23 July 2018

hariman siregar

Hariman Siregar dan Para Aktivis Mengenang Amir Husin Daulay 2018

KONFRONTASI- Di tengah kerisauan dan kegagalan demokrasi  (transaksional) yang meminggirkan rakyat dewasa ini, tokoh Malari dr.Hariman Siregar mengatakan, perjuangan Amir Husin Daulay dalam kancah demokrasi dan kemasyarakatan makin dia pahami, makin dia tahu dan kenal setelah mendengarkan testimoni, kisah  dan kesaksian rekan-rekan Amir  dalam acara’’ Bergerak tapi Diam, Diam tapi Bergerak’’ di Jalan Guntur 49 Manggarai Jaksel, Jumat malam ini (6/7) .

Hariman Siregar: Masyarakat Makin Cerdas, Hasil Pilkada 2018 ini Sudah Diprediksi dan Tak Mengejutkan

KONFRONTASI- Tokoh Malari dan mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar menyatakan, masyarakat makin cerdas, dan hasil pilkada serentak 2018  sudah diprediksi dan tidak mengejutkan. Beberapa kemenangan kandidat sudah terprediksi  dengan tepat sebelumnya.

"Tidak ada kejutan sama sekali dalam pilkada," ujar Hariman dalam diskusi di Kampus Pergerakan Aktivis, di Jalan Lautze, Jakarta Pusat, Rabu (27/6/2018).

Bursah Zarnubi: Radikalisme Tumbuh karena Krisis Keteladanan dan Pancasila Tidak Diamalkan secara Nyata

KONFRONTASI- Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) menyelenggarakan diskusi dengan tema “Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas”. Diskusi aktivis lintas generasi ini diselenggarakan di Aula DPP PGK, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (11/6).

Dalam pembukaan, Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi mengatakan, radikalisme dapat tumbuh karena kurangnya pemahaman  atau gagal paham generasi muda tentang Pancasila. Padahal, Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Hariman Siregar Ingatkan Tindakan Represif Aparat Harus Dipertanggungjawabkan

KONFRONTASI-Tindakan represif aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terhadap aksi mahasiswa HMI MPO saat memperingati 20 Tahun Reformasi di depan Istana Negara disesalkan.

Aktivis reformasi, Hariman Siregar menegaskan, aksi main hakim sendiri oleh aparat itu haruslah segera dipertanggungjawabkan.

Hariman Siregar : 20 Tahun Reformasi, Pembangunan untuk Siapa?

KONFRONTASI -  Gaya bicara Hariman Siregar tetap sama. Semangat. Meledak-ledak. Hangat.  Membawa rasa gelisah. Kita bisa menangkap semua rasa itu bahkan saat berbicara dengannya lewat sambungan telepon. Tokoh aktivis mahasiswa yang memimpin demo pemicu meletusnya kerusuhan Malari, akronim dari Malapetaka 15 Januari 1974, berada di Yogyakarta sejak Jumat pekan lalu.

Hari-Hari Kelam Hariman Siregar dan Malari 1974

Redaksi: Menjadi aktivis mahasiswa yang berani, kritis dan lantang pada masa Orde Baru  Presiden Soeharto,  acapkali  direspon pemerintah dengan kekerasan dan  'kutukan' bagi sebagian orang. Meski begitu, tidak sedikit orang yang berani bersuara kritis dan lantang pada masa itu. Tidak terkecuali bagi sosok Hariman Siregar, Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia 1970-an.

40 Tahun Malari, Hariman Siregar: Kesenjangan Sosial Makin Parah! Yang Kaya Makin Kaya, yang Miskin Makin Miskin

KONFRONTASI—“Ada apa dengan pembangunan kita. Kenapa yang kaya makin kaya sekarang?” Pertanyaan ini dikemukakan aktvis senior dr Hariman Siregar, dalam acara peringatan peristiwa 44 Tahun Malari dan 18 In-Demo di Gedung UC UGM Yogyakarta, (15/1). Menurut Hariman, jelas ada yang salah karena pembangunan kini malah membuat kesenjangan sosial semakin lebar, yakni ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’.

