Gastronomi

Indra Ketaren: President of Indonesia Gastronomic Association

Indra Ketaren was born in Medan and brought up in Bremen, Germany; Kuala Lumpur, Malaysia and in Jakarta. Growing up in Europe, his family often traveled around the European Union and Eastern Europe. After studying international relations at the Socio-Political Faculty of Pajajaran University in Bandung from 1976 to 1982, Indra worked in the Indonesian Foreign Service and in the commodities and trade financing import/export sector.

Icip-Icip Dinginnya Bisnis Es Krim Nitrogen

Konfrontasi - Maraknya tren bisnis es krim cair nitrogen akhir-akhir ini membuat sejumlah pengusaha tertarik untuk mencecap segarnya bisnis ini. Salah satu merek anyar yang ikut meramaikan bisnis es krim nitrogen ini adalah Freeze Indonesia.

Freeze Indonesia merupakan salah satu merek es krim cait nitrogen asli Indonesia ini berdiri pada November 2013 lalu. Karena peminat es krim nitrogen ini semakin meningkat maka, mulai awal Januari 2015, Freeze menawarkan kemitraan usaha.

Persoalan Pangan dan Gastronomi di Indonesia

KONFRONTASI- Ketika Indonesia berdiri sebagai negara-bangsa berdaulat, para bapak bangsa sudah memprediksi bahwa salah satu masalah krusial era Indonesia merdeka adalah persoalan pangan. “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ‘malapetaka’. Karena itu, perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.” (Ir Soekarno, 1952).

Kearifan Gastronomi Lokal, Kreatifitas Bangsa Indonesia

Meski lebih dari dua abad gastronomi telah dimaknai oleh bangsa dan budaya dipelbagai belahan dunia, namun sampai sekarang Indonesia belum memiliki gambaran holistik terhadap pemahaman dan pandangan tentang gastronomi serta tentang keterkaitannya dengan berbagai aspek.

Pada saat ini gastronomi yang senyatanya dapat menjadi pusaka budaya (cultural heritage) di Indonesia masih disamakan dan disetarakan dengan “kuliner”.

Antara Gastronomi dan Kuliner

Indonesia terdiri dari aneka ragam suku bangsa yang masing-masing memiliki adat istiadat, seni budaya dan bahasa yang khas, yang merupakan sumber untuk tumbuh dan berkembangnya kreatifitas. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kreatifitas bangsa itu sendiri dalam mengolah potensi sumber daya yang dimilikinya dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.