Bulog

Sepak Terjang Rizal Ramli Saat Menjadi Kepala Bulog di Era Gusdur

KONFRONTASI - Nama Rizal Ramli dalam sepekan terus menjadi sorotan, tentunya bukan karena kasus korupsi seperti yang banyak diberitakan media pada umumnya saat ini, mantan Kepala Bulog di era presiden almarhum Gusdur, Rizal bisa dikatakan termasuk salah satu orang yang memiliki tangan besi dengan memecat sejumlah petinggi di Bulog karena terindikasi kasus korupsi.

Heboh Impor Beras, Rizal Ramli Desak Presiden Jokowi Berpihak pada Kaum Tani dan Rakyat

KONFRONTASI- Mantan Menko Ekuin yang juga Ekonom senior, Rizal Ramli (RR), mendesak Presiden Jokowi berpihak kepada kepentingan kaum tani dan konsumen, bukan kelompok pemburu rente dan kartel.  RR menmgingatkan, dalam kampanye kepresidenannya di Surabaya pada Pilpres 2014, Jokowi berjanji menghapus mafia dan kartel pangan, serta mau mensejahterakan petani, namun semua itu tidak jalan sampai sekarang.

Impor Pangan Ugal-ugalan, Buwas Curigai Kebijakan Kemendag

KONFRONTASI-Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengaku curiga dengan kebijakan impor pangan yang dilakukan Kementerian Perdagangan. Tidak sepatutnya Indonesia sebagai negara agraris melakukan hal tersebut. Ironis.

“Republik Indonesia ini negara agraris, tapi kita justru malah impor bahan pertanian atau pangan. Ini kan ironis,” ujar Budi Waseso pada acara peresmian Politeknik Pertanian Pembanggunan di Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/9).

Impor Beras Bikin Buwas Tak Bisa Tidur Nyenyak

KONFRONTASI-Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengaku akhir-akhir ini sulit tidur nyenyak. Penyebabnya adalah karena Indonesia masih rutin mengimpor beras, termasuk yang dilakukan oleh Bulog sendiri.

Pria yang akrab disapa Buwas tersebut memang tidak pernah meminta izin impor beras kepada pemerintah. Beras impor milik Bulog yang datang pada tahun ini adalah hasil keputusan rapat koordinasi yang disetujui dirut Bulog yang lama, Djarot Kusumayakti.

Ada yang Tak Bangga RI Surplus Pangan, Buwas: Kalau Bisa Orang Itu Ditenggelamkan Saja

KONFRONTASI-Meskipun produksi pangan khususnya beras nasional masih naik turun, bukan berarti Indonesia tak bisa surplus pangan, peluang itu masih ada.

Surplus penting agar Indonesia tak melulu mengimpor pangan dari negara lain. Namun sayangnya, ada segelintir orang yang tak suka Indonesia surplus pangan. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan orang tersebut harus segera ditenggelamkan.

Dirut Bulog Budi Waseso: Tak Perlu Impor Beras sampai Juni 2019. Jangan Jadi Penghianat Negeri Ini

KONFRONTASI- Dirut Bulog Budi Wasesao (Buwas) menegaskan, sampai bulan Juni 2019 tidak perlu impor beras, sesuai temuan tim ahli yang kompeten dalam meneliti data  perberasan di lapangan. ‘’Saya bukan ahlinya, namun temuan data tim ahli di lapangan bahwa tidak perlu impor beras sampai Juni 2019,’’ kata Buwas.

''Kita tidak boleh membuat provokasi bagi masyarakat dan pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat, tidak lagi diprovokasi seolah pemerintah tidak bekerja,'' katanya lagi..

Impor Pangan Mengalir Deras, Bulog: Ini Ironis!

KONFRONTASI-Kebijakan impor pangan yang dilakukan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita turut dikeluhkan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso.

Buwas, sapaan akrabnya, mengaku miris dengan impor pangan yang terus dilakukan pemerintah. Menurutnya, impor pangan merupakan hal ironis lantaran Indonesia merupakan negeri yang agraris.