‘’Persoalan kesenjangan sosial kami para mahasiwa sudah saya resahkan 44 tahun silam. Dalam pertemuan dengan mendiang Presiden Suharto pada hari Jumat tanggal  11 Januari 1974. Pada pertemuan itu kami para mahasiwa uang bertemu dengan Pak Harto di Bina Graha sudah mengutarakannya. Pembangunan harus fokus atau ditujukan ke masyarakat yang bawah. Pak Harto waktu itu hanya mengangguk-angguk saja,’’ kata Hariman.

Dalam acara itu beberapa tokoh seperti Djoko Santoso (mantan Panglima TNI), Soeripto (Petinggi PKS), Lily Wahid, Emha Ainun Najdib, Ari Sudjito (Dosen UGM), Bhima Yudhistira (Dosen UGM), Daniel Dakhidae, Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR), dan ratusan pengunjung lainnya.

Hariman memaparkan, pada saat pertemuan dengan Suharto itu, para mahasiswa mengkhawatirkan apa yang saat itu terjadi di Pakistan. Pada saat itu Pakistan bagian barat makmur, dengan pertumbuhan mencapai delapan persen. Namun, wilayah bagian timur perekembangan pertumbuhan ekonomi sangat rendah. Akibatnya, Pakistan pecah, antara Pakistan barat (Pakistan, sekarang) dan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh).

“Nah, sekarang ternyata masalahnya masih sama. Cuma bedanya dahulu omong begini ditangkap, sekarang tidak. Dan dua-duanya tidak juga dilaksanakan. Jadi dari 44 tahun silam masalahnya sama dan bahkan makin parah. Istilahnya, berputar dan terus berputar,’’ ujar Hariman lagi.

Bayangkan kata Hariman, ada 41 orang terkaya di negara ini, menguasai aset hingga 245 miliar dolar AS. Padahal, utang negara ini hanya 400 miliar dolar AS. Dan juga ada 1 persen orang menguasai 40 persen aset kekayaan nasional. "Makanya yang ada sekarang adalah stagnanisasi keadaan, bukan kemajuan yang kita dapatkan. Inilah masalahnya sekarang,’’ katanya.

Peringati Malari, Aktivis dan Politisi Kumpul di Yogyakarta

KONFRONTASI - Semangat meneguhkan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial masih terus bergelora di jejaring kaum prodemokrasi Indonesia. Pasca reformasi 1998, berbagai problematika kebangsaan seperti liberalisme, disintegrasi sosial, hingga masalah pemenuhan hak sosial ekonomi masyarakat, terus berkelindan dan belum mampu diakomodir oleh negara sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.

Hariman Siregar: Gerakan Kebangkitan Indonesia Bukan Makar

KONFRONTASI - Sejumlah tokoh nasioanl lintas latar belakang resmi mendeklarasikan 'Rumah Kebangkitan Indonesia' di ruang serba guna Is Plaza, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Minggu (7/1/2018).

Selain dihadiri Mantan Panglima TNI (Purn) Djoko Santoso dan aktivis legendaris Hariman Serigar, tampak juga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Wagub DKI Mayjen TNI (Purn) Prijanto serta puluhan tokoh senior lain seperti adik kandung Gus Dur, Lily Chodidjah Wahid.

Hariman Siregar: Pancasila Jangan Dijadikan Alat Penggebuk Lawan Politik seperti era Orde Baru

KONFRONTASI- Aktivis  senior untuk reformasi Hariman Siregar, mengajak masyarakat Indonesia memahami Pancasila agar Indonesia bangkit dari segala problema sosial dan moral bangsa. Pancasila, menurutnya, tidak boleh dijadikan alat menggebuk lawan politik penguasa seperti yang terjadi di masa Orde Baru.

Pages