australia

Jokowi di Mata Analis Australia/Barat : Berubah Anti Demokrasi dan Otoriter

“Mengapa para pengamat asing sangat khawatir kecenderungan perubahan pemerintahan Jokowi meninggalkan prinsip-prinsip demokrasi, dan mengambil jalan otoriter?.”

Oleh : Hersubeno Arief

SEJUMLAH publikasi kajian dan artikel yang ditulis pengamat asing, menyampaikan sebuah kekhawatiran yang hampir seragam. Jokowi, seorang tokoh populer yang dianggap mewakili wajah politisi baru —di luar elit politik yang pernah terlibat di era Orde Baru— telah berubah menjadi anti demokrasi dan  otoriter.

Australia Berupaya Membendung Pengaruh China

KONFRONTASI -   Pemerintah Australia akan menyalurkan dana A$2 miliar atau Rp29 triliun ke negara-negara kepulauan di Samudera Pasifik untuk membangun infrastruktur--langkah yang dinilai sebagai upaya menangkal pengaruh China.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengatakan dana dalam wujud hibah dan pinjaman itu akan dikucurkan demi memperkuat hubungan sekaligus menjadikan Pasifik sebagai garis "depan dan tengah" kebijakan luar negeri Australia.

Khawatir Penyusupan, Australia Larang Perusahaan Asing Terlibat di Jaringan 5G

KONFRONTASI-Badan intelijen Australia akan melarang perusahaan asing yang berkaitan dengan pemerintah negaranya untuk ambil bagian di jaringan 5G karena masalahan keamanan infrastruktur.

"Jaringan 5G akan mendukung komunikasi yang dipakai warga Australia setiap hari, mulai dari sistem kesehatan sampai potensi menggunakannya untuk operasi dari jarak jauh, juga mobil swakemudi dan listrik serta pasokan air," kata Direktur Jenderal Australian Signals Directorate, Mike Burgess, dikutip dari Reuters, Selasa.

Muhammad Nabaei, Pencari Suaka Rajut Hidup Baru Berkat Perusahaan Sosial Di Australia

KONFRONTASI -  Muhammad Nabaei  melarikan diri dari negara asalnya Iran ketika pemerintah menindak keras aksi protes besar-besaran tahun 2009. Pria  berusia 33 tahun itu terbang ke Indonesia dan membeli tiket ke Australia lewat seorang penyelundup manusia.

Setelah penantian bertahun-tahun di pusat penahanan,. tdak sampai  tahun 2012, statusnya di negeri kangguru itu kemudian diakui sebagai pengungsi.

Polisi Australia Temukan Belasan Hektar Ladang Ganja

KONFRONTASI-Sebuah ladang ganja yang hasilnya bisa memenuhi kontainer kapal sepanjang 12 meter diemukan polisi di Australia Barat. Itu merupakan temuan ganja terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut.

Polisi menemukan adanya 7.000 pohon ganja yang ditemukan di 14 rumah kaca di sebuah properti seluas 19 hektare di Red Gully dekat Gingin, sekitar 93 km utara ibukota Australia Barat, Perth. Polisi mengatakan tanaman ganja itu bernilai sekitar $AUD 10 juta (sekitar Rp 100 miliar), dan menjadikanya temuan terbesar yang pernah tercatat di Australia Barat.

AS-Australia Bersatu Hadang Ekspansi China di Papua Nugini

KONFRONTASI-Perang bisnis Amerika Serikat (AS) dan Cina terus berlanjut. Kini terjadi di Papua Nugini.

Diplomat teras AS di Australia mengonfirmasi secara terbuka bahwa kedua negara sedang berusaha menghentikan perusahaan telekomunikasi asal Cina, Huawei, untuk membangun jaringan kabel internet domestik di Papua Nugini.

Namun Canberra menanggapi dengan waspada ketika Pemerintah Papua Nugini mengumumkan Huawei akan membangun jaringan domestik yang berbeda dari kabel, yang memicu kekhawatiran keamanan siber baru.

Sore Ini Hadapi Australia, Langkah Penting Timnas U-16 Menuju Piala Dunia

KONFRONTASI -  Jelang menantang Australia di babak perempat final Piala AFC U-16, Pelatih Tim Nasional (Timnas) U-16 Fakhri Husaini memberikan bekal akhir kepada para pemainnya. Dia tidak ingin timnya kehilangan arah saat menghadapi lawannya tersebut Senin, 1 Oktober 2018 nanti, pukul 15.30 wib di  Stadion UM Arena, Kuala Lumpur.

Pada latihan terakhir Timnas di Lapangan Sime Darby, Minggu, 30 September 2018, Fakhir menerapkan simulasi permainan lawan. Dirinya menginginkan agar para pemainnya bisa membaca taktik strategi calon lawannya tersebut.

PM Australia Tak Percaya Trump akan Serang Iran Bulan Depan

 

KONFRONTASI-Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengatakan ia tidak memiliki alasan untuk percaya Presiden Amerika Serikat (AS) sedang merencanakan untuk membom fasilitas nuklir Iran.

ABC Australia melaporkan pada hari Jumat bahwa para menteri senior di pemerintahan Turnbull sedang mempersiapkan kemungkinan bahwa AS membom fasilitas nuklir Iran, mungkin pada awal bulan depan.

Laporan itu mengutip sumber keamanan senior yang mengatakan fasilitas pertahanan rahasia Australia dapat digunakan untuk membantu Amerika mengumpulkan data intelijen dan mengidentifikasi target untuk membantu misi pemboman Iran mereka, dan bahwa badan-badan intelijen Inggris juga bisa digunakan.

Tapi Turnbull telah menolak laporan itu sebagai sebuah spekulasi. Ia bahkan mengatakan tidak memiliki alasan untuk percaya Trump sedang mempersiapkan konfrontasi militer.

"Saya melihat sebuah cerita hari ini mengklaim bahwa, di ABC, dan mengutip sumber-sumber senior pemerintah Australia," katanya. 

"Itu spekulasi, itu mengutip sumber anonim," tegasnya seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (28/7/2018).

Dia mengatakan sikap Trump terhadap Iran sudah diketahui, tetapi laporan ABC tidak mendapat manfaat dari "konsultasi" dengan kantornya, atau dengan kantor menteri pertahanan atau menteri luar negeri.

Retorika permusuhan antara Washington dan Teheran telah meningkat secara dramatis minggu ini dalam perang kata-kata antara Trump dan Presiden Iran, Hassan Rouhani.

Setelah presiden Rouhani memperingatkan AS seharusnya tidak "bermain dengan ekor singa", Trump menanggapi dengan mengatakan Iran akan menderita konsekuensi yang parah jika mengancam AS lagi.

Komandan militer senior Iran, Qassem Suleimani, membalas ancaman tweet Trump, membandingkan Trump dengan seorang penjudi dan pemilik kabaret. Suleimani mengatakan Iran akan menjadi orang yang "mengakhiri" perang antara kedua negara mereka.

Pages