22 July 2018

Denny JA

Petarung Isu Kebangsaan dan Marketing Gagasan

Oleh: Denny JA

Itu sudah menjadi hukum besi sejarah. Hal baik yang tidak diorganisir akan dikalahkan oleh hal buruk yang diorganisir. Gagasan baik yang tidak diperjuangkan, digaungkan, disosialisasi bisa dikalahkan oleh gagasan buruk yang dimarketingkan secara efektif.

Meneguhkan Kembali Rumah Bersama Indonesia, Setelah Menurunnya Pendukung Pancasila

Oleh: Denny JA

Suatu ketika John F Kennedy berseru. Jika kita tak bisa mengakhiri perbedaan, setidaknya bersama kita bisa membuat dunia lebih aman untuk hidup dalam keberagaman dan perbedaan.

Apa yang dinyatakan Kennedy sebelumnya sudah dijalankan oleh Founding Fathers kita, antara lain Bung Karno, Mohamad Hatta, Mohammad Yamin, Ki Bagoes Hadi Koesoema, AA Maramis. Di tahun 1945, melalui sidang BPUPKI, mereka merumuskan dasar kesepakatan bernegara.

Pilkada 2018: Menjelaskan Kenaikan Luar Biasa Pendukung ASYIK di Jabar dan Sudirman-Ida di JATENG

Sebuah pertanggung jawaban akademik atas wilayah Pilkada yang Terasa “Pilpres”
 

Oleh: Denny JA

 Di hari pemilu presiden tahun 2016, di Amerika Serikat, koran paling besar, berpengaruh dan kredibel New York Times, menampilkan berita prediksi hasil pemili yang mencolok mata. Tulis koran ini bahkan dalam grafis: Probability Hillary terpilih menjadi presiden hari ini 85 persen. Sementara kemungkinan Trump yang menjadi presiden hanya 15 persen.

Quick Count, Survei, Kemenangan Partai dan Bagaimana soal Capres?

Oleh: Denny JA

Setiap peristiwa besar selalu melahirkan hikmah. Ada mutiara. Ada makna. Ada pelajaran.

Apa yang bisa kita petik dari peristiwa pilkada 2018 yang baru saja selesai? Pilkada 2018 jelaslah peristiwa besar karena secara serentak 171 wilayah memilih pemimpin. Di antaranya, 17 provinsi bertarung 17 calon gubernur.

Hikmah apa yang bisa kita renungkan  dari pilkada serentak? Empat hikmah ini semoga berguna.

Di Era Google, Aktivis Demokrasi Menyelami Samudera Alquran dan Temukan 10 Mutiara

Oleh: Denny JA

Di era Google, apa jadinya jika seorang aktivis demokrasi, yang mengagumi prinsip hak asasi manusia, yang suka puisi, dengan latar pendidikan barat yang kuat, lalu menyelami samudera Alquran selama bulan Ramadhan?

Para Nabi dan Rasul mendapatkan wahyu. Tapi untuk seorang aktivis, pemikir, penyair, penulis atau seorang pencari, cukuplah baginya mendapatkan inspirasi.

Mimpi Yang Bukan Ilusi

Oleh: Denny JA

Aku duduk di sana
Di tengah kerumunan massa
Mendengar penuh hikmah
Sang Guru  berkhotbah

“Wahai saudari dan saudara
Carilah dan temukan makna
Mengapa kau ada

Hidup layang layang putus
Bergerak karena arah angin
Hijarah lah!
Ubah!
Tetapkan anginmu sendiri
Ciptakan mimpi
Kejar
Wujudkan

Angin Yang Menyusup ke Hati

Oleh: Denny JA

Ada angin menyusup ke hati
Seperti wahyu yang turun dini hari
Memberinya inspirasi
Menggerakkan seluruh diri

Bermula dari sana
Ketika Ia terpana
Mendengar kisah
Gadis Muda, di Rohingya

“Aku baru saja menikah
Tak terduga, di malam buta
Rombongan itu tentara
Masuk ke kamarku

Silahturahmi Cucu Ibrahim

Oleh: Denny JA

Menjadi hening dan sepi
Berkumpul di ruang konferensi
Para delegasi (2)
Dari Palestina, dan Israel
Dari Yordania, dan Tunisia
Dari Afganistan  dan Saudi Arabia
Tersentuh hati

Ibu itu lanjutkan kisah
“Aku masih sempat bertatap mata
Kupeluk putraku
Kututup dengan tanganku
Itu luka di kepala
Ya Allah, jangan ya Allah
Tinggal satu putraku
Jangan Kau ambil lagi

Tangan Kiri Yang Tak Tahu Tangan Kanan?

Oleh: Denny JA

Tuan, benarkah?
Ini tak biasa

Aku bertanya pada Tuan,
Sekali lagi
Apakah Tuan tak salah?
Memintaku
Kirimkan derma Tuan
Kepada manca negara
Jumlah yang astaga

Namun pesan Tuan
Jangan ada yang tahu
Jangan sebut nama Tuan (2)
Biarlah tangan kanan tak mengerti
Apa yang diberikan tangan kiri

Kuhitung itu dana
ya Allah, 100 Trilyun rupiah (3)
Luar biasa besarnya
Aku terpana

-000-

Yudi Latif Mundur dari BPIP, Denny JA: Tafsir Pancasila Mana Yang Sedang Berkuasa?

Refleksi Mundurnya Yudi Latif dari Ketua BP Ideologi Pancasila

Oleh: Denny JA

Setahun setelah menjabat sebagai kepala BP Ideologi Pancasila (dulu UKP- PIP), Yudi Latif mengundurkan diri. Bukan isu mundur itu benar yang membuat prihatin.

Pages