Amerika Serikat (AS)

Joe Biden Ungguli Trump dalam Jajak Pendapat Pilpres AS

Konfrontasi - Elektabilitas kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden mengungguli calon petahana dari Partai Republik yaitu Presiden Donald Trump. Demikian menurut jajak pendapat dari Reuters-Ipsos. Joe Biden unggul 13 poin dari Presiden Donald Trump.

Dilansir dari The Hill, Jumat (19/6/2020), 48 persen responden dalam survei tersebut mengatakan bahwa mereka akan memilih Joe Biden, dengan 35 persen mengatakan akan mendukung Donald Trump.

Russ Medlin Rekam Adegan Seksualnya Bersama Gadis di Bawah Umur dengan Minta Bantuan Korban yang Lain

Konfrontasi - Tersangka pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, Russ Albert Medlin, kerap merekam hubungan seksualnya dengan bantuan anak lain yang juga di bawah umur.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, para korban mengetahui bahwa adegan seksualnya dengan Medlin direkam oleh pria itu.

"Pada saat melakukan, dia minta tolong kepada salah satu korban untuk merekam," kata Yusri kepada wartawan, Kamis (18/6/2020).

Akibat Nyangkut, 1 Unit Dodge Challenger Gagal Dicuri

Konfrontasi - Kasus penjarahan dan pencurian mobil di Amerika Serikat (AS), akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Hal ini lantaran gelombang demonstrasi atas kematian George Floyd oleh polisi Minneapolis.

Dilansir dari Autoevolution, Sabtu (13/6/2020), baru-baru ini, mobil Dodge Challenger di dealer Auffenberg Chrysler Jeep, O'Fallon, Amerika Serikat, terindikasi akan dicuri.

Jika Tak Ada Lockdown, Jumlah Angka Kematian Lebih Tinggi

Konfrontasi - Andai kebijakan pembatasan wilayah atau lockdown tidak diterapkan saat pandemi virus corona.

Hingga 13 Juni 2020, lebih dari 7,7 juta orang di seluruh dunia terinfeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19.

Melansir Science Alert, Sabtu (13/6/2020), penghitungan tersebut berdasarkan studi yang dilakukan oleh Global Policy Laboratory di Universitas California, Amerika Serikat.

Tim meneliti langkah pencegahan penyebaran virus corona di enam negara yakni AS, China, Korea Selatan, Italia, Perancis, dan Iran.

Pencegahan yang dilakukan termasuk di dalamnya larangan bepergian, penutupan sekolah, penutupan layanan keagamaan, pembatalan acara, dan perintah untuk tinggal di rumah.

Kemudian peneliti membuat skenario penyebaran virus corona jika suatu negara tidak melakukan pencegahan sama sekali.

Hasilnya, bila Amerika Serikat tidak membatasi pergerakan dan interaksi orang, diperkirakan jumlah kasus infeksi di negara tersebut bertambah dua kali lipat setiap dua hari sekali dari 3 Maret-6 April 2020.

Itu berarti kasus infeksi di Amerika Serikat akan mencapai lebih dari 60 juta orang. Saat ini negara adidaya tersebut telah melaporkan 2 juta kasus positif Covid-19.

Di sisi lain, kebijakan lockdown yang dilakukan China dari 16 Januari-5 Maret 2020 dinilai sukses. Setidaknya menyelamatkan 285 juta orang dari infeksi virus corona, yang saat ini melaporkan sekitar 84.000 ribu kasus.

Pembatasan wilayah di China dimulai dari Wuhan, daerah yang menjadi sumber wabah. Sebuah studi menyebut, bahwa langkah penguncian atau lockdown di Wuhan pada 23 Januari 2020 telah menyelamatkan puluhan ribu orang di Provinsi Hubei.

Sebab tanpa lockdown diperkirakan kasus di Hubei 65 persen lebih tinggi dari sekarang.

Tanpa kebijakan pembatasan wilayah sejumlah negara lainnya pun diperkirakan mengalami lonjakan kasus. Iran diperkirakan mencapai 54 juta kasus, Italia 49 juta kasus, Perancis 49 juta kasus, dan Korea Selatan 38 juta kasus.

"Penerapan kebijakan lockdown pada keenam negara secara signifikan dan substansial telah memperlambat pandemi.

Meski demikian, keterlambatan penerapan kebijakan akan memberikan hasil kesehatan yang sangat berbeda," tulis para peneliti.

Dengan kata lain, kecepatan sebuah negara dalam mengambil kebijakan pencegahan akan terlihat dari jumlah kasusnya.

Seperti China, yang melakukan lockdown lebih awal mampu mencegah infeksi dan angka kematian, ketimbang Amerika Serikat dan Italia yang terlambat menerapkannya.

Hasil pemodelan dari Universitas Columbia menunjukkan, jika AS menerapkan lockdown satu atau dua minggu lebih awal, maka bisa mencegah 645.000 infeksi dan 36.000 kematian.

Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Pasien Covid-19 di AS Capai 2 Juta

Konfrontasi - Harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan kembali merosot di bawah US$ 40 per barel pada Jumat 12 Juni 2020 pukul 03:58 GMT (10:58 WIB). Minyak berjangka acuan internasional Brent turun 1,5 persen menjadi US$ 37,97 per barel.

Di saat yang sama, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih drastis. Harga minyak WTI jatuh hampir 2 persen menjadi US$ 35,69 per barel.

Kerusuhan Meluas di AS, China: Pemandangan yang Indah untuk Dilihat

Konfrontasi - Media milik Pemerintah China pada akhir pekan ini membidik Pemerintah AS karena banyaknya kota di negeri Paman Sam dicekam aksi protes dan kerusuhan yang dipicu oleh kematian pria berkulit hitam, George Floyd. Media itu lantas membandingkan kerusuhan di AS tersebut dengan gerakan prodemokrasi di Hong Kong.

Beijing memang telah lama dibuat geram oleh kritik yang datang bertubi-tubi dari Barat, terutama Washington DC, atas penanganan protes prodemokrasi yang mengguncang Hong Kong tahun lalu.

Donald Trump Hapus Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Ribuan Mahasiswa Kena Imbasnya

Konfrontasi - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai memerintahkan untuk menghapus perlakuan khusus bagi Hong Kong.

Ini merupakan respons atas upaya China memberlakukan undang-undang (UU) keamanan nasional di wilayah semi-otonomi tersebut.

Menurut dia, China melanggar otonomi Hong Kong dengan memberlakukan UU Keamanan.

"Kami akan mengambil tindakan untuk mencabut perlakuan istimewa Hong Kong," katanya, seraya menambahkan, AS juga akan menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang dianggap bertanggung jawab.

Pages