Emha Ainun Nadjib

Budayawan Emha Ainun Nadjib Gaungkan 10 Revolusi Jokowi, Apa Isinya?

KONFRONTASI -   Budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun menyuarakan kegelisahannya terhadap keadaan bangsa di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Cak Nun, menggaungkan kritik dan masukannya kepada presiden lewat sebuah rilisan berjudul "10 Revolusi Jokowi" yang disebarkannya Sabtu, (12/09/2020).

Dilansir dari laman Cak Nun, isi 10 revolusi Jokowi tersebut antara lain:

Cak Nun: Kalau Presidennya Punya Aura Pawang, Indonesia Damai

KONFRONTASI-Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki aura seorang pawang.

"Kalau presidennya punya aura pawang, Indonesia damai," kata tokoh intelektual yang akrab disapa Cak Nun ini di Semarang, Rabu.

Ia mencontohkan seorang pawang Harimau atau pawang hujan.

Menurut dia, pawang menjadi seseorang yang hebat bukan karena kesaktiannya.

Bangsa Indonesia, lanjut dia, sangat mendesak untuk memiliki kepemimpinan nasional yang benar-benar memahami kebutuhan sejarah negeri ini.

Soal People Power, Ini Kata Cak Nun

KONFRONTASI-Budayawan Emha Ainun Nadjib tidak percaya gerakan people power akan berhasil di Indonesia karena hanya akan mengakibatkan benturan horizontal.

"Kondisi masyarakat Indonesia tersegmentasi," kata pria yang akrab disapa Cak Nun tersebut di Semarang, Rabu.

Menurut dia, gerakan rakyat itu akan efektif dilakukan jika dimotori oleh seseorang yang berlatar belakang pahlawan nasional.

"Bisa efektif kalau anda pahlawan nasional. Kalau hanya tokoh segmented tidak berguna," katanya.

Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah: Refleksi Cak Nun atas Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Di tengah Bapak kami bercerita tentang “Kenapa Bukan Sunan Kalijaga saja yang jadi Sultan”, “Kenapa pendiri Jombang tidak duduk memimpin Jombang”, “Amanah Cincin dari Mbah Kholil Bangkalan”, “Aliran Pencak Silat Ki Tebuireng” — Kakak lagi-lagi mengejar soal rasa bersalah sebagai modal utama pada jiwa seorang pemimpin.

Pribumi, Reklamasi dan Meikarta

Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Saya kok cemas melihat Reklamasi, Meikarta, serta banyak program dan kontrak-kontrak yang sejenis itu. Apa kita yakin hari esok pasti bisa kita rancang, laksanakan dan kendalikan.

Tentu saja kecemasan saya ini tidak rasional. Karena yang saya cemaskan itu adalah bagian dari kecemerlangan prestasi Pemerintahan yang menurut lembaga-lembaga survei memuaskan 67% rakyat. Bahkan banyak yang meyakini Indonesia kali ini adalah yang terbaik dibanding sejumlah Indonesia sebelumnya. 

Rahmatan Lil’alamin dari Borobudur: "Nobel" Prize untuk Ummat Islam Magelang

Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Apa? Borobudur dikepung oleh 200.000 orang dari 185 Laskar dari seluruh Nusantara? Borobudur diputihkan? Borobudur dikepung? Apa-apaan ini? Aksi Bela Rohingya? Mau balas dendam? Nyawa bayar nyawa? 

Kapolri Tito Karnavian, di Mekah, terloncat berdiri karena mendengar kabar itu. Ia mempercepat jadwal pulangnya dari berhaji. Langsung terbang ke Jakarta. Malam tiba, dan langsung mengadakan rapat khusus dengan para perwira Mabes.

Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Di tengah Bapak kami bercerita tentang “Kenapa Bukan Sunan Kalijaga saja yang jadi Sultan”, “Kenapa pendiri Jombang tidak duduk memimpin Jombang?”, “Amanah Cincin dari Mbah Kholil Bangkalan”, “Aliran Pencak Silat Ki Tebuireng” — Kakak lagi-lagi mengejar soal rasa bersalah sebagai modal utama pada jiwa seorang pemimpin.