Eropa

5 Daftar Negara yang Resmi Menyatakan Resesi Ekonomi, Dimulai dari AS

Konfrontasi - Pandemi Covid-19 telah menjatuhkan perekonomian banyak negara. Bahkan beberapa negara telah masuk ke jurang resesi.

Terbaru adalah Amerika Serikat yang tadi malam resmi menyatakan resesi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi kuartal II nya tertekan dalam.

Sebelumnya ada juga Jerman yang menyatakan resmi resesi karena perekonomian yang juga tertekan dalam. Jauh sebelumnya yakni beberapa pekan lalu negar Asia yakni Singapura juga menyatakan resmi resesi.

Berikut daftar negara yang telah jatuh ke jurang resesi:

1. Amerika Serikat

Perekonomian negeri Paman Sam tersebut negatif 32,9% pada periode April - Juni. Kontraksi ini jauh lebih tajam dari kuartal I yang tercatat minus 5%.

Demikian laporan dari Departement Perdagangan AS yang baru dirilis, Kamis (30/7/2020) dilansir langsung dari CNBC International.

Kontraksi tajam terjadi dalam konsumsi, ekspor, hingga inevstasi dan pengeluaran pemerintah. Terlihat, spending yang tergelincir cukup dalam adalah health care atau kesehatan dan barang-barang seperti pakaian dan alas kaki.

Sementara penurunan investasi terdalam diakibatkan oleh loyonya sektor otomotif.

2. Jerman

Pemerintah Jerman mengonfirmasi ekonomi Negeri Panzer ini mengalami resesi. Negara ini kembali mencatat kontraksi pada ekonominya di kuartal-II 2020.

Secara basis kuartalan (QtQ) ekonomi minus -10,1%. Sebelumnya di kuartal-I 2020, ekonomi minus 2,2%.

Di basis tahunan (YoY) ekonomi Jerman, juga minus 11,7%. Sebelumnya di kuartal I 2020, ekonomi Jerman tercatat minus 2,3%.

Dengan ini, Jerman mengonfirmasi resesi. Resesi adalah keadaan di mana pertumbuhan ekonomi turun minus dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

"Ini adalah penurunan paling tajam sejak perhitungan PDB triwulan untuk Jerman sejak 1970," kata kantor federal statistik Jerman.

3. Hong Kong

Hantu resesi belum meninggalkan Hong Kong. Ekonomi kota di bawah China itu kembali mengalami kontraksi atau minus 9% di kuartal-II 2020 secara tahun ke tahun (YoY) dari data Rabu (29/7/2020).

Ini adalah kontraksi empat kuartal berturut-turut untuk pusat ekonomi global ini. Di mana aktivitas ekonomi sudah susut sejak pertengahan 2019, saat protes besar-besaran massa anti Beijing terjadi.

Meski begitu, data terbaru menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kuartal-I 2020, minus 9,1% (YoY). Di basis kuartalan (QtQ), ekonomi minus 0,1% di kuartal II-2020 ini.

"Ekonomi Hong Kong stabil pada kuartal terakhir ini karena stimulus fiskal dan permintaan yang lebih kuat di China mengimbangi konsumsi dan investasi yang melemah," kata Ekonom China untuk Capital Economics dalam sebuah catatan ditulis CNN Business.

Meski demikian, ancaman gelombang kedua Covid harus diwaspadai. Beberapa pekan ini, kasus Covid-19 Hong Kong naik setelah mampu mengendalikan virus tiga bulan lalu.

"Jalan bergelombang menuju pemulihan" kata Kepala Keuangan Hong Kong Paul Chan dalam sebuah postingan blog yang diterbitkan Minggu. "Terulangnya epidemi lokal baru-baru ini, menunjukkan bahwa mungkin diperlukan waktu lama untuk ekonomi lokal pulih."

Hong Kong mendapat tekanan berat saat ini. Bukan hanya soal politik dan Covid-19, Hong Kong juga dijadikan hotspot perselisihan China dan AS.

Kamu akan dibayar jika bersedia tinggal di 7 Kota di AS, Kanada dan Eropa ini, kamu mau?

KONFRONTASI- Tak banyak orang tahu jika sebenarnya ada sejumlah tempat di dunia, karena suatu alasan tertentu, membutuhkan penduduk. Untuk mendorong orang agar mau tinggal dan bekerja di tempat itu, mereka ditawari gaji atau fasilitas yang menggiurkan.

Jika kamu masih belum percaya, berikut brilio.net bagikan ulasannya yang dikutip dari brightside, Kamis (4/8). Di tempat-tempat ini, kamu akan mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk tinggal di tempat dengan budaya baru serta pendapatan yang sangat menjanjikan.

Lagi, Studi Awal Tunjukkan Vaksin BCG Turunkan Angka Kematian Corona

Konfrontasi - Studi awal dari AS tunjukkan vaksin tuberkulosis yang sudah berusia seabad disebut bisa berperan dalam mengurangi angka kematian Covid-19.

Para peneliti dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular dari National Institutes of Health membuat tautan ke Bacille Calmette Guerin (BCG) setelah membandingkan data tingkat Covid-19 di seluruh dunia.

Efek Covid-19, Menkeu Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Eropa Hingga AS Minus 2 Digit pada Kuartal II

Konfrontasi - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memperkirakan hampir seluruh negara mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal II 2020. Bahkan, ada beberapa negara yang pertumbuhan ekonominya negatif hingga dua digit.

Ribuan Anggota Parlemen Eropa Desak Israel Hentikan Aneksasi Tepi Barat

KONFRONTASI-Lebih dari 1.000 anggota parlemen Eropa dari 25 negara mendesak para pemimpin mereka untuk turun tangan dan menghentikan rencana aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat yang diduduki. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berniat memulai proses aneksasi minggu depan.

