International Monetary Fund (IMF)

Cari Dana Penanganan Covid-19, Pemerintah Disarankan Maksimalkan SUN Ketimbang Utang ke IMF

Konfrontasi - Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mendorong pemerintah memaksimalkan lelang surat utang negara (SUN) untuk mendanai penanganan wabah virus corona. Cara ini dianggap lebih efektif dan fleksibel ketimbang mendapatkan dana segar dari pinjaman luar negeri alias utang.

Hadapi Penyebaran Corona, Iran Resmi Ajukan Pinjaman ke IMF Setelah Puluhan Tahun

Konfrontasi - Untuk pertama kalinya selama puluhan tahun Iran meminta bantuan kepada IMF untuk menangani wabah virus corona. Iran adalah salah satu negara dengan kasus tertinggi virus corona di luar China.

Pengajuan pinjaman disampaikan pada Kamis (12/3/2020) waktu setempat, sebagai salah satu upaya melawan wabah mematikan itu. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammed Javad Zarif di Twitter.

Rizal Ramli Beberkan Awal Mula Pemerintah Kucurkan BLBI

Konfrontasi - Mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) sekaligus eks Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), Rizal Ramli, membeberkan awal mula munculnya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Dia mengatakan, pada saat krisis moneter tahun 1998 terjadi, pihak swasta kala itu memiliki utang yang banyak.

"Bahkan ada satu grup, Sinarmas pada waktu itu sangat ekspansif terbitkan bon USD 8 miliar, ternyata enggak mampu bayar kuponnya," ujar Rizal di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019).

Lantaran utang membengkak, pihak swasta mendapatkan pinjaman dari bank yang berada di grup-grup perusahaan swasta itu sendiri. Menurut Rizal, jumlah pinjaman yang diberikan sangat besar. Saat itu, kata Rizal belum ada regulasi batasan jumlah pinjaman pada internal grup perusahaan swasta.

Selain itu, International Monetary Fund (IMF) juga memaksa pemerintah Indonesia menaikkan bunga bank.

"Kemudian IMF menaikkan tingkat bunga Bank Indonesia. Menaikan dari 18 persen ke 80 persen. Begitu itu terjadi (justru) banyak perusahaan-perusahaan enggak mampu bayar kan," kata Rizal.

Menurut Rizal, saat bunga bank naik dan pihak swasta tak mampu membayar bunga bank, kemudian bank tersebut akangoyang. Saat itulah menurut Rizal, pemerintah dengan terpaksa mengucurkan BLBI kepada bank yang hampir bangkrut.

"Nah saat itu suntikan dana itu sampai, saya lupa sekitar USD 80 miliar. Kalau per-Dollar-nya saat itu Rp 10 ribu, berapa tuh," kata dia.

Rizal mengatakan, semua bank yang mendapat suntikan dana BLBI harus membayar utangnya secara tunai. Tetapi saat era BJ Habibie, ada aturan pembayaran dapat menggunakan aset.

"Esensinya utang ini harusnya tunai, tapi pada masa pemerintahan Pak Habibie, Menteri Keuangan Bambang Subianto sama Kepala BPPN, waktu itu Glenn Yusuf, dilobi supaya enggak usah bayar tunai, tapi bayar aset," kata Rizal.

Namun kebijakan tersebut rupanya dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang nakal. Ada pihak perusahaan membayar dengan aset bodong.

"Dibilangnya aset ini bagus, padahal belum, atau aset busuk atau setengah busuk, atau belum clean and clear. Misalnya tanah, padahal surat-suratnya belum jelas, tapi dimasukan sebagai aset," kata Rizal.

Ketika itu, sambung Rizal, BPPN meminta tolong Lehman Brothers, Bank investasi raksasa asal Amerika, melakukan valuasi. Namun kata Rizal, valuasi yang dilakukan Lehman Brothers cenderung sembrono.

"Lehman Brothers juga sembrono. Masa dalam waktu satu bulan dia sudah bisa lakukan penilaian terhadap nilai aset dari ratusan perusahaan, sehingga banyak kasus-kasus di mana mengaku sudah serahkan aset segini, kenyataannya tidak segitu," Rizal mengungkapkan.

IMF Tak Bisa Bantu Ekonomi Venezuela

Konfrontasi - Dana Moneter Internasional (IMF) tidak dapat membantu Venezuela dalam menangani ekonominya hingga ada keputusan pemimpin negara yang diakui oleh mayoritas anggota IMF. Hal ini dikatakan oleh Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.

"Mayoritas anggota harus mengakui secara diplomatis otoritas pemerintahan yang dianggap sah, jadi bukan kami yang memutuskan," ujar Lagarde dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington, Minggu (14/4/2019).

Angkasa Pura I Tingkatkan Fasilitas 5 Bandara di Indonesia Jelang IMF dan World Bank

Konfrontasi - PT Angkasa Pura I (Persero) mendukung kesuksesan penyelenggaraan pertemuan tahunan Badan Moneter International (IMF) dan Bank Dunia yang akan dilakukan pada tanggal 8 sampai 14 Oktober 2018 di Bali. Salah satu bentuk kesiapannya yaitu meningkatkan kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan melakukan pembangunan infrastruktur lima bandara milik Angkasa Pura I lainnya.