Apocalypso

Puisi Apocalypso 4

Juftazani
-------------------------------------
Aku adalah Pompei, yang musnah akibat kiamat hebat 
Di jiwa ruh-ruh penduduk kota yang hancur luluh 
Dihantam letusan gempa gunung Vesuvius
Tapi bukan karena Vesuvius yang menghancurkan aku
Aku adalah Pompei, yang lebur karena kiamat telah menggerogoti 
Tanah-tanah goyah ruh-ruh yang telah terbakar 
Saat aku mendengar gemuruh

Puisi Apocalypso 6

Juftazani

 

Akan datang orang-orang yang bergetar jiwanya

Ketika mendengar nama Allah

Akan datang  orang-orang yang mabuk sukmanya

Ketika sampai ke hadapan mereka ayat-ayat Cinta

Akan datang orang-orang yang menderu langkah-langkahnya

Ketika mendengar keindahan azan

Bergegas menemui penciptanya

Kaki dan lutut dan keningnya bergemuruh sujud di bumi Ilahi

Akan datang orang-orang yang menunggu sesuatu

Yang orang-orang lain tidak tahu

 

 

Puisi Apocalypso 5

-----------------------------------------------------------
(Apocalypso!
Apocalypso !
Mengerti dan
Percayakah kalian apa itu Apocalypso?)
------------------------------------------------------------
Oleh: Juftazani

1

Puisi Apocalypso 4

Oleh: Juftazani

 

1

Aku adalah Pompei, yang musnah akibat kiamat hebat

Di jiwa ruh-ruh penduduk kota yang hancur luluh

Dihantam letusan gempa gunung Vesuvius

Tapi bukan karena Vesuvius yang menghancurkan aku

Aku adalah Pompei, yang lebur karena kiamat telah menggerogoti

Tanah-tanah goyah ruh-ruh yang telah terbakar

Saat aku mendengar gemuruh

2

 

Di Lupanare paling terkenal di reruntuhan Pompeii

Menghadirkan tubuh-tubuh manusia Yang terkapar

Simbolisme Apocalypso Dunia Melayu: Ketika Kota Singapura Terpisah Dari Kesatuan Bumi Melayu

KONFRONTASI - The Wall Street Journal, koran terkemuka asal Amerika, setahun lepas menurunkan laporan yang berjudul “Brain Drain Dampak Kebijakan Etnis Malaysia”. Laporan ini ditulis oleh Shie-Lynn Lim, salah seorang koresponden Wall Street Journal di Kuala Lumpur yang memberitakan keadaan di negeri jiran. Dalam laporannya Lim menulis, kuatnya politik Ketuanan Melayu di negeri itu, memicu rasa frustrasi sebagian warga Malaysia keturunan China. Akibatnya banyak diantara mereka yang kemudian lari dan bermukim di Singapura.