Diperintahkan Impor Beras, Bulog: Gudang Sudah Penuh, Mau Ditaruh Dimana?

KONFRONTASI - Produksi beras dari dalam negeri telah memenuhi gudang milik Bulog. Bahkan, Bulog mesti menyewa gudang karena banyaknya pengadaan yang dilakukan.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan dana yang digelontorkan untuk menyewa gudang mencapai Rp 45 miliar. Sewa tersebut dilakukan hingga akhir tahun ini.

Oleh karena itu, ia menegaskan tidak perlu Indonesia impor beras lagi. Sebab, menurutnya tidak ada tempat lagi untuk menyimpan beras.

Sewa Gudang

Perum Bulog menyewa beberapa gudang untuk menyimpan beras. Biaya menyimpan beras tersebut mencapai Rp 45 miliar.

"Sewa biayanya nggak sedikit, ada yang Rp 90.000 ribu per ton, per hari, per meter. Ada juga yang Rp 70.000. Total biaya sewa besar, sampai Rp 45 miliar lebih," Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Dirut Bulog Budi Waseso menjelaskan saat ini stok beras di gudang bulog ada sebanyak 2,4 juta ton. Beras tersebut berasal dari pengadaan dalam negeri dan impor.

"Stok kita sekarang 2,4 juta ton. Itu beras lokal dan ada dari impor lama yang baru direalisasikan sekarang," kata pria yang beken disapa Buwas itu.

Buwas menambahkan gudang beras Bulog yang penuh, hingga harus sewa, menunjukkan tak perlu lagi impor beras. Apalagi, kata Buwas, saat nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sedang menguat.

"Kita juga terpaksa meminjam dan menyewa gudang itu cost besar untuk Bulog. Maka nggak efisien kalau kita impor terus. Kalau ada perintah impor lalu saya harus lakukan, berarti bebannya tambah lagi. Harga jadi tambah naik karena dolar AS," tutup Buwas.

Bisa Ekspor

Saat ini Bulog menampung 2,4 juta ton beras dan diperkirakan akan meningkat hingga 3 juta ton di akhir tahun. Berdasarkan kondisi tersebut Bulog yakin Indonesia mampu mengekspor beras tahun depan.

Menurut Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso pasokan beras yang meningkat itu bisa menjadi acuan untuk ekspor tahun depan.

"Insya Allah, justru jangan-jangan tahun depan bisa ekspor (beras)," kata pria yang beken disapa Buwas itu di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Buwas menjelaskan saat ini gudang-gudang beras Bulog sudah penuh. Bahkan, Bulog harus menyewa gudang untuk menampung pasokan beras lokal dan impor dan biayanya sekitar Rp 45 miliar.

Oleh sebab itu, Buwas mengatakan tak perlu impor beras.

"Perintah kemarin dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Perdagangan bahwa kami harus impor 1 juta ton, tapi kami mau taruh di mana beras itu? Kecuali Menteri Perdagangan menyiapkan gudang atau kantornya beliau mau dipakai jadi gudang beras," kata Buwas.

"Boleh kata ada perintah sampai 1 miliar ton pun kepada saya sebagai pelaksana. Tapi saya harus tahu persisi kebutuhan dan situasi seperti apa, perlu atau tidak. Insya Allah perhitungan saya sampai akhir tahun tidak perlu impor," tutur dia.

Bulog: Impor Berlebihan, Gula Petani Lokal Tak Mampu Bersaing

KONFRONTASI-Penugasan pemerintah untuk untuk menyerap gula petani lokal dengan harga beli sebesar Rp 9.700 per kg mulai direalisasikan Perum Bulog. Untuk tahap pertama, Bulog menyerap 20.000 ton yang terdiri dari gula petani hasil pengolahan PTPN X sebanyak 10 ribu ton dan dari RNI sebanyak 10 ribu ton.

Menurut Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), ada 700 ribu ton gula petani yang menumpuk di gudang. Hal ini merupakan dampak dari terlalu banyaknya gula impor yang beredar di pasaran.

Pages