Diponegoro

Sejarah Hari Ini (20 Juli 1825) - Diponegoro Lolos dari Kejaran Belanda

KONFRONTASI -  Perang Jawa atau Perang Diponegoro (ejaan lainnya Dipanegara) pecah pada 20 Juli 1825.

Penyebab perang pecah karena adanya perseteruan antara Pangeran Diponegoro dengan Residen Belanda di Yogyakarta, Jonkheer Anthonie Hendrik Smissaert.

Kala itu Smissaert memberi perintah agar jalan lingkar di luar kota Yogyakarta, yang melintasi daerah Tegalrejo, diperbaiki dan diperlebar.

Tujuannya ialah meningkatkan laju perdagangan sehingga pendapatan negara meningkat.

Ramalan Ulama, Diponegoro, Dan Soal Pemimpin Di Masa Krisis

 

Oleh: Muhammad Subarkah

 

 

Perang Jawa yang terjadi selama lima tahun di tahun 1825-1830, memang tak sekedar punya penyebab tunggal, misalnya rasa kejengkelan kepada penjajah semata. Di sana penyebabnya bermacam-macam. Ada yang bersifat internal kraton Yogyakarta misalnya persaingan politik antar pangeran. Ada juga hingga persoalan ekonomi yang ada di Hindia Belanda setelah bubarnya VOC, persoalan internasional adanya revolusi Indusri dan Revolusi Prancis.

FLASH: Keris yang dikembalikan Belanda asli milik Pangeran Diponegoro

KONFRONTASI -   Sejumlah pihak sempat meragukan keaslian dari keris Pangeran Diponegoro yang dikembalikan oleh Belanda. Namun, melalui penelitian panjang dan mendalam, tim verifikasi Belanda dan Indonesia memastikan keris itu asli milik Pangeran Diponegoro.

Cek videonya di sini:  https://www.antaranews.com/video/1355214/keris-yang-dikembalikan-belanda...(Jft/ANTARA)

Orba dan Rezim Reformasi Memotong Sejarah Ulama

KONFRONTASI-Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, namanya Dr. Sudjatmoko (Rektor Universitas PBB). Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: memakai manageman modern. Secara metode mengaji tetap memakai salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manageman modern.

Mantan Pangdam Diponegoro Janji Akan Lestarikan Koroncong

Konfrontasi - Mantan Panglima Kodam IV/ Diponegoro Mayor Jenderal Sunindyo berjanji akan terus melestarikan musik keroncong, meski tidak lagi menjadi orang nomor satu di kesatuan tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Sunindyo saat pisah sambut dengan penggantinya sebagai Pangdam IV/ Diponegoro Mayor Jenderal Bayu Purwiyono di Semarang, Kamis (30/10).

"Saya akan tetap rutin ke Jawa Tengah, cari sponsor," kata Sunindyo yang kini bertugas sebagai tenaga ahli pengkajian bidang strategi Lembaga Ketahanan Nasional.