Kementan

Anggaran Kementan Dipangkas Rp7 Triliun, DPR: Pemerintah Kehilangan Fokus dan Disorientasi

KONFRONTASI-Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Luluk Nur Hamidah mengkritik keras kebijakan Pemerintahan Joko Widodo yang memotong anggaran Kementerian pertanian hingga di angka Rp 7 Triliun.

Pemotongan itu, kata politisi PKB itu tidaklah tepat di tengah ancaman kebutuhan pangan dalam negeri akibat pagebluk wabah virus corona baru (Covid-19).

Kementterian Pertanian dan TNI Bersinergi Mengatasi Dampak Kekeringan Kemarau 2019

KONFRONTASI -  Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI menggelar rapat koordinasi (Rakor) membahas dampak kekeringan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Jabodetabek. Sejumlah area tanam mengalami dampak kekeringan pada musim kemarau 2019. 

Kemtan Perketat Pengawasan Ekspor Melati

KONFRONTASI-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus mendorong peningkatan ekspor bunga melati atau bunga Jasminum Sambac dari Jawa Tengah dengan pengawasan ketat bebas penyakit.

Nilai ekspor bunga melati dari Jawa Tengah selama Agustus 2018 sampai Januari 2019 mencapai Rp200,55 miliar. Komoditas bunga ini diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Arab Saudi.

Kementan Targetkan Ekspor Jagung 2019 Capai 500.000 Ton

KONFRONTASI-Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pada tahun 2019 akan mengekspor sekitar 500.000 ton jagung. Sementara hingga akhir tahun 2018, ekspor jagung sudah mencapai 380.000 ton.

"Karena tahun lalu 380.000 ton, tahun ini bisa naik sampai 500.000 ton. Dan itu tidak bisa dibantah. Sekarang ini bagaimana kita harus tingkatkan ekspor jagung ke depan," kata Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di sela acara panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2/2019).

Dia melanjutkan, angka ekspor jagung senilai 380.000 ton tersebut terbilang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan impor jagung yang sejumlah 3,5 juta ton. Akan tetapi, lanjut Amran, Indonesia sudah berhasil menurunkan impor jagung dari sekitar 3,5 juta ton pada 2014 menjadi 1,3 juta ditahun 2015. Lalu pada 2016 turun menjadi 900.000 ton dan tahun 2017 tidak ada ekspor.

"Tahun 2018 ekspor 380.000 ton, impor 100.000 ton artinya surplus. Terpenting adalah dulu kita impor dari Argentina dan Amerika, sekarang kita sudah bisa ekspor. Nah ini membalik, dari impor menjadi ekspor," ungkap dia.

Sementara itu, impor yang dilakukan pada akhir tahun lalu menurutnya saat itu ada alokasi impor gandum 200.000 ton untuk industri pakan ternak. Perusahaan besar memilih untuk menggunakan jagung daripada impor, karena waktu itu dollar sekitar Rp15.000. Maka dari itu, diputuskan untuk impor karena perusahaan besar alihkan yang biasa gunakan campuran gandum jadi ke jagung.

"Kami lacak kenapa impor padahal kami hitung surplus. Yang terjadi adalah ada rekomendasi impor gandum 200.000 ton untuk pakan ternak feedmill. Perusahaan besar memilih untuk menggunakan jagung daripada impor karena waktu itu dollar Rp15.000. Jadi lebih untung jagung, tetapi susahkan peternak," ungkapnya.

"Makanya kami putuskan untuk impor 100.000 ton karena perusahaan besar alihkan yang biasa gunakan campuran gandum jadi ke jagung. Ini tidak benar. Tetapi tidak apa apa kita harus jaga petani dan peternak," beber Amran.

Dirinya pun optimistis, maksimal dalam dua bulan kedepan Indonesia sudah ekspor lagi. Dalam kesempatan panen raya jagung di Kabupaten Lamongan, Amran juga berharap para petani dapat mensuplai kebutuhan jagung peternak baik yang berada di wilayah Lamongan, maupun di kabupaten lainnya.

"Kami berharap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani saat panen raya seperti ini, sehingga dapat menjadi buffer stock," ujarnya.

Selain itu, petani jagung dan peternak ayam mandiri juga dapat menikmati masa panen raya jagung saat ini melalui mekanisme distribusi dan stok yang baik. Disaat bersamaan, Mentan menambahkan bantuan bibit jagung untuk Kabupaten Lamongan tahun 2019 dua kali lipat dari tahun lalu.

