16 August 2018

Emma Hamilton

Kisah Tragis Emma Hamilton, Gadis Penggoda Para Bangsawan Inggris

KONFRONTASI -  Emma Hamilton berasal dari keluarga melarat. Ia juga tak makan bangku sekolah. Untuk bertahan hidup ia mengandalkan satu-satunya kelebihannya: kecantikan. 

Perempuan Inggris itu dikenal wanita penggoda, simpanan para aristokrat, muse atau sumber inspirasi pelukis George Romney, selebritas, lady, istri diplomat, juga kekasih gelap pahlawan besar Inggris, Admiral Lord Nelson.

Tak ada yang tahu pasti tanggal lahirnya. Nama aslinya pun masih jadi perdebatan, Amy atau Emily Lyon? Namun, sebuah catatan menyebut, ia dibaptis pada 12 Mei 1765.

Emma Hamilton adalah putri seorang pandai besi yang buta huruf, dari sebuah desa di Semenanjung Wirral, yang suram dan bopeng akibat tambang batu bara yang digali di sana sini. Ayahnya meninggal dunia saat usianya baru dua bulan.

Sejak belia, ia sudah tahu kerasnya hidup. Emma kecil harus berjualan batu bara di tepi jalan, demi membantu ibu dan nenek yang membesarkannya. 

Pada usia 12 tahun, ia menjadi pembantu di rumah seorang dokter. Lalu, sang ibu, Marry membawanya ke London.

Di ibu kota Inggris itu, Emma bekerja sebagai petugas bersih-bersih di Drury Lane Theatre. Gadis ambisius itu tak terima jadi pelayan. Ia ingin hidup lebih baik.

Dari sana, ia kemudian banting setir jadi model sekaligus penari. Bosnya, James Graham adalah pemilik 'klinik kesehatan' bernama Temple of Aesculapius, yang reputasinya diragukan.

"Di tempat itu, Emma mengenakan pakaian tipis dan berpose meniru Hygieia, dewi kesehatan," kata Will Meredith, seorang ahli arsip, seperti dikutip dari situs onthisday.com, Jumat (11/5/2018).

Saat itulah Emma kerap bertemu dengan pria-pria aristokrat yang menjadi tamu di sana. "Kala itu, adalah hal yang bisa diterima jika para bangsawan memiliki wanita simpanan."

Kecantikan dan pesona Emma menarik perhatian para pria dari kalangan ningrat. "Dia menjadi wanita simpanan, dari satu pria ke pria lain, masing-masing lebih menonjol dan kaya daripada yang sebelumnya," kata Meredith.

Quintin Colville, kurator pameran Emma Hamilton: Seduction and Celebrity mengatakan, para perempuan, khususnya di Inggris, pada Abad ke-18 kerap dipaksa untuk membuat diri mereka diinginkan para pria yang punya kuasa dan kewenangan. Tujuannya, untuk mengubah nasib. 

"Ribuan perempuan melakukannya kala itu. Emma hanya salah satunya," kata dia. 

Saat berusia 15 tahun, Emma mendapat tawaran kerja dari Sir Harry Fetherstonhaugh. Tugasnya adalah untuk menghibur para tetamu yang datang ke kastil megah bangsawan itu. Pesta berlangsung liar dan mesum.

Konon, Emma bahkan kerap menari telanjang di meja makan si tuan rumah. Tak lama kemudian, perempuan itu hamil. Sir Harry, yang diduga bertanggung jawab atas kehamilannya, justru murka.

Emma kemudian tinggal bersama Charles Greville, salah satu tamu di pesta liar yang digelar di rumah Sir Harry sekaligus keponakan Sir William Hamilton, utusan Inggris untuk Naples

Greville, yang terpesona pada kecantikan dan daya tarik Emma, meminta seniman George Romney untuk mengabadikannya dalam sejumlah lukisan.

Si cantik, yang kemudian mengubah namanya jadi Emma Hart menjadi terkenal berkat karya-karya Romney. Apalagi, banyak bangsawan yang jadi langganan sang seniman. 

Charles Greville sebenarnya cinta mati pada Emma. Tapi pria itu sedang punya masalah keuangan dan mengincar wanita kaya untuk dijadikan istri.

Tak ada pilihan lain, Emma harus pergi. Tapi, bagaimana cara menyingkirkannya?

Plot pun disusun. Greville mengumpan kekasihnya itu ke pamannya di Naples, yang baru ditinggal pergi sang istri.

Emma dikirim ke Naples untuk liburan. Pria itu tak ikut menemani. Ia berdalih sibuk berat.

Emma akhirnya menyadari bahwa dia telah dicampakkan. Hatinya sakit, ia merasa terhina.

Namun toh, ia mau jadi simpanan Sir William Hamilton yang tinggal di rumah megah dan bergelimang harta. 

Keduanya menikah pada tahun 1791. Usia Emma baru 26 tahun sementara sang suami 60 tahun. Jadi istri seorang bangsawan, ia berhak dipanggil Lady Hamilton.