Angkatan Penyair Facebook

Puisi Agustina Thamrin: Mantra Rindu

MANTRA RINDU

Oleh:Agustina Thamrin

Mantra mantra
Meliuk di kepala
Angin menerbangkannya
Bersama wangi dupa

Oo..asap kemenyan
Ini rindu kepada kekasih
Panggillah malam ini
Datang seperti kepak sayap
Rama rama
Menari-nari dalam tabuhan Gong

Mantra malam sunyi bunyi
Bulan berkedip purnama
Genapkan kekasih

Banjarbaru, 2017

_______

Agustina Thamrin, Saat ini tinggal dan berkarya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (WS/Kf)

Puisi Riri Satria : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

Syair dari Jalanan

Oleh:Riri Satria

dia pemulung kata
dari jalanan becek
dari gang-gang sempit
dari pinggir comberan
dari tumpukan sampah
dari deru dan debu jalanan
dari sungai yang penuh polusi

kumpulan kata yang terbungkam!
kumpulan kata yang terpinggirkan!
kumpulan kata yang terlupakan!

kata-kata itu lahir dari sanubari terdalam
kata-kata itu berkisah struktur sosial
kata-kata itu bertutur tentang kehidupan

Puisi Sulis Bambang : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

Kenangan Itu

Oleh:Sulis Bambang

Rasa itu selalu hadir

Disetiap rinai hujan yang mampir

Tanpa tanda

Ada begitu saja

 

Waktu sudah lama berlalu

Dimana wajahmu

Kucari tak ketemu

Hanya sisa tanya membisu

 

Hujan membasahi hati

Menyeret seluruh mimpi

Walau Cuma tinggal sepi

Dia berwarna pelangi

Semarang, 18 Desember 2016.

_________

Puisi Na Dhien : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

LANGIT MENYEMPIT Tak kupungut serpihan langit Meski awan terburai Meski senja menyelip jingga-jingga Meski temaram lebih cepat memejam Hanya kuhibakan mataku pada kosong Sejauh kumampu meraih tatapan Pada langit yang menjauh Dan makin menjauh sejauh pandangan Tak terengkuh Lalu pada hening diamku lugu Senyapkan gemuruh darah Setelah bait-baitmu melaju Mengalir taburi amarah Nadiku berpacu Melompati nurani tanpa permisi Akhirnya langit menyempit Menjepit awan-awan Aku beranjak dengan sejumput kenangan Tergenggam Jakarta, 301116 ____

Puisi Soetan Radjo Pamoentjak : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

Sebelum Dia Pergi Di sini teman Di pelataran tempat peribadatan Di atas altar bernama peradaban Ada yang hilang nyali Yang kehilangan manusiawi Di pojok paling ujung Anak kecil berambut dikepang Berumur belum setahun jagung Berdarah belum setampuk pinang Lelah disinggang bimbang Sebelum dia pergi Diantar yang hilang nyali Yang kehilangan manusiawi Dia sempat berkata Berdoa kepada Tuhan kita Jadi orang kecil seperti ini Sangat susah Tuhan Biar berbuat benar hanya sekali Tidak pernah dipuji Semua kesalahan menumpuk kepada diri Cepatkan waktu berputar

Ini Dia Tampang Penggagas " Angkatan Penyair Facebook" di Media Online

KONFRONTASI-Ada banyak komplain saat pertama kali dia menggulirkan gagasan/ide "Angkatan Penyair Facebook" di media online, ini satu hal yang wajar dan bisa dimaklumi menginggat setiap gagasan disetiap sektor ataupun cabang kehidupan pasti ada yang pro dan kontra, akan tetapi semua itu ditanggapinya dengan tenang dan cool yang akhirnya menimbulkan banyak empaty dan juga simpaty dari banyak pihak dan meminta bergabung dalam gagasan yang digulirkan hingga saat ini.

Puisi Supardi Atmoredjo : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

Sayang

aku ingin bercerita tentang

drama satu babak

dari episode waktu

tak lebih kau dan aku

SAYANG(1)

Sitanjung, 26102016.

 

Sayang pagi tadi

kaukecup dadaku

dengan sejuknya udara

mengisi ronggarongga

terasa cintaMU untukku

SAYANG(2)

Sitanjung, 26102016

 

Pada siang

kutangkap matahari

kuikuti bayangbayang sendiri

sayang Kauiring langkah

lurus atau berbelok arah

SAYANG(3)

Puisi Emi Suy Hariyanto : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

AYAT-AYAT HUJAN

1/
Kepergian musim kemarau
adalah rindu yang digugurkan angin
dan diranggaskan matahari

2/
Sementara sepi berdesak
berlarian dari sumur sumur ingatan
tabah menunggu gerimis ritmis dalam pelukan yang tak kunjung selesai,
sebab doa-doa telah melangit - berulang kali

3/
Lalu datanglah hujan
Perihal rindu tampias jendela kaca -
genangan kecil di teras depan

Puisi Novy Noorhayati Syahfida : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

MENGGAMBAR KENANGAN

Oleh:Novy Noorhayati Syahfida

semestinya ini pertemuan yang kedua
selaksa memori berlarian di kepala
bayang ingatan melambai-lambai tak kunjung reda
aku asyik menggambar kenangan lama

kubayangkan kau duduk di stasiun itu
menungguku datang menemuimu
menyambutku seperti kali pertama bertemu
sebelas purnama yang lalu

kemana rindu setelah sekian lama
tanyaku di antara gerbong kereta
kau hanya tersenyum, tak berkata apa-apa
dadaku sesak penuh air mata

Pages