KEMARAHAN

Kemarahan Jokowi Berlebihan, Bamsoet Mesti Hentikan Kampanye 3 Periode

KONFRONTASI -  Diksi dan intonasi yang digunakan  Presiden Joko Widodo ketika merespon wacana penambahan masa jabatan presiden sangat keras dan mengagetkan banyak kalangan.

Dalam penegasannya, Jokowi mengatakan, ada tiga maksud di balik usul itu. Pertama, untuk menampar mukanya. Kedua, mencari muka. Ketiga untuk menjerumuskan dirinya.

Walau bisa menerima isi pernyataan Jokowi, namun politisi Partai Gerindra Iwan Sumule menilai cara Jokowi menyampaikan keberatan itu masuk dalam kategori terlalu berlebihan.

KEMARAHAN SEORANG HARIMAN (5

Juftazani

                                  

Dalam gelap gulita iman di dada

Di saat Hariman dengan penuh keyakinan

Menggoyang sendi-sendi rumah Indonesia

Geger politik menggoncang bumi

Letusan Krakatau meruntuhkan oligarki tiga kaki

Indonesia kini dpenuhi bandit-bandit politik

Yang membuat kekacauan sistem negara  

Dan epidemi kerusakan moral

Jauhi gudang-gudang kekayaan rakyat

Mengerat Freeport tanpa menyisakan apapun untuk rakyat

KEMARAHAN SEORANG HARIMAN (3

Juftazani

 

Mereka menyebut ‘Malapetaka Lima Belas Januari’

Tapi macan yang hidup di zaman  Orde Baru menyebutnya

Kongkalikong jenderal Soeharto dan bawahannya yang saling

“Menjilat Pengaruh dan Hegemoni sang penguasa besar”

Kini peristiwa itu kembali

Aku mengaum sekeras-kerasnya

Dan kuburkan ambisimu wahai singa-singa rakus

Dan naga-naga rapuh dari Milwaukee, Texas, Guangzhou atau Shenzen

Aku akan jerat kalian dengan perangkap

KEMARAHAN SEORANG HARIMAN (1)

Juftazani

 

 

Di era paska reformasi

Hariman bangkit kembali

Cericit burung hutan-hutan bukit barisan

Menggema protes massal di awal 1970-an

Jangan pancing Hariman terjun payung

Dari parasut yang terkembang sejak 15 Januari 74

Pemerintahan Suharto yang digerogoti tikus-tikus rumah

Tikus-tikus comberan mulai berdatangan dari Eropa, Amerika dan

Jepang

Tikus rumah pengecut dan kotor menggerogoti minyak rakyat Pertamina