"Bantuan tahun ini berani kalau dikali dua dari jumlah bantuan tahun lalu. Supaya dari Lamongan bisa suplai kebutuhan peternak Blitar? Tahun ini jadi 20.000 Paket dengan pupuk," jelas Amran.

Sementara itu, sebagai salah satu sentra ternak ayam petelur, kebutuhan Jagung pakan di Blitar sangat tinggi. Sehingga Mentan secara spontan berinisiatif membuatkan kesepakatan antara Kabupaten Blitar dan Lamongan. Kesepakatan pembelian jagung ini akan menjembatani keduanya, dengan Bulog berada di tengah untuk mengatur penyerapan kagung dan pasokan dari Lamongan ke Blitar.

"Ini model baru, nggak usah pulang ambil stempel. Kertas kesepakatan ini tolong masing-masing dibawa pulang. Traktor dan dryer kami bantu kirim ke sini, hasilnya kirim ke Blitar," tegas Amran.

Untuk melancarkan kesepakatan ini, Amran pun menyiapkan minimal 20 dryer atau mesin pengering jagung dengan kekuatan 10 ton per 8 jam. Selain dryer, Pemerintah akan memberikan bantuan 10 traktor roda empat serta 5 unit alat panen. "Ini semua untuk rakyat, bukan untuk tengkulak. Kami tidak ingin dipermainkan. Ini solusi konkret dan permanen," tukas Amran.

Ombudsman Minta Pelaksanaan Anggaran Kementan Diawasi

KONFRONTASI-Anggota Ombudsman Ahmad Alamsyah Saragih meminta adanya pengawasan pelaksanaan anggaran Kementerian Pertanian setelah penentuan pagu alokasi dalam APBN 2019 ditetapkan melalui lahan baku Statistik Pertanian Lahan (SP-Lahan) tahun 2016 seluas 8,1 juta hektare.

Ahmad dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan terdapat perbedaan luas lahan tersebut hingga sebesar satu juta hektare dengan data terbaru hasil penghitungan Kementerian ATR/BPN dengan instansi terkait.

Fitra Minta BPK Lakukan Audit Investigatif Terhadap Program Cetak Sawah Kementan

KONFRONTASI- Sekretaris Jenderal Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) Misbah mengatakan anggaran Kementerian Pertanian sebaiknya diawasi atau hingga audit. 

"Kalau audit wajib itu. Karena anggaran kalau tidak sesuai data, maka akan terjadi pemborosan," kata Sekretaris Jenderal Fitra, Misbah, di Jakarta, Sabtu.

Misbah meminta BPK mengaudit investigatif terhadap program cetak sawah milik Kementerian Pertanian karena belakangan dinilai terjadi perbedaan data antara Kementan dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang. 

Langkah Kementan Pinjam Jagung Dianggap Kurang Tepat

KONFRONTASI-Pengamat sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas menyatakan, peminjaman jagung dari dua perusahaan pakan ternak dinilai kurang tepat. 

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, Dwi mengatakan, langkah Kementerian Pertanian (Kementan) memilih meminjam jagung dari 2 perusahaan pakan ternak besar (feedmill), yaitu Charoen Pokphand, dan Japfa, sebanyak 10 ribu ton, dinilai kurang pas dilakukan. 

Kementan Catat Jagung Surplus 12,98 Juta Ton, Kok Mau Ada Impor?

KONFRONTASI -  Rapat koordinasi pangan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jumat (2/11/2018) memutuskan impor jagung hingga 100.000 ton. Jagung impor itu untuk pakan ternak yang dibutuhkan peternak kecil dan menengah. 

Cuma anehnya, menurut data Kementerian Pertanian produksi jagung nasional surplus alias kelebihan pasokan. Bahkan, Indonesia telah mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia. 

 

Kementan Anggap Impor Jagung 100 Ribu Ton Sangat Kecil

KONFRONTASI-Kementerian Pertanian (Kementan) menganggap impor jagung 100 ribu ton adalah jumlah yang sangat kecil.

Impor tersebut tidak terkait dengan asumsi bahwa produksi jagung nasional mengalami kekurangan pasokan.

