda bertemu Aisyah?

Ini Paspor Siti Aishah yang Diduga Terkait Pembunuhan Kakak Kim Jong Un

KONFRONTASI-Satu dari dua perempuan terkait pembunuhan kakak tiri Kim Jong Un, yakni Kim Jong Nam, disebut-sebut sebagai Warga Negara Indonesia bernama Siti Aishah. Ini paspor Indonesia milik Siti.

Berdasarkan salinan paspor yang diterima detikcom, Kamis (16/2/2017), nama yang tercantum adalah Siti Aisyah.

Pembunuhan Kim Jong Nam: Wanita Berpaspor Indonesia Ditangkap

KONFRONTASI-Perempuan kedua yang diduga terlibat dalam pembunuhan Kim Jong Nam, kakak tiri Kim Jong Un, ditangkap Kepolisian Malaysia, Kamis (16/2/2017).

Pada Rabu malam, polisi Malaysia menangkap perempuan berpaspor Indonesia dan langsung menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya, polisi juga menangkap seorang perempuan berusia 28 tahun dan berpaspor Vietnam dalam kasus yang sama.

Kedua perempuan itu ditangkap secara terpisah oleh tim penyidik kematian Kim Jong Nam yang diserang di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Korsel Bentuk Brigade Pemenggal Kepala Kim Jong-un

KONFRONTASI-Tegangan antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) seolah tak pernah surut. Terbaru, Korsel dikabarkan tengah membentuk sebuah brigade khusus yang dijuluki “unit pemenggal kepala”, pemimpin tertinggi Korut Kim Jong Un.

Langkah ini dilakukan Seoul menyusul serangkaian provokasi yang dilakukan oleh Pyongyang, seperti uji coba senjata nuklir juga ancaman latihan militer Korut yang dikabarkan menargetkan Gedung Biru, kantor kepresidenan Korsel.

Kim Jong Un has executed over 300 people since coming to power

KONFRONTASI-A new report claims North Korean dictator Kim Jong Un has ordered 340 people to be executed since he came to power in 2011.

The Institute for National Security Strategy, a South Korean think tank, released "The misgoverning of Kim Jong Un's five years in power" on Thursday, detailing how the North Korean leader uses executions to tighten his hold on power.

Of those killed, about 140 were senior officers in the country's government, military and ruling Korean Worker's Party.

Pyongyang Kembali Tembakkan Rudal Balistik di Laut Jepang

Konfrontasi - Korea Utara menembakkan rudal balistik dari kapal selam (SLBM) dari lepas pantai timur negara itu, di Laut Timur atau Laut Jepang, Sabtu (23/4/2016).

Setelah sukses di darat, Korut kini melakukan pengujian rudal balistik di laut.

Otoritas Korea Selatan mengatakan, peningkatan uji coba nuklir oleh Pyongyang itu dilakukan senjelang pertemuan puncak partai yang berkuasa di Korut, Mei mendatang.

Korut Bersiap Meluncurkan Roket Lagi

Konfrontasi - Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un memberian pujian kepada sejumlah peneliti yang terlibat dalam peluncuran roket beberapa waktu lalu. Berdasarkan laporan media milik pemerintah pada Senin (15/2), Kim Jong Un bilang, peluncuran tersebut memukul telak musuh dan memerintahkan agar Korut mempersiapkan peluncuran roket selanjutnya.

Pada awal bulan ini, Korut tidak mengindahkan peringatan internasional dan meluncurkan roket yang mereka sebut sebagai satelit observasi bumi.

Trump Puji Kim Jong-un

Konfrontasi - Calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump memuji pemimpin Korea Utara. Kim Jong Un dapat terus berkuasa dengan menyingkirkan saingannya.

Berbicara di sebuah rapat umum Republik, Trump mengatakan cara diktator Kim mengeksekusi lawan-lawan politiknya menunjukkannya 'dia (Kim) sebagai bos'.

"Anda harus memberinya penghargaan," katanya dilansir dari Daily and Sunday Express, Ahad (10/1).

Kontras Desak Yayasan Pendidikan Soekarno Batalkan Penghargaan untuk Kim Jong-un

KONFRONTASI-Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengecam pemberian penghargaan kepada pemimpin tertinggi negara Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai tokoh anti-imperialisme oleh Yayasan Pendidikan Soekarno.

"Kontras meyakini ketidaketisan dan ketidaktepatan dalam pemberian penghargaan tersebut, serta mendesak Yayasan Pendidikan Soekarno segera membatalkan pemberian penghargaan," kata Koordinator Badan Pekerja Kontras Haris Azhar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pages