Dalam surat dikirim ke Menteri Luar Negeri Eropa, 1.080 anggota parlemen mengatakan mereka sangat khawatir tentang preseden yang akan ditetapkan untuk hubungan internasional, jika aneksasi ini berlangsung.

Uni Eropa Ingin Cegah Investor China Beli Perusahaan Strategis Eropa

KONFRONTASI - 

Uni Eropa ingin menghentikan pembelian perusahaan-perusahaan strategis Eropa oleh perusahaan-perusahaan asing yang menikmati subsidi, terutama dari China. Komisi Eropa telah mengambil langkah pertama dengan memberlakukan kebijakan mengenai dampak buruk yang disebabkan oleh perusahaan-perusahaan asing di Eropa.

Para pemimpin Eropa khawatir perusahaan-perusahaan Eropa yang kesulitan keuangan kemungkinan akan dibeli dengan harga murah oleh para investor China yang ingin memanfaatkan kejatuhan ekonomi akibat virus corona.

Jika Tak Ada Lockdown, Jumlah Angka Kematian Lebih Tinggi

Konfrontasi - Andai kebijakan pembatasan wilayah atau lockdown tidak diterapkan saat pandemi virus corona.

Hingga 13 Juni 2020, lebih dari 7,7 juta orang di seluruh dunia terinfeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19.

Melansir Science Alert, Sabtu (13/6/2020), penghitungan tersebut berdasarkan studi yang dilakukan oleh Global Policy Laboratory di Universitas California, Amerika Serikat.

Tim meneliti langkah pencegahan penyebaran virus corona di enam negara yakni AS, China, Korea Selatan, Italia, Perancis, dan Iran.

Pencegahan yang dilakukan termasuk di dalamnya larangan bepergian, penutupan sekolah, penutupan layanan keagamaan, pembatalan acara, dan perintah untuk tinggal di rumah.

Kemudian peneliti membuat skenario penyebaran virus corona jika suatu negara tidak melakukan pencegahan sama sekali.

Hasilnya, bila Amerika Serikat tidak membatasi pergerakan dan interaksi orang, diperkirakan jumlah kasus infeksi di negara tersebut bertambah dua kali lipat setiap dua hari sekali dari 3 Maret-6 April 2020.

Itu berarti kasus infeksi di Amerika Serikat akan mencapai lebih dari 60 juta orang. Saat ini negara adidaya tersebut telah melaporkan 2 juta kasus positif Covid-19.

Di sisi lain, kebijakan lockdown yang dilakukan China dari 16 Januari-5 Maret 2020 dinilai sukses. Setidaknya menyelamatkan 285 juta orang dari infeksi virus corona, yang saat ini melaporkan sekitar 84.000 ribu kasus.

Pembatasan wilayah di China dimulai dari Wuhan, daerah yang menjadi sumber wabah. Sebuah studi menyebut, bahwa langkah penguncian atau lockdown di Wuhan pada 23 Januari 2020 telah menyelamatkan puluhan ribu orang di Provinsi Hubei.

Sebab tanpa lockdown diperkirakan kasus di Hubei 65 persen lebih tinggi dari sekarang.

Tanpa kebijakan pembatasan wilayah sejumlah negara lainnya pun diperkirakan mengalami lonjakan kasus. Iran diperkirakan mencapai 54 juta kasus, Italia 49 juta kasus, Perancis 49 juta kasus, dan Korea Selatan 38 juta kasus.

"Penerapan kebijakan lockdown pada keenam negara secara signifikan dan substansial telah memperlambat pandemi.

Meski demikian, keterlambatan penerapan kebijakan akan memberikan hasil kesehatan yang sangat berbeda," tulis para peneliti.

Dengan kata lain, kecepatan sebuah negara dalam mengambil kebijakan pencegahan akan terlihat dari jumlah kasusnya.

Seperti China, yang melakukan lockdown lebih awal mampu mencegah infeksi dan angka kematian, ketimbang Amerika Serikat dan Italia yang terlambat menerapkannya.

Hasil pemodelan dari Universitas Columbia menunjukkan, jika AS menerapkan lockdown satu atau dua minggu lebih awal, maka bisa mencegah 645.000 infeksi dan 36.000 kematian.

Negara-negara Eropa Tolak Bantuan Alat Medis dari China, Apa Alasannya?

KONFRONTASI-Sejumlah negara yang mengeluh dan menolak adanya bantuan peralatan medis dari China, guna menangkal wabah pandemi Corona atau Covid-19.

Dilansir dari BBC.com, sejumlah pemerintah Eropa telah menolak peralatan buatan China yang dirancang untuk memerangi wabah coronavirus atau Covid-19.

Menurut pihak berwenang dari Spanyol, Turki dan Belanda, terdapat ribuan alat uji dan masker medis asal China tersebut berada di bawah standar atau cacat.

Corona Renggut Lebih dari 30 Ribu Nyawa di Eropa

KONFRONTASI-Kantor berita yang berbasis di Prancis, AFP, melaporkan lebih dari 30 ribu orang di Eropa meninggal akibat pandemi virus Corona baru, COVID-19. Italia menyumbang lebih dari sepertiga dari jumlah kematian tersebut.

Menurut AFP, hanya empat hari yang lalu jumlah korban meninggal akibat COVID-19 mencapai 30 ribu di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan seberapa cepat meningkatnya kematian akibat pandemi Corona dan seberapa dahsyatnya negara-negara Eropa begitu menderita akibat penyakit ini.

Pages