19 March 2019

Investasi

INDEF: OSS Belum Sempurna, Investasi Terhambat

KONFRONTASI-Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut penerapan pelayanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik (Online Single Submission/OSS) menghambat realisasi investasi sepanjang 2018 yang tercatat tak memenuhi target.

Peneliti Indef Ariyo DP Irhamna dalam diskusi bertajuk "Tantangan Mendorong Pertumbuhan dan Menarik Investasi di Tahun Politik" di Jakarta, Kamis, menyebut belum sempurnanya sistem OSS membuat investor kebingungan mengurus perizinan.

Erick Thohir Beberkan Alasannya Lepas Semua Sahamnya di Inter Milan

Konfrontasi - Erick Thohir baru-baru ini melepas kepemilikan saham Inter Milan yang dimilikinya. Saham sebesar 31,05 persen, dilepas Erick ke Lion Rock Capital.

Dengan demikian, Erick sudah tak memiliki saham lagi di Inter. Muncul pertanyaan mengapa Erick melepas sisa kepemilikannya di Inter.

Ternyata, penjualan ke Lion Rock tersebut dilakukan demi membayar utang pada sejumlah proyek investasinya di luar negeri, khususnya sepakbola.

Genjot Investasi, Jadi Tantangan untuk Jokowi dan Prabowo

KONFRONTASI-Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, menilai baik pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno punya tantangan yang sama dalam menggenjot investasi jika terpilih nanti.

Kedua pasangan calon presiden-wakil presiden dalam Pilpres 2019 itu menurut dia punya tantangan berat meyakinkan investor berinvestasi di Indonesia.

Waskita Karya Tahun Ini Jual Lima Ruas Tol dari 18 Tol

Konfrontasi - PT Waskita Karya (Persero) Tbk akan menawarkan 18 ruas tol miliknya kepada investor. Untuk tahun ini, ditargetkan 5 ruas tol bisa dijual kepada pihak swasta.
 
Direktur Utama Waskita Karya, I Gusti Ngurah Putra mengatakan, penjualan ruas tol merupakan salah satu langkah untuk menjaga keuangan Waskita tetap sehat. Selain itu, bisnis utama dari Waskita sebenarnya yaitu sebagai kontraktor, bukan operator tol.
 

Perry Warjiyo, Gubernur BI Lihat Prospek Investasi Masuk Di Tahun 2019 Lebih Positif

KONFRONTASI - Bank Indonesia (BI) melihat prospek investasi masuk ke dalam negeri, termasuk portfolio akan lebih positif.

"Apalagi penanaman modal asing (PMA) juga akan naik sejalan dengan kebijakan daftar negatif investasi (DNI) dan tax holiday," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, Kamis (20/12). Kondisi ini didukung landainya pertumbuhan ekonomi global.

BKPM 'Pede' Investasi Bakal Kembali Meningkat Pada 2019

KONFRONTASI-Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong meyakini kegiatan investasi akan kembali meningkat pada 2019, terutama usai penyelenggaraan pemilihan umum.

"Dari sisi siklus, investasi secara umum atau FDI akan recover pada 2019," kata Thomas ditemui usai mengikuti pemaparan Laporan Triwulanan Bank Dunia di Jakarta, Kamis.

Thomas menjelaskan pergerakan investasi selalu melambat menjelang pemilihan umum karena pelaku usaha sedang menanti perkembangan politik yang terjadi.

Milenial Lebih Baik Investasi Properti Ketimbang Beli Kendaraan

KONFRONTASI-Generasi milenial didorong menggunakan uangnya untuk berinvestasi properti ketimbang membeli kendaraan. Pasalnya, investasi sektor ini memiliki potensi kenaikan harga pada tahun berikutnya.

Gawat, Investasi Bodong Sudah Mulai Rambah Pedesaan

KONFRONTASI- Maraknya praktik investasi bodong yang mulai merambah ke perdesaan di Indonesia mendapat sorotan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Akhir tahun lalu, ratusan orang di Jawa Tengah menjadi korban investasi bodong dengan kerugian Rp111 miliar.

Ketua Bidang Pengaduan dan YLKI Sularsi mengatakan, hal tersebut perlu menjadi perhatian otoritas untuk menggalakkan literasi keuangan di daerah-daerah di Indonesia.

Sri Mulyani: Masih Ada PR, Investasi Melambat!

KONFRONTASIN   --    Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 sebesar 5,27% melampaui ekspektasi. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan ada resiko yang mengintai di balik capaian tersebut.

Usir LSM Asing Ilegal Perusak Iklim Investasi

KONFRONTASI-Pemerintah diminta untuk mengusir sejumlah lembaga swadaya masyarakat atau LSM asing bidang lingkungan hidup yang beroperasi di Indonesia. LSM itu diduga menjadi perpanjangan tangan melakukan kampanye hitam yang merusak ekonomi dan iklim investasi Indonesia.

Pascareformasi, kehadiran LSM asing yang beroperasi di Indonesia malahan menjadi blunder bagi perekonomian nasional. Mereka bahkan enggan melaporkan kegiatan maupun sumber pendanaannya kepada pemerintah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira menjelaskan, jejaring LSM dari luar negeri bebas masuk Indonesia tanpa ada pelaporan maupun registrasi kepada pemerintah Indonesia. Sementara di Malaysia, pemerintah setempat memberikan pengawasan ketat bagi LSM transnasional yang ingin beroperasi.

"Pada kenyataannya, NGO (non-governmental organizations/LSM), melanggar regulasi karena tidak terdaftar di pemerintah. Kebebasan sekarang ini menjadi kebablasan akibatnya blunder bagi perekonomian Indonesia," kata Bhima dalam diskusi Forum Jurnalis Sawit (FJS) di Jakarta, Jumat (5/10).

Bhima menyebutkan persoalan hambatan dagang dan kampanye hitam dapat dipetakan ke dalam beberapa isu misalkan di Amerika Serikat yang muncul isu dumping dan persaingan biofuel. Di Uni Eropa, sawit diadang persoalan lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Lain halnya dengan India yang menghadapi masalah neraca dagang.

"Isu negatif sawit terus dipoles dengan berbagai cara. Di Uni Eropa, sawit diserang isu buruh anak dan lingkungan," kata Bhima.

Jika persoalan ini tidak segera ditangani, dampaknya sangat luas terhadap neraca perdagangan dan investasi luar negeri. Bhima mengatakan surplus perdagangan Indonesia terus menyusut semenjak beberapa tahun terakhir.

Indonesia beruntung memiliki sawit yang menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas. Akan tetapi, perhatian pemerintah terhadap sawit belum serius sehingga daya saintg komoditas ini sulit berkembang.

"Tetapi jika pemerintah tidak menjaga komoditas (sawit) dari gangguan. Maka nasib sawit akan seperti komoditas rempah-rempah yang sekarang kita dengar cerita kejayaannya saja," kata Bhima.

Pages