BUMN

Ini Deretan BUMN yang Untung dan Buntung

KONFRONTASI-Menteri BUMN Erick Thohir kembali menggaungkan rencana pembubaran sebagian perusahaan pelat merah yang dianggap memberatkan keuangan negara.

Gagasan yang telah muncul sejak kepemimpinan Menteri BUMN sebelumnya yaitu Rini Soemarno ini kembali menarik perhatian publik.

Lantas, BUMN apa saja yang terus merugi dan yang mampu mencetak laba? Berikut daftarnya:

BUMN Merugi

PT Pertani (Persero)

Anak Usaha PT PGN Tbk Langgar Aturan Menteri BUMN saat Tender Pelaksana Proyek Pipa Blok Rokan Senilai Rp 4,3 Triliun di Riau

KONFRONTASI -   Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Irres), Marwan Batubara mengatakan pemilihan partner investasi oleh PT Pertagas untuk proyek jaringan pipa Blok Rokan di Riau, telah melanggar aturan.

"Harus terbuka dan tidak terbatas hanya untuk dua perusahaan!," ungkap Marwan kepada urbannews.id, Senin (14/9/2020).

Staf Ahli Direksi BUMN, Pemborosan dan Gesekan Kepentingan: Catatan Mantan Menkeu Fuad Bawazier

Oleh  Fuad Bawazier, Mantan Menkeu dan kini Pembina Gerindra

KONFRONTASI- Ada 150 BUMN X 5 Staf X Rp50juta X 12 bulan= Rp450Miliar. Tentu ada tunjangan Lebaran, honor bulan ke 13, perjalanan dinas, penyediaan ruangan kantor, dan bisa jadi Staf Ahli itu masing masing minta Sekretaris dll yg sy perkiraan tidak akan kurang dari 1/3nya alias Rp150Miliar. Jadi total uang mubazir yg akan hilang menguap sekitar Rp600M. Kok gampang betul ya buang buang uang negara.? Perlu di kaji ulang policy ini.

Walah, Pertamina Tak Lagi Masuk Dalam Daftar Fortune Global 500

KONFRONTASI-Kabar kurang mengenakkan datang dari perusahaan perminyakan nasional PT Pertamina (Persero). Bagaimana tidak, holding perusahaan minyak dan gas (migas) plat merah ini tiba-tiba dikabarkan tidak lagi masuk dari daftar 500 perusahaan dunia yang memiliki pendapatan kotor terbesar yang dikumpulkan Fortune atau Fortune Global 500. Padahal tahun lalu, Pertamina masih masuk peringkat 175 berjejer dengan perusahaan bergengsi lainnya. Namun entah kenapa, tahun ini Pertamina amblas dari Fortune Global 500.

BUMN Minta Pemerintah Lunasi Utang, Haris Moti: Kemana Saja Itu Duit?

KONFRONTASI -   Sebanyak 9 perusahaan BUMN menagih ke pemerintah agar segera melunasi utangnya. Nantinya, uang yang dibayarkan oleh pemerintah tersebut untuk memperkuat keuangan perusahaan yang tergerus karena pandemi covid-19. Salah satu perusahaan yang melakukan itu adalah Pertamina.

Terkait hal itu, Aktivis Petisi 28 Haris Rusly Moti mengkritisinya. Menurut dia, hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan perusahaan BUMN karena mereka mendapat subsidi dari rakyat melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Dia lantas mempertanyakan aliran modal tersebut.

PDIP: Ribuan Komisaris dan Direksi BUMN itu Semuanya Titipan!

KONFRONTASI -   Politisi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu mengklaim bahwa seluruh jabatan direksi dan komisaris perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipilih melalui jalur titipan.

Bahkan dia menyebut, diduga jumlah orang yang dititipkan itu mencapai 7.200 orang.

"Semuanya titipan. Dari 6.000 sampai 7.200 komisaris dan direksi BUMN itu menurut saya semua titipan," katanya seperti melansir cnnindonesia.com, Kamis 23 Juli 2020 kemarin.

Erick Thohir Pastikan Dana PMN Bukan untuk Bayar Utang

KONFRONTASI-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan pemberian kucuran dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) ke sejumlah perusahaan pelat merah dianggap wajar karena keuangannya sedang tertekan akibat wabah corona. Sedangkan sebagai BUMN tetap harus menjalankan rencana kerja perusahaan yang telah disusun sebelumnya.

DPR Beri Lampu Hijau untuk Pemerintah Bayar Utang Rp115 T ke 9 BUMN

KONFRONTASI-DPR RI menyetujui pembayaran utang pemerintah kepada sembilan BUMN dengan kumulatif penyelesaian Rp115 triliun. Rambu hijau diberikan pada rapat kerja Komisi VI dengan Kementerian BUMN pada Rabu, (15/7).

“Komisi VI DPR RI menyetujui besaran pencairan utang pemerintah pada BUMN tahun anggaran 2020 untuk disampaikan ke Badan Anggaran DPR,” tutur Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima.

Pages