Pengamat mempersoalkan impor jagung yang sangat kecil itu. Padahal Indonesia telah surplus dan malah sudah mengekspor ratusan ribu ton jagung ke berbagai negara. Pengamat dianggap telah ‘buta hati’ dan sangat picik dalam memahami persoalan yang aa.

Saat ini Indonesia tengah mengalami surplus jagung dan bahkan telah mengekspor jagung ke berbagai negara. Impor jagung sebenarnya tak perlu, mengingat jumlahnya yang sangat sedikit (100.000 ton) dibanding dengan jumlah ekspor yang sudah dilakukan.

Itu pun, impor ini bukanlah terkait masalah produksi, namun lebih karena persoalan tatadistribusi jagung yang tidak merata. Ada daerah yang sangat melimpah dan ada daerah yang kekurangan pasokan. Terkait masalah distribusi yang tak merata inilah kebijakan impor terpaksa diambil.

Mengapa Kementan selalu menjadi sasaran kritik? Karena para pengamat biasanya hanya melihat persoalan ini dengan sangat sederhana dan memakai logika kausalitas dangkal.

Asumsinya, bila Indonesia impor, maka jumlah produksi pangan pasti mengalami defisit. Padahal asumsi ini sangat artifisial mengingat dalam sistem pangan nasional, di samping ada produksi, ada distribusi, ada pasar dan lain-lain.

Terkait produksi jagung, Data Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memberi keterangan resminya. BPS menyimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton PK.

Selama 3 tahun ini Indonesia sudah menstop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun, setara menyelamatkan Devisa Rp 10 triliun, bahkan ditahun 2018 saja, sampai bulan Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga.

Perhitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyimpulkan realisasi luas tanam bulan Juni-September 2018 mencapai seluas 1.318.284 hektare, dengan perkiraan panen bulan September-Desember seluas 1.263.170 hektare. Dari perhitungan tersebut, diprakirakan produksi yang dihasilkan sebesar 7,18 juta ton PK.

Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton pipilan kering (PK) yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih.

“Artinya masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September-Desember. Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung dalqm negeri akan tetap aman sampai akhir tahun,” ucap Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto, Sabtu (3/11/2018).

Pemantauan Kementerian Pertanian di lapangan, posisi panen besar sudah mulai terjadi di berbagai daerah antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Barat dan Gorontalo.

Bahkan, survei bersama tim satgas pangan dengan tim Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan pada awal September menunjukkan panen sudah mulai terjadi besar-besaran di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto.

Total produksi September di Sulsel mencapai 87.000 ton. Sedangkan di Jawa Timur Oktober-November panen jagung mencapai berturut turut 79.000 ha dan 111.000 ha. Total produksi Jawa Timur di dua bulan ke depan diperkirakan akan mencapai 320 ribu ton dan 699.000 ton.

Sebenarnya panen dan produksi jagung berlangsung sepanjang tahun. Siklus tahunan produksi jagung menunjukkan bahwa puncak panen utama terjadi pada bulan Februari-April, puncak panen ke dua pada Juli-Agustus dan puncak panen ke tiga pada Oktober-Desember awal.

“Pemantauan tim dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menunjukkan panen jagung akan meluas lagi pada bulan Oktober hingga awal Desember,” katanya.

Periode ini merupakan puncak panen ke 3 dalam tahun ini. Pengamatan Kementan selama ini juga menggunakan drone sehingga benar-benar dapat terpetakan secara utuh sebaran luas pertanaman jagung.

Besarnya produksi jagung ini juga didorong oleh pengalokasian 2,8 juta hektare benih jagung premium telah. Sampai Bulan Agustus pertanaman jagung sudah mencapai 3,02 juta hektare, dimana 16,61% diantaranya adalah program bantuan Kementan.

Kekeringan yang terjadi saat ini juga tidak menjadi kendala pada pertanaman jagung, karena konsentrasi penanaman saat ini pada lahan-lahan bekas sawah yang masih memiliki kelembaban cukup untuk ditanam jagung.

Kementan Pastikan Produksi Jagung Nasional Surplus

KONFRONTASI-Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan produksi jagung nasional 2018 surplus, dan bahkan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Kelebihan produksi tersebut diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018 dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional. 

Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa pakan ternak yang naik belakangan ini diakibatkan oleh melesetnya data produksi.